Jumat, 1 Agustus 2014 00:35

Akupuntur Memperbaiki Ereksi

Minggu, 15 Januari 2012 | 18:01 WIB
Dibaca: -
Komentar: -
|
Share:
shutterstock
Ilustrasi akupuntur

KOMPAS.com - Malam pertama yang seharusnya indah malah kacau bagi Edu (27 tahun) dan pasangan. Pria ini tak sabar memulai malam pengantin itu, sebaliknya sang istri memasukinya dengan rasa cemas.  Keduanya mungkin tak memiliki pengetahuan seksual yang memadai.  Akhirnya, malam pertama pun sangat tidak memuaskan.

Peristiwa itu meninggalkan trauma bagi sang istri, dan ia kemudian sering menolak berhubungan intim. Lama kelamaan Edu kian tertekan, kehilangar dorongan seksual (libido). Akibatnya, ia mengalami keluhan GFS (gangguan fungsi seksual).

Gangguan dorongan seksual seperti yang dialami Edu, menurut DR. Dr. Koosnadi Saputra, Sp.Rad, MD, Ph.D, menimpa sekitar 15 persen pria dewasa. Sekitar 10 persennya berujung pada disfungsi ereksi (DE). Semakin bertambah umur, kasus DE semakin sering terjadi. Pada pria berumur di atas 40 tahun, lebih dari setengahnya (52 persen) mengalami DE, sedangkan 26-40 persen pria mengalami gangguan ejakulasi dini (ED).

"Lain pria, lain pula wanita. Gangguan seksual pada kaum Hawa lebih banyak berupa gangguan orgasme, atau tidak puas dalam hubungan seksual," ungkap spesialis radiologi dan ahli akupuntur dari Perhimpunan Dokter Akupuntur Medis Indonesia ini.

Penyebab GFS sangat kompleks, bisa fisik serta psikis, atau kombinasi keduanya. Penyakit fisik seperti diabetes, penyakit jantung koroner, gangguan sistem saraf urogenitalis, radang saluran kencing, gangguan hormon, bisa menyebabkan GFS. Pemicu psikis seperti stres, cemas, kurang percaya diri, trauma pada pengalaman lalu, dan komunikasi yang buruk dengan pasangan.

Ginjal Lemah

Menurut ilmu akupuntur, DE disebabkan gangguan fungsi ginjal, hati, dan limpa. Meridian ginjal dan kandung kemih melewati area yang berkaitan dengan urogenitalis, sehingga memengaruhi fungsi alat-alat urogenitalis, termasuk sistem reproduksi, testis, dan ovarium.

Ginjal juga memengaruhi sistem saraf, otak, dan sumsum tulang belakang, sehingga sangat berkaitan dengan emosi takut dan depresi. "Karena itu, ginjal yang lemah sering menimbulkan DE dan ejakulasi dini," ujar dokter di Sentra Rehabilitasi Medik Meridien Surabaya ini.

Fungsi hati berkaitan dengan sirkulasi darah, sehingga berpengaruh pada bioenergi tubuh. Perjalanan meridian hati melingkari genitalia eksternal. Kontraksi tendon dan otot juga dipengaruhi kerja hati.

"Untuk ereksi yang kuat, perlu darah dan energi untuk mengisi penuh rongga-rongga tempat pembuluh darah. Juga penting ada dukungan kerja tendon dan otot sekitar penis yang memungkinkan terjadinya ereksi dengan baik," papar staf pengajar di Academy Acupuncture of Surabaya ini.

Fungsi limpa mengatur transportasi sari makanan dan mengubahnya menjadi darah dan bioenergi, serta memengaruhi kerja otot-otot dan saluran pencernaan. Meridian lambung yang berkaitan dengan meridian limpa melewati area pangkal paha, dan berkaitan dengan genitalia.

"Bila fungsi limpa terganggu, darah dan energi yang diperlukan untuk hubungan seks pun akan terganggu," ujarnya.

Testosteron Meningkat

Seksualitas itu proses yang kompleks, terkait dengan perilaku yang terkoordinasi oleh sistem endokrin, saraf, pembuluh darah, dan psikogenik. Peningkatan usia, menopause dan andropause membuat prevalensi wanita dan pria yang mengalami disfungsi seksual semakin besar.

Akupuntur yang memiliki efek endokrinal dan neurologinal dapat digunakan untuk mengatasi DE. Teknik tusuk jarum mampu mengatasi DE pada pria. Badan Penelitian dan Pengembangan Pusat Humaniora Kebijakan Kesehatan dan Pemberdayaan Masyarakat telah meneliti dan membuktikannya.

Berdasarkan penelitian kedokteran nuklir, akupuntur pada tungkai (kaki) bisa mencapai organ testis dengan menyuntikkan bahan radioaktif. "Dengan dosis sangat kecil, radioaktif bisa sampai ke testis secara benar. Radioaktif yang digunakan technetium pertechnetate, yaitu sinar gamma," katanya.

Hipotesis sementara, akupuntur pada kaki bisa meningkatkan testosteron. Jika testosteron tidak naik pun ternyata ereksi bisa naik. "Jalurnya kan dua, bisa hormon bisa saraf. Hormonnya tidak naik, ternyata sarafnya bisa naik," ungkapnya.

Dalam penelitian itu tim Dr. Koosnadi melibatkan 40 pria usia 50-70 tahun, dengan DE atau testosterone deficiency syndrome. Hasilnya, lebih dari 60 persen partisipan berhasil disembuhkan.

"Terapi ini juga bisa dipakai untuk memperbaiki kesuburan pria dan wanita," katanya.

Cara kerja terapi akupuntur, yakni merangsang saraf-saraf tubuh sesuai letaknya, sehingga membantu kelancaran peredaran darah. Tujuannya untuk menyeimbangkan kembali apa yang salah pada sistem saraf manusia.

Terapi akupuntur untuk DE terdiri atas 6-30 kali kedatangan dengan jarak waktu 2-3 kali seminggu. "Untuk orang normal, tanpa hipertensi, jantung, atau penyakit lain, biasanya setelah 2 sampai 3 kali terapi, atau maksimal 6 kali kedatangan, sudah tampak perbaikan," sebut anggota Laboratorium Penelitian dan Pengembangan Pelayanan Akupuntur, Pusat Humaniora Kebijakan Kesehatan dan Pemberdayaan Masyarakat, Badan Litbangkes Kemenkes RI ini.

la mewanti-wanti agar kita hati-hati memilih terapis. Pasalnya, ada saja praktisi yang melakukan akupuntur di titik-titik yang tak karuan. (Saptorini/Putri)


Sumber :
Tabloid Gaya Hidup Sehat
Editor :
Asep Candra

IDEALKAH

BODY MASS INDEX ANDA?


Berat Badan Kg
Tinggi Badan Cm
Usia Tahun
Jenis Kelamin Perempuan Laki-laki
Level Aktivitas
 
  *Ukuran ini tidak bisa diterapkan pada ibu hamil dan menyusui