Selasa, 26 Mei 2015

Health

Mencari Alternatif Dalam Hidup

Rabu, 30 Mei 2012 | 09:47 WIB

 "Pokoknya dok,kalau saya tidak mendapatkan itu, saya gak akan bahagia sepanjang umur saya. Mana bisa saya begitu, saya kan gak  terbiasa dok hidup seperti ini, dulu apa-apa selalu ada yang melayani dan menyediakan, sekarang kok rasanya apa-apa semua harus saya sendiri. Kayaknya gak ada yang mau mengerti keinginan saya itu apa!"

Kata-kata yang saya tuliskan di atas sering kali keluar dari mulut pasien saat konsultasi. Pasien merasa kesulitan untuk beradaptasi dengan hal-hal yang berubah dalam kehidupannya atau sulit mencari hal-hal yang bisa menyenangkan dirinya saat ini. Intinya pasien merasa harapan-harapan hidupnya semua tidak ada yang tercapai, semua berpaling darinya.

Kondisi inilah yang memicu stres pada pasien. Hal-hal yang diharapkan namun kemudian tidak tercapai itu yang menjadi stresor dalam kehidupan pasien. Pasien kesulitan untuk menerima bahkan tidak mau menerima kenyataan itu. Rasanya tidak ada yang adil dalam kehidupan ini karena semuanya seperti tidak berpihak pada pasien. Benarkah demikian?

Mencari Alternatif

Saya senang sekali menonton film aksi di televisi. Dulu saat saya masih SD dan SMP saya senang film The-A Team, suatu kelompok elit eks Ranger yang menjadi buronan federal atas kesalahan yang tidak mereka lakukan. Apa yang saya senangi adalah mereka mempunya rencana yang matang dalam mempersiapkan aksi, selain itu juga mereka selalu siap dengan back-up plan alias rencana cadangan. Hannibal si Kolonel selalu punya alternatif jika salah satu cara dan rencana tidak berhasil.

Dalam hidup juga kita harusnya demikian. Kita perlu fleksibel dalam mencari alternatif dalam kehidupan kita. Ketika satu rencana gagal maka kita perlu segera mencari alternatif baru untuk terus fokus dalam mencari jalan keluar. Ketika harapan gagal dicapai, maka mungkin kita bisa mencari alternatif harapan lain yang bisa membuat kita bahagia. Jangan terpaku pada apa yang kita tidak bisa raih tetapi coba untuk bisa melakukan sesuatu untuk mencari harapan baru.

Segala Sesuatu Itu Tidak Kekal

Ketika pasien mengatakan kepada saya bahwa cara dia bahagia adalah dengan jalan yang satu-satunya itu, maka saya mengatakan bahwa hal itu hanya akan membuatnya menderita lebih jauh. Sebagai manusia kita selayaknya tidak hanya menggantungkan kebahagiaan kita pada suatu hal tertentu, apalagi kita tahu hal tersebut bisa berubah dan hilang. Menggantungkan kebahagiaan kepada sesuatu yang bisa berubah dan hilang hanya akan mempersulit hidup ini.

Karena artinya ketika hal tersebut hilang atau berubah, maka kebahagiaan kita juga bisa hilang dan berubah. Perlu adanya pemahaman bahwa baiknya kita menggantungkan kebahagiaan kita pada diri kita sendiri. Kebahagiaan bersifat persepsi, artinya apa yang ada dan kita rasakan itu adalah sangat bersifat subyektif. Hal yang membuat bahagia seseorang belum tentu membuat bahagia orang lain. Pengalaman hidup, lingkungan dan kepribadian orang tersebut akan mempengaruhi kebahagiaan yang dia alami.

Fleksibel dan Dinamis

Kita seharusnya menjadi orang yang fleksibel dalam memandang dan menjalani hidup ini. Terkadang saya melihat rasa tidak bahagia dalam diri kita lebih disebabkan karena kita tidak fleksibel dalam menjalani hidup ini. Kita terlalu kaku dan tidak bisa beradaptasi dengan perubahan. Inilah yang membuat manusia sering terluka. Karena sesuatu yang kaku akan lebih mudah patah ketika mendapatkan tekanan daripada yang fleksibel.

Dinamis adalah ciri kehidupan manusia. Selalu berubah dan berubah. Maka jika kita merasa tidak mampu bertahan dan beradaptasi dengan perubahan, kita akan menjadi manusia yang selalu menderita. Kita selayaknya memahami bahwa diri kita berubah, orang lain berubah dan lingkungan pun berubah. Memahami hal ini dengan baik akan membawa kita pada kebijaksanaan dan pengertian bahwa hal tersebut adalah sesuatu yang manusiawi dan sepatutnya kita menerimanya. Semoga kita selalu menjadi orang-orang yang fleksibel dan mampu mencari alternatif dalam hidup.

Salam Sehat Jiwa !

Editor : Asep Candra