Penyebaran Penyakit akibat Anomali Cuaca

Kompas.com - 21/09/2010, 20:18 WIB
|
EditorJimmy Hitipeuw

SURABAYA, KOMPAS.com - Anomali cuaca yang terjadi di kawasan Jawa Timur memicu munculnya penyakit difteri atau penyakit saluran nafas bagian atas. Berdasarkan pendataan Dinas Kesehatan Jatim, saat ini terdapat 11 kabupaten/kota endemik panyakit difteri.

Di Ja tim ada 11 daerah endemik penyakit difteri, yaitu Bangkalan, Sampang, Pamekasan, Sumenep, Surabaya, Gresik, Sidoarjo, Pasuruan, Probolinggo, Situbondo, dan Banyuwangi. Di tengah cuaca yang tak menentu ini, penyakit saluran nafas atas ini banyak muncul, kata Kepala Dinas Kesehatan Jatim Pawik Supriyadi, Selasa (21/9) di Surabaya.

Penyakit difteri adalah penyakit infeksi yang disebabkan oleh bakteri Corynebacterium Diphteriae . Penyakit ini mudah menular dan menyerang saluran pernafasan bagian atas dengan gejala demam tinggi, pembengkakan pada amandel ( tonsil ) dan memunculkan selaput puti h kotor yang makin lama makin membesar dan berpotensi menutup saluran pernafasan.

Selain menghambat saluran pernafasan, racun difteri juga dapat merusak otot jantung yang berujung pada terjadinya gagal jantung. Penularan penyakit ini pada umumnya melalui udara, lewat batuk atau bersin serta melalui benda atau makanan yang terkontaminasi bakteri.

Pasca mudik dan balik lebaran

Pawik mengungkapkan, selain karena anomali cuaca, penularan panyakit difteri juga disebabkan mobilitas masyarakat pada saat lebaran. Ia mencontohkan, di kawasan Situbondo dulu tidak ditemukan penyakit difteri. Namun, setelah muncul pendatang dari Madura, maka penyakit tersebut tumbuh.

Selain faktor perpindahan penduduk, kurang lengkapnya pemberian imunisasi juga menjadi penyebab munculnya penyakit difteri. Menurut Pawik, selama ini banyak ibu-ibu yang tidak lengkap memberikan imunisasi pada anak-anak mereka karena rata-rata pemberian imunisasi hanya 80 persen.

Pencegahan penyakit difteri melalui imunisasi dinilai paling efektif. Imunisasi biasanya diberikan bersamaan dengan imunisasi tetanus dan pertusis sebanyak tiga kali sejak bayi berumur dua bulan dengan selang penyuntikan satu sampai dua bulan. Pemberian imunisasi ini akan memberikan kekebalan aktif terhadap penyakit difteri, pertusis dan tetanus dalam waktu bersamaan.

Menyikapi hal ini, Gubernur Jatim Soekarwo memerintahkan Dinas Kesehatan Jatim untuk melakukan imunisasi massal pada daerah-daerah endemik penyakit difteri.mulai, Selasa (21/9/2010) hingga Kamis (30/9/2010) mendatang.

 

Baca tentang

    25th

    Tulis komentar dengan menyertakan tagar #JernihBerkomentar dan #MelihatHarapan di kolom komentar artikel Kompas.com. Menangkan E-Voucher senilai Jutaan Rupiah dan 1 unit Smartphone.

    Syarat & Ketentuan
    Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
    Laporkan Komentar
    Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
    komentar di artikel lainnya
    Close Ads X