Kompas.com - 06/09/2012, 14:46 WIB
EditorLusia Kus Anna

JAKARTA, KOMPAS.com - Jutaan orang dengan HIV di dunia telah terselamatkan oleh pemberian obat anti-HIV yang disebut antiretroviral (ARV). Obat itu tidak hanya membuat orang yang terinfeksi HIV tetap hidup normal dan sehat, tapi juga terbukti manfaatnya mencegah penularan pada orang yang sehat.

Menurut dr.Zubairi Djoerban,Sp.PD,KHOM, studi-studi terbaru menunjukkan bahwa obat ARV bisa mencegah infeksi. Strategi terbaru penanganan HIV tersebut dikenal dengan pencegahan sebelum pemaparan (pre-exposure prophiylaxis). Strategi tersebut juga telah disetujui oleh WHO.

"Di beberapa negara sudah terbukti manfaatnya, terutama pada pasangan suami istri yang salah satunya positif HIV atau orang yang memiliki pasangan seks banyak. Karena mereka beresiko tinggi, pemberian ARV akan menurunkan risiko penularan sampai 97 persen," kata guru besar dari Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia itu dalam acara Seminar Update HIV/AIDS di Indonesia di RSCM Jakarta (6/9/12).

Riset-riset juga menunjukkan, terapi pencegahan sebelum pemaparan itu efektif baik pada pasangan heteroseksual atau homoseksual, asalkan obat diminum secara konsisten. Hasil riset tersebut juga dipaparkan dalam konferensi AIDS XIX di Washington DC, Amerika Serikat beberapa waktu lalu yang juga dihadiri oleh Zubairi.

Namun tidak semua orang yang beresiko tinggi bisa mendapatkan terapi ARV tersebut. Zubairi menjelaskan ada beberapa persyaratan yang harus dipenuhi untuk mendapatkan manfaat pencegahan. Antara lain orang tersebut harus dipastikan belum tertular HIV (negatif) dan kondisi ginjal serta tulangnya sehat.

"Sebagai pencegahan, ARV juga harus diminum bertahun-tahun. Sehingga harus dipastikan efek sampingnya minimal," imbuhnya.

Berbeda dengan pengobatan ARV pada orang yang sudah terinfeksi HIV yang harus minum 3-4 obat setiap hari, untuk pencegahan ARV hanya diminum satu tablet setiap hari.

Di Indonesia, mereka yang terinfeksi HIV dan meminum ARV yang disediakan gratis oleh pemerintah bisa hidup produktif dan sehat sampai lebih dari 10 tahun. Kendati begitu, belum diketahui apakah pemerintah juga bersedia menyediakan anggaran untuk pemberian ARV sebagai pencegahan penularan.

Menurut Kurniawan Rachmadi, supervisor tim konselor Unit Pelayanan Terpadu HIV RSCM, pencegahan sebelum pemaparan mungkin bisa memberikan hasil yang lebih terukur dibandingkan dengan terapi perubahan perilaku.

"Contohnya saja pemberian edukasi mengenai manfaat pemakaian kondom di lokalisasi akan sulit mengukur keberhasilannya. Sementara jika diberikan ARV pada mereka yang beresiko tinggi mungkin akan lebih efektif," kata Kurniawan dalam kesempatan yang sama.

 

 

Dapatkan update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari Kompas.com. Mari bergabung di Grup Telegram "Kompas.com News Update", caranya klik link https://t.me/kompascomupdate, kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.

Baca tentang

    Video Pilihan

    26th

    Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar dan menangkan e-voucher untuk 90 pemenang!

    Syarat & Ketentuan
    Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
    Laporkan Komentar
    Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
    komentar di artikel lainnya
    Close Ads
    Verifikasi akun KG Media ID
    Verifikasi akun KG Media ID

    Periksa kembali dan lengkapi data dirimu.

    Data dirimu akan digunakan untuk verifikasi akun ketika kamu membutuhkan bantuan atau ketika ditemukan aktivitas tidak biasa pada akunmu.

    Lengkapi Profil
    Lengkapi Profil

    Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.