Sumanto Ditemani 14 Caleg Stres

Kompas.com - 19/04/2009, 07:51 WIB
Editor

PURBALINGGA, KOMPAS.com — Hari pencontrengan Pemilu Legislatif, 9 April, telah berlalu. Namun, kisah sedih, khususnya para caleg yang stres gara-gara tidak bisa duduk di kursi Dewan, semakin hari semakin bertambah. Seperti halnya di  Balai Rehabilitasi Mental di Desa Bungkanel, Kecamatan Karanganyar, Purbalingga (Jateng), kini menerima kembali lima caleg stres. Hingga saat ini, teradapat 14 caleg stres yang dirawat dan tinggal bersama manusia kanibal Sumanto.

“Saat ini sudah ada 14 caleg dan tim sukses caleg yang depresi akibat pemilu dan dirawat di tempat kami. Ada tiga orang lagi yang sudah memesan dan akan segera datang. Yang jelas, kamar kami masih mencukupi karena ada 25 kamar yang disiapkan,” kata pengelola Balai KH Supono Mustajab, Sabtu (18/4).

Supono mengatakan, meski kamar yang disiapkannya masih cukup, dia berharap  jumlah caleg stres tidak terus bertambah. “Mudah-mudahan saja jumlah caleg stres tidak bertambah lagi. Kasihan mereka,” kata Kiai Supono.

Terhadap pasien spesial ini, Supono yang juga menjadi caleg di DPRD Purbalingga, berniat akan membebaskan biaya pengobatannya. Hal itu karena pertimbangan kemanusiaan. “Mereka sudah habis uang banyak untuk nyaleg. Sebagian uang itu adalah hasil utang sana-sini yang akan dikembalikan kalau jadi. Tetapi ternyata mereka tidak jadi,” kata Supono yang belum mengetahui apakah dirinya lolos caleg atau tidak.

Namun, Supono menegaskan, yang digratiskan hanya akomodasi dan tempat selama menjalani perawatan. Sementara untuk biaya obat dan jasa dokter tetap harus dibayar. Sebab, Supono mengaku tidak bisa membuat obat maupun melakukan pengobatan secara medis sendirian.

Para pasien khusus ini berasal dari berbagai daerah. Ada yang dari Jawa Barat, Jawa Tengah, Jawa Timur, hingga Kalimantan dan Sumatera. Makanya ketika TV swasta ramai-ramai menayangkan wajah mereka yang dirawat di Wisma Sumanto—demikian julukan tempat rehabilitasi itu—keluarga mereka komplain kepada Supono.

“Mereka malu karena masyarakat jadi tahu keluarganya yang nyaleg tidak jadi, ternyata stres dan dirawat di sini. Mereka komplain mengapa saya mengizinkan wartawan mengambil gambar. Mereka malah saya salahkan karena ketika mengantar pasien tidak bilang kalau pasien itu adalah caleg,”ujarnya.

Sebagian besar keluarga yang datang saat mengantarkan si caleg gagal itu hanya mengatakan bahwa pasien depresi dan tidak menjelaskan penyebabnya. Kedok itu terbuka ketika si pasien berteriak-teriak sendiri di kamarnya seolah sedang kampanye di atas panggung terbuka.

“Tentu saja hal ini menarik perhatian. Setelah pasien saya tanya, dia mengaku menjadi caleg. Ada yang pintar ngomong tentang politik, ada juga yang hanya mengumbar senyum, tetapi ada juga yang bawaannya marah melulu dan seperti mau mengajak berkelahi siapa pun yang ada di depannya,” ujar Supono.

Pasien yang marah-marah dan berpotensi mengamuk terpaksa dimasukkan di ruangan khusus berjeruji. Tujuannya agar dia tidak melukai pasien lain, keluarganya, atau petugas balai rehabilitasi. Setelah mendapat penanganan medis maupun rohani selama beberapa hari, mereka kemarin sudah nampak tenang. Joko, pasien asal Wonosobo (Jateng) yang mengaku caleg dari PKB, mengaku tenang setelah dirawat di Bungkanel.

“Saya senang berada di sini karena tenang. Saya juga senang karena di sini dapat makan dan ada pengajian. Tapi saya tidak mau lagi ngomong soal pemilu,” kata Joko. (PRASETYO)

Dapatkan update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari Kompas.com. Mari bergabung di Grup Telegram "Kompas.com News Update", caranya klik link https://t.me/kompascomupdate, kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.


Video Pilihan

26th

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar dan menangkan e-voucher untuk 90 pemenang!

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar di artikel lainnya
Close Ads
Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.