Anemia Ancam Kecerdasan Anak

Kompas.com - 26/04/2011, 14:15 WIB
EditorLusia Kus Anna

Kompas.com  - Anemia kerap dianggap sebagai penyakit biasa. Padahal, kekurangan zat besi pada masa kanak-kanak, terutama 5 tahun pertama kehidupan yang tidak diatasi dapat menimbulkan dampak serius yang sulit dipulihkan, terutama kecerdasannya.

Anemia, yang dalam bahasa awam disebut kurang darah, ditandai dengan berkurangnya kadar hemoglobin di bawah normal sesuai dengan usianya. Berdasarkan kriteria WHO,  anemia pada anak kurang dari 5 tahun ditandai  dengan nilai hemoglobin kurang dari 11 dan hematokrit kurang dari 33.  Untuk mengetahuinya memang diperlukan pemeriksaan darah di laboratorium.

Prof.dr.Djajadiman Gatot, Sp.A (K), dari Divisi Hematologi Onkologi Departemen Ilmu Anak FKUI/RSCM menjelaskan anemia defisiensi zat besi (ADB) merupakan kasus anemia yang paling sering dijumpai.

"Setiap kelompok usia anak rentan terhadap hal ini, namun kelompok yang paling tinggi mengalami ADB adalah balita 0-5 tahun," katanya dalam acara seminar Action for Iron Deficiency Anemia yang digelar Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI) di Jakarta beberapa waktu lalu.

Anemia defisiensi besi pada umumnya disebabkan karena faktor kekurangan gizi, penyerapan makanan yang kurang baik, cepatnya pertumbuhan bayi dan remaja,  kecacingan, infeksi menahun, atau penyakit yang menyebabkan penghancuran sel darah merah.

"Polusi yang berlebihan yang masuk ke dalam tubuh juga bisa menggeser kadar besi," imbuh Djajadiman yang saat ini menjadi ketua satuan tugas Anemia Defisiensi Besi IDAI itu.

Berdasarkan hasil Survei Kesehatan Rumah Tangga  2001, 47 persen balita menderita anemia defisiensi besi. Angka ini tidak beranjak jauh pada Riskesdas 2007 yang menemukan satu dari empat anak usia sekolah dasar menderita kekurangan besi. Asian Development Bank menyebutkan sekitar 22 juta anak Indonesia terkena anemia.  

Anemia merupakan masalah serius. Menurut dr.Soedjatmiko, Sp.A (K), anak yang kekurangan besi pada masa bayi memiliki risiko gangguan pertumbuhan dan perkembangan jangka panjang serius, seperti gangguan konsentrasi belajar serta kecerdasan anak menurun.

"Kekurangan besi sejak dalam kandungan sampai usia 2 tahun akan mengganggu perkembangan cabang-cabang dan sambungan antar sel otak sehingga kecerdasan anak rendah," papar Soedjatmiko.

Lebih dari itu, kekurangan besi juga menghambat pembentukan zat neurotransmiter yang penting untuk pengendalian emosi, pemusatan perhatian dan perilaku anak. "Akibatnya anak rentan mengalami gangguan perilaku seperti bersikap agresif dan kapasitas pemecahan masalahnya rendah," katanya.

Halaman:

Video Pilihan

26th

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar dan menangkan e-voucher untuk 90 pemenang!

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.

Terkini Lainnya

komentar di artikel lainnya
Close Ads
Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.