KOMPAS.com - Bagi mereka yang ingin memiliki tato temporer, memakai henna bisa menjadi alternatid cara.
Terkadang, henna juga digunakan untuk menghias tangan para wanita di hari pernikahannya.
Namun, tahukah Anda bahwa memakai henna ternyata juga bisa membahayakan kesehatan?
Baca juga: Dewi Yull Ungkap Satu Pesan pada Anak-anaknya agar Tak Membenci Ray Sahetapy Usai Bercerai
Henna telah digunakan banyak orang di berbagai negara. Biasanya, henna memiliki warna coklat atau oranye-coklat.
Henna dibuat dari daun pacar yang dikeringkan dan digiling, lalu diolah menjadi pasta.
Menggambar tato dengan henna biasanya akan bertahan sekitar dua minggu.
Baca juga: Berapa Lama Makanan Dicerna dalam Tubuh?
Butuh waktu beberapa jam agar warna hena bisa menyerap kulit. Sayangnya, henna juga bisa memicu reaksi alergi.
Sebab, beberapa produk henna seringkali ditambahkan dengan bahan kimia seperti p-phenylenediamine (PPD).
Menurut ahli dermatologi dari Cleveland Clinic, tidak semua henna bisa memicu masalah.
Baca juga: Lulus Kuliah Jadi CPNS, Ini 10 Sekolah Kedinasan Sepi Peminat
"Hena yang bisa menyebabkan reaksi alergi biasanya adalah henna yang mengandung bahan kimia tambahan agar membuat warnanya lebih gelap atau bisa menyerap ke kulit lebih cepat," ucap ahli dermatologi Christine Poblete-Lopez.
P-phenylenediamine (PPD) yang sering ditambahkan pada henna adalah alergen umum yang ditemukan pada pewarna rambut.
PPD dapat menyebabkan reaksi kulit yang berbahaya pada beberapa orang, seperti jaringan parut permanen hingga menyebabkan kematian.
Baca juga: Ungkap Kronologi Kasus Nastar Berjamur, Pemilik Clairmont: Kami Dapat Penawaran
Bahan tersebut bisa memicu efek serius seperti berikut:
Secara hukum, PPD tidak diperbolehkan dalam kosmetik yang ditujukan untuk penggunaan pada kulit.