Jumat, 24 Oktober 2014 23:08
Caring by Sharing | Kompas.com

SEKOLAH INKLUSI

Manajemen Sekolah Inklusi Masih "Memble"

Penulis : Riana Afifah | Selasa, 28 Juni 2011 | 18:49 WIB
Dibaca: -
Komentar: -
|
Share:
shutterstock
Ilustrasi: Saat ini yang menjadi kendala berkembangnya sekolah inklusi adalah pengelolaan manajemen sekolah ini dan kurangnya tenaga kerja yang memiliki kapabilitas khusus.

JAKARTA, KOMPAS.com - Saat ini jumlah sekolah inklusi untuk tingkat sekolah dasar (SD) di DKI Jakarta sudah mencapai 164 sekolah. Kepala Dinas Pendidikan DKI Jakarta Taufik Yudi Mulyanto mengungkapkan, nantinya sekolah-sekolah inklusi itu akan dilebarkan lagi.

"Sudah bertambah sekolah inklusi di Jakarta, namun masih terkendala beberapa hal hingga saat ini," kata Taufik ketika konferensi pers mengenai Penerimaan Peserta Didik Baru di Jakarta, Selasa (28/6/2011).

Menurutnya, saat ini yang menjadi kendala berkembangnya sekolah inklusi ini adalah pengelolaan manajemen sekolah ini. Selain itu, tenaga kerja yang memiliki kapabilitas dalam mengajar anak-anak berkebutuhan khusus (ABK) masih dinilai kurang.

"Berkebutuhan khusus itu kan macam-macam. Untuk yang tuna netra, low vision atau tuna rungu itu butuh tenaga khusus juga, itu pun masih minim," ungkap Taufik.

Kendati demikian, ia menyatakan bahwa setiap tahun jumlah sekolah inklusi akan bertambah. Ia menuturkan, untuk mengembangkan sekolah ini anggarannya sudah disiapkan. Memang, lanjut Taufik, keberadaan sekolah inklusi masih belum menjadi andalan untuk melayani ABK.

Ia menambahkan, masih sedikitnya jumlah sekolah inklusi dan lokasinya yang jauh agak menyulitkan para siswa ABK. Oleh karena itu, selain perlunya ditambah jumlah sekolah, guru pembimbing khusus bagi anak-anak tersebut supaya tidak ketinggalan dalam pembelajaran juga harus dipertimbangkan. Dengan demikian, pihak sekolah mampu mengidentifikasi para ABK dan memberikan perlakuan terbaik terhadap mereka.


Editor :
Latief

IDEALKAH

BODY MASS INDEX ANDA?


Berat Badan Kg
Tinggi Badan Cm
Usia Tahun
Jenis Kelamin Perempuan Laki-laki
Level Aktivitas
 
  *Ukuran ini tidak bisa diterapkan pada ibu hamil dan menyusui