Minggu, 20 April 2014 01:59

PSIKOLOGI - ARTIKEL

Bahaya Balita Gemar Memainkan iPad

Penulis : Lusia Kus Anna | Rabu, 26 Oktober 2011 | 08:07 WIB
Dibaca: -
Komentar: -
|
Share:

Kompas.com - Anak-anak zaman sekarang memang lebih piawai menggunakan aneka gadget canggih. Tak heran jika belum genap berusia 2 tahun pun si kecil sudah gemar memainkan berbagai aplikasi dan game seru di iPad.

Aplikasi-aplikasi khusus untuk balita pun kini banyak tersedia, misalnya saja Baby Touch:Peekabo atau Fish Games, yang rata-rata mengklaim bermuatan edukatif. Beberapa bahkan menjanjikan aplikasinya bermanfaat untuk meningkatkan koordinasi tangan dan mata serta kemampuan fokus bayi hingga balita usia 2,5 tahun.

Para orangtua pun tak khawatir membiarkan buah hati mereka asyik mengutak-atik gadget karena dianggap bisa membuat anak mereka cepat pintar. Keasyikan anak-anak terhadap gadget juga dimanfaatkan orangtua untuk sejenak beristirahat atau melakukan hal lain. Istilahnya adalah digital babysitter.

Akan tetapi, seaman itukah iPad untuk perkembangan anak-anak? Baru-baru ini para ahli dari The American Academy of Pediatrics (AAP) kembali menyarankan para orangtua untuk membatasi waktu balita mereka, terutama yang masih berusia kurang dari 2 tahun, di depan layar televisi.

Dalam laporan yang dipublikasikan, para peneliti menemukan waktu menonton TV yang terlalu lama akan mengganggu "waktu bicara" antara anak dan orangtua, yang mana sangat penting untuk perkembangan bicara anak.

Apakah efek terlalu lama menonton TV sama dengan memainkan iPad? Hal itu memang belum jelas benar. "Kami belum punya datanya," kata Dr.Ari Brown, dokter anak dan anggota AAP.

Efek yang timbul mungkin tergantung pada cara penggunaan. Menurut Tanya Altmann, dokter anak dan penulis buku Mommy Calls, panduan untuk anak ketika menggunakan iPad seharusnya sama seperti panduan untuk televisi.

"Pada dasarnya aplikasi di iPad adalah versi terbaru dari video game yang sering kita mainkan di masa kanak-anak. Karena itu mungkin tidak banyak manfaatnya untuk anak," paparnya.

Selain itu aplikasi di gadget canggih itu dianggap tidak bisa mengajarkan anak keterampilan krusial seperti yang bisa mereka dapatkan dari dunia tiga dimensi.

"Memang ada aplikasi game membangun balok-balok, tapi tentu kita tidak ingin ini menggantikan yang nyata. Bayi harus belajar dari dunia nyata," kata Dr.Dimitri Christakis, direktur Center for Child Health, Behavior and Development, di Seattle, AS.

Kendati para ahli kurang sepakat akan manfaat balita bermain gadget, namun untuk anak yang lebih besar terbukti aplikasi games edukatif itu bisa berdampak positif. Dalam studi yang dilakukan Departemen Pendidikan AS terbukti aplikasi Martha Speaks di iPhone meningkatkan kosa kata anak usia 3-7 tahun sampai 31 persen dalam dua minggu.

Rose Luckin, profesor dari University of London, menemukan gadget seperti tablet PC bisa meningkatkan pusat interaksi sosial kepada proses belajar. Ia menemukan anak usia 5-6 tahun yang mencatat aktivitas harian di sekolahnya pada tablet PC dan menunjukkannya pada orangtua, cenderung belajar lebih baik.

"Manfaat positif dari teknologi seperti iPad adalah bisa meningkatkan fokus komunikasi antara orangtua dan anak," katanya.

Selain itu menurut Luckin, penggunaan yang tidak berlebihan merupakan kunci penting. "Jika anak hanya duduk berjam-jam bermain iPad sendirian, saya tidak yakin ia akan dapat manfaat. Alat ini bisa meningkatkan interaksi orangtua dan anak, bukan justru menjauhkan," paparnya.

Jika orangtua hanya punya waktu terbatas dengan anaknya, para ahli menyarankan untuk mematikan gadget-gadget itu di rumah daripada membiarkan anak mereka asyik sendirian.

"Kita tahu orangtua tidak bisa 24 jam selalu bersama nak. Tetapi pada waktu-waktu tertentu yang dibatasi kita bisa membiarkan anak mengeksplorasi permainannya sendiri. Kita tidak bisa membiarkan ia distimulasi eksternal setiap saat," kata Altmann.

 


Sumber :
The Times

IDEALKAH

BODY MASS INDEX ANDA?


Berat Badan Kg
Tinggi Badan Cm
Usia Tahun
Jenis Kelamin Perempuan Laki-laki
Level Aktivitas
 
  *Ukuran ini tidak bisa diterapkan pada ibu hamil dan menyusui