Selasa, 2 September 2014 18:33

BLOG EXPERTS KOMPASIANA / ARTIKEL

Julianto Simanjuntak


Julianto Simanjuntak, konselor dan mediator keluarga. Penulis buku-buku konseling aktual. Tips harian dan free Ebook silakan follow @PeduliKeluarga, Website : http://www.juliantosimanjuntak.com

Hangatkan Cinta Sebelum Basi

Penulis : Julianto Simanjuntak | Sabtu, 4 Agustus 2012 | 01:29 WIB
Dibaca: -
Komentar: -
|
Share:

Cinta yang baru bagaikan sebuah api, sungguh cantik, sungguh panas, dan bergelora. Namun itu tetap hanya sebuah cahaya yang berkelap kelip. Tapi Cinta dari hati yg lebih dewasa dan berdisiplin bagaikan batubara, membara tidak terpadamkan (Henry Ward Beecher)

Setiap hari kita makan nasi, bahan makanan yang tahan satu dua hari, yang tetap enak asal dihangatkan. Demikian juga cinta dalam perkawinan. Cinta adalah makanan jiwa yang perlu selalu dihangatkan. Cinta dapat "tawar". Cinta bahkan bisa menjadi "basi". Menjadi sangat tidak enak bahkan menjijikkan bagi yang menikmatinya. Jangan heran angka perceraian meningkat, tidak tahan dengan cinta yang sudah basi tadi.

Entahlah. Banyak orang yang menikah hanya repot dan sok sibuk di persiapan resepsi. Pacaran pun bagi sebagian orang seadanya saja. Pacaran jarak jauh dan tidak saling kenal juga tak apa-apa. Ketemu satu dua bulan di facebook atau twitter langsung jadian juga Oke. Pernikahan hanya sebagai status sosial saja. Itulah yang penulis amati selama memberi konseling pranikah dan menjadi terapis perkawinan. Namun jika mereka abai menjaga relasi cintanya dalam pernikahan, alias lalai "menghangatkan" cinta mereka, maka cepat atau lambat cinta itu menjadi basi.

Sungguh alangkah baiknya, sebelum menikah, cinta dan emosi kalian matang. Penuh pertimbangan. Sebab menikah artinya tinggal bersama seumur hidup. Bukan seperti baju, nggak suka dilepas. No! Juga bukan suatu hal yang coba-coba, tidak!

Di ruang konseling kami, jelas terlihat masalah pernikahan tidak terjadi di dalam perkawinan. Tapi terjadi jauh sebelum menikah. Yakni karena minimnya pengenalan satu sama lain, cinta yang kenak-kanakan, kecerdasan emosi yang rendah, serta teladan (pohon keluarga) perkawinan Orangtua yang buruk. Itu semua perlu dikenali dan dipersiapkan  dengan baik. Apakah kalian cukup lentur, dapat beradaptasi dan rela mengampuni kesalahan pasangan.

Empat bahan dasar

Menurut penelitian soal keintiman, Pria  dan wanita berbeda dalam membina keintiman atau menghangatkan cinta. Secara umum, wanita lebih  mampu membina keintiman daripada kaum pria.

Hanya saja, keduanya berbeda. Para wanita lebih mampu membina keintiman secara  emosi yang mendalam daripada pria. Mereka cenderung membagikan (cerita) perasaannya sehubungan dengan pengalamannya. Sedangkan pria cenderung mengangatkan cintanya dengan membagikan pengalaman atau aktifitas

Keintiman atau kehangatan cinta perlu dilatih dan ditumbuhkan. Caranya adalah dengan  merawat dan mengembangkan keintiman. Jangan lupa, survei membuktikan keintiman berkaitan dengan kesehatan kita.

Ada empat bahan dasar untuk menghangatkan cinta.

Pertama, adalah waktu yang cukup bersama pasangan.

Kedua, bisa jadi  teman bicara yang menyenangkan dengan pasangan.

Ketiga, punya selera  humor dan cakap bercanda.

Terakhir, senang membantu ketika pasangan membutuhkan pertolongan.

Intinya selalu  memikirkan bagamana agar pasangan senang dan puas.

Untuk menghangat cinta berarti anda harus peduli, bersedia berbagi dan menyatakan diri pada pasangan tanpa rasa takut atau berpura-pura.  Ada kerelaan memelihara pasangan dan siap memproteksi kebutuhan fisiknya pasangan dengan baik.

Dalam hal ini termasuk berkorban bagi pasangan, membela pasangan saat dia terancam. Semua ini akan memberikan pasangan Anda rasa aman yang paling mendasar.

Memelihara keintiman, menghangatkan cinta

Ada lima bentuk keintiman yang perlu dihangatkan dalam relasi pernikahan :

Pertama, keintiman emosi. Ini merupakan pengalaman kedekatan secara perasaan, kemampuan membagikan perasaan secara terbuka, dan mendapat perhatian penuh dari pasangan. Wujudnya adalah kerinduan untuk bersama, ada kesukaan ngobrol dan jalan berdua. Intinya, sediakan waktu bermesraan secara emosi.

Kedua, keintiman sosial. Pengalaman memiliki teman dan kegiatan sosial bersama-sama. Wujudnya, tidak mudah cemburu. Sebaliknya mau akrab bergaul dengan sahabat pasangan Anda. Menyediakan waktu bertemu dengan sahabat masing-masing.

Ketiga, keintiman seksual (bagi suami-istri). Ini adalah pengalaman menyatakan afeksi, sentuhan, kedekatan secara fisik dan aktivitas seksual. Wujudnya adalah punya rasa tertarik pada tubuh pasangan, mengalami orgasme dan bebas dalam mengkomunikasikan masalah seksual. Tipsnya, sediakan waktu berkala menikmati hubungan seksual dengan pasangan Anda sesuai kebutuhan dan kesepakatan, juga kreatif melakukannya.

Kempat, keintiman rekreasional. Pengalaman membagi kesukaan lewat hobi, olahraga, dan rekreasi bersama. Kemampuan menikmati waktu senggang bersama. Rencanakan berlibur setidaknya dua kali setahun, yang menyenangkan bagi kedua belah pihak termasuk anak-anak.

Kelima, keintiman spiritual. Kemampuan menikmati persekutuan bersama secara rohani, bertumbuh secara iman serta saling mendoakan. Selain menikmati iman yang utuh, perlu saling menguatkan saat pasangan dalam kondisi tertekan dan banyak pergumulan. Anda bisa  menjadi teman sharing (curhat) menyenangkan dan menguatkan

Jika Anda bisa membangun dan merawat keintiman di atas, menghangatkan cinta secara rutin, maka pernikahan itu asyik banget. Mana berani anda meninggalkan pasangan (bercerai). Rugi besar.

Dengan kehangatan cinta itu memberikan kita  kenikmatan dan kepuasan. Juga kegembiraan, kedamaian, ketentraman, dan minim stres.

Sebaliknya, jika kita tidak merawat cinta, membiarkannya menjadi tawar dan “basi” maka itu dapat membawa hasil negatif. Antara lain, mudah sakit, banyak keluhan fisik dan psikis. Perkawinan  tanpa keintiman dan kehangatan cinta menimbulkan ketegangan dan kesulitan yang mempengaruhi kesehatan hingga  karir Anda.

Mau cinta yang hangat atau basi…?


Editor :
Asep Candra

IDEALKAH

BODY MASS INDEX ANDA?


Berat Badan Kg
Tinggi Badan Cm
Usia Tahun
Jenis Kelamin Perempuan Laki-laki
Level Aktivitas
 
  *Ukuran ini tidak bisa diterapkan pada ibu hamil dan menyusui