Lasik, Operasi Tanpa Pisau

Kompas.com - 30/04/2008, 09:10 WIB
Editor

SIAPA PUN tentu mengidamkan memiliki mata sehat dan indah. Kenyataannya, banyak orang terkena gangguan refraksi mata sehingga harus memakai kacamata atau lensa kontak. Bagi penderita gangguan refraksi mata yang tinggi, pemakaian alat bantu itu menimbulkan rasa tidak nyaman dan menghambat aktivitas sehari-hari.

Dengan teknologi canggih, kini penderita gangguan refraksi mata bisa terbebas dari kacamata atau lensa kontak dengan menjalani prosedur lasik (laser-assisted in-situ keratomileusis). Terapi ini mengubah bentuk lapisan kornea sehingga bisa mengoreksi kelainan refraksi mata rabun jauh (miopi), rabun dekat (hypermetropia), atau mata silinder (astigmatisme). Terapi itu mampu mengoreksi kelainan refraksi mata dari +4 sampai -14 diopri. Mata silindris bisa dikoreksi dari -0,5 sampai -5.

Namun, tak semua gangguan refraksi mata bisa dikoreksi dengan lasik. Penderita kecekungan mata terlalu tinggi, glaukoma, mata kering, dan kelainan retina dianjurkan tidak menjalani operasi lasik. Syarat lain, pasien berusia 18 tahun ke atas, tidak sedang hamil, penglihatan stabil minimal enam bulan, tidak menderita diabetes dengan kadar gula tidak terkontrol.

Lasik konvensional memakai alat mikrokeratom, semacam pisau elektrik, untuk membuka lapisan permukaan kornea mata, kemudian sebagian lapisan kornea dihilangkan dengan laser. Lapisan permukaan kornea yang dibuka (flap) akan dikembalikan ke posisi semula.

Terapi ini dapat dilakukan pada kedua mata bersamaan. Setelah lasik, pasien kemungkinan merasa lelah, mata merah, tidak nyaman, mata seperti berpasir dan sensitif terhadap cahaya, penglihatan terasa berkabut. Gejala-gejala ini terasa selama 1-6 jam pascatindakan.

Sejauh ini tingkat keberhasilan operasi lasik konvensional mencapai 90 persen. ”Tidak semua penderita gangguan refraksi mata perlu prosedur lasik. Ini pilihan bagi pasien,” kata dokter spesialis mata dari Klinik Mata Nusantara, Hadi Prakoso, dalam Bali Ophthalmology Retreat, pekan lalu, di Jimbaran, Badung, Bali. Juga, tidak semua operasi lasik memberi hasil memuaskan. Kadang-kadang terjadi tajam penglihatan pascatindakan yang kurang atau berlebihan (under atau over correction). Ini bisa diperbaiki dengan laser tambahan setelah kondisi mata stabil atau dalam tiga bulan setelahnya.

Pasien juga bisa silau saat melihat pada malam hari. Efek samping lain adalah gejala mata kering yang akan hilang dengan sendirinya. Flap kornea bisa bergeser jika terjadi trauma pada mata, misalnya menggosok bola mata terlalu kuat. Flap akan melekat cukup kuat setelah seminggu.

Sejauh ini, menurut ahli bedah refraktif, dr Brian Boxer Wachler, dalam situs www.allaboutvision.com, komplikasi dalam prosedur lasik konvensional biasanya terkait pembuatan flap yang salah. Pembukaan lapisan permukaan kornea mata kemungkinan terlalu tipis.

Sejumlah studi yang dipublikasikan American Journal of Ophthalmology menyebutkan, komplikasi pembuatan flap berkisar 3-5,7 persen dari total jumlah pasien lasik. Komplikasi terkait pada pembuatan flap antara lain bentuk flap tidak normal, infeksi mata—akibat ahli bedah kurang berpengalaman.

Intralase lasik

Halaman:

Video Pilihan

26th

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar dan menangkan e-voucher untuk 90 pemenang!

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar di artikel lainnya
Close Ads
Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.