Sabtu, 25 Oktober 2014 21:30
Caring by Sharing | Kompas.com

NEWS & FEATURES / HEALTH CONCERN - ARTIKEL

Pikir Lagi Sebelum Lakukan 5 Tes Medis Ini

Penulis : Natalia Ririh | Senin, 3 September 2012 | 11:44 WIB
Dibaca: -
Komentar: -
|
Share:
Shutterstock
Ilustrasi rontgen gigi

KOMPAS.com - Menjalani tes darah untuk mendeteksi penyakit mungkin tidak berbahaya bagi Anda. Namun, hitunglah berapa kali Anda melakukan tes medis dalam setahun yang mungkin tidak benar-benar Anda perlukan. Juga, berapa biaya yang Anda keluarkan untuk membiayai tes tersebut.

Melakukan pemeriksaan medis secara rutin adalah tindakan preventif. Namun menurut ahli jantung dari Universitas California, San Fransisco, Profesor Rita Redberg, MD, prosedur pemeriksaan kesehatan juga menimbulkan risiko seperti adanya paparan radiasi saat melakukan CT scan, belum lagi ketakutan akan jarum suntik yang sebenarnya tak perlu dicemaskan .

Menurut Redberg, dokter akan memberikan rekomendasi serangkaian tes dengan keyakinan bahwa tes tersebut tidak akan menyakiti pasien dan dapat memberi informasi yang lebih akurat. Namun, menurut spesialis penyakit dalam Kenny Lin, MD, dari Universitas Georgetown, sebagai pasien Anda juga dapat mempertimbangkan menolak tes kesehatan yang dirasa tidak perlu.

Untuk itu, sebelum melakukan pemeriksaan, ketahuilah lebih dulu tujuan tes tersebut , resikonya, serta apa langkah selanjutnya jika hasilnya abnormal. Berikut ini adalah lima jenis pemeriksaan medis yang perlu diketahui agar Anda terhindar dari pemeriksaan kesehatan yang tidak perlu.

1. Tes EKG

Dokter bakal menyarankan tes ini untuk mendeteksi potensi gangguan jantung yang tersembunyi. Kemudian, hasil tes akan direkomendasikan ke dokter ahli jantung.

Anda tidak membutuhkan tes ini jika Anda tidak memiliki gejala sakit jantung. Menurut U.S. Preventive Services Task Force, tidak ada bukti bahwa tes EKG akan melindungi diri dari serangan jantung dan membuat Anda hidup lebih lama. Dr Redberg mengatakan, banyak orang sehat memiliki kelainan kecil dalam jantung. Tapi, itu tak berarti Anda memiliki penyakit jantung.

Tes ini bisa Anda lakukan jika Anda mengalami gejala sakit jantung seperti nyeri di dada. Atau, riwayat keluarga menempatkan Anda pada risiko tinggi mengidap penyakit jantung.

2. Tes rontgen  atau scan MRI untuk nyeri punggung bawah

Tes ini direkomendasikan oleh dokter untuk menyakinkan Anda bahwa tidak ada sesuatu masalah pada punggung. Dr. Lin mengatakan, Anda tidak membutuhkan tes ini karena secara umum hasil tes tidak ada hubungannya dengan nyeri punggung. Rasa nyeri pada punggung kebanyakan disebabkan  karena otot tegang. Nantinya, otot akan membaik dengan sendirinya.

Anda boleh mengambil tes ini jika rasa nyeri di punggung Anda berlangsung lebih dari enam minggu. Ditambah lagi dengan gejala lainnya seperti kesemutan di kaki atau masalah kandung kemih. Jika kasusnya seperti ini, Dr. Lin mengatakan bisa jadi Anda sedang menderita penyakit yang lebih serius seperti patah tulang, hernia atau bahkan kanker.

3. Tes urine dan tes darah tahunan


Dokter biasanya akan merekomendasikan tes urin secara teratur setiap tahun untuk memeriksa infeksi pada kandung kemih, masalah ginjal atau untuk mengetahui berapa kadar kolesterol dalam darah Anda. Menurut Dr. Lin, dokter banyak cenderung merekomendasikan tes ini lebih pada kebiasaan bukan karena kebutuhan.

Anda tak membutuhkan tes ini karena tes urin sangat sensitif. Kunjungan ke urolog kadang membuang waktu dan uang. Jika kolesterol Anda normal, tidak ada manfaatnya memeriksa lebih dari sekali, setiap tiga sampai lima kali dalam setahun. Dr Lin menyatakan, anda perlu melakukan tes darah jika mengalami sejumlah gejala infeksi kandung kemih, seperti rasa sakit ketika buang air kecil.  Atau Anda perlu rutin cek darah bila sedang mengonsumsi obat kolesterol atau program diet Anda berubah secara drastis.

4. Tes rontgen gigi

Mungkin saja ada dokter gigi yang menyarankan tes ini untuk memeriksa kerusakan gigi dan penyakit gusi terutama untuk pasien baru. Anda tidak membutuhkan tes ini karena Anda bakal terkena radiasi serta berpotensi menyebabkan kanker. Menurut dokter gigi Mansur Ahmad, Ph.D, Profesor Kedokteran Mulut dan Diagnosa dari Universitas Minnesota, Anda boleh saja melakukan tes ini jika Anda memiliki gejala penyakit gusi, atau sedang menjalani pemasangan behel di spesialis ortodonti. Untuk mengurangi paparan radiasi, mintalah pelindung tiroid atau apron sebelum menjalani rontgen.

5. Tes PSA

Tes ini direkomendasikan dokter untuk mendeteksi kanker prostat. Anda sebaiknya tidak melakukan tes ini apabila belum mengenali gejalanya. Banyak ahli tidak menyetujui, tapi awal tahun ini U.S. Preventive Services Task Force memutuskan bahwa tes ini tidak menyelematkan nyawa seseorang.  Prosedur yang sifatnya invasif saat biopsi dan efeknya yang menyakitkan membuat tes ini dinilai lebih banyak risikonya dibandingkan manfaatnya bagi pria.

Bila Anda tetap ingin melakukan tes ini, lakukan berdasarkan keinginan sendiri serta konsultasi secara mendalam dengan dokter terkait risikonya. Ahli penyakit saluran kencing dari Baylor College Medice, Larry Lipshultz, MD merekomendasikan pasiennya menjalani PSA jika berusia 50 tahun, atau 40 tahun dengan peringatan serius. Tes PSA pertama tidak selalu menunjukkan hasil Anda postif kanker. Dokter mungkin akan mengulang tes PSA 6 bulan kemudian untuk membedakan hasil positif palsu.


Sumber :
Editor :
Asep Candra

IDEALKAH

BODY MASS INDEX ANDA?


Berat Badan Kg
Tinggi Badan Cm
Usia Tahun
Jenis Kelamin Perempuan Laki-laki
Level Aktivitas
 
  *Ukuran ini tidak bisa diterapkan pada ibu hamil dan menyusui