Kompas.com - 14/01/2013, 14:22 WIB
EditorLusia Kus Anna

Kompas.com - Diklaim mampu menghilangkan toksin-toksin berbahaya dari tubuh sekaligus melangsingkan, banyak orang tertarik melakukan metode diet detoks. Sebelum terbawa arus, ketahui dulu mengapa sebagian besar pakar nutrisi menentang diet ini.

Detoks atau detoksifikasi termasuk dalam cara penurunan berat badan secara ekstrim. Diet ini berdasarkan pada konsep bahwa tubuh kita harus dibersihkan dari toksin berbahaya yang berasal dari makanan atau lingkungan.

Teorinya, jika toksin sudah hilang, tubuh akan berfungsi lebih baik dan metabolisme menjadi cepat sehingga penurunan berat badan lebih cepat.

Ada banyak variasi diet detoks. Kebanyakan mengikuti pola asupan rendah kalori lewat puasa dengan tambahan asupan buah, sayuran, air, dan suplemen. Ada yang merekomendasikan tambahan pil, herbal, dan berbagai bentuk pembersih usus lainnya.

Menurut Frank Sacks, pakar epidemiologi dari Harvard School of Public Health, sebenarnya tubuh kita tidak membutuhkan bantuan untuk membersihkan dirinya. "Ada organ-organ yang berfungsi untuk itu, misalnya ginjal dan liver, juga sistem imun tubuh yang akan mengusir toksin," katanya.

Mengapa ada orang yang sukses menurunkan berat badan dengan diet detoks? Menurut Connie Diekman, mantan presiden The Academy of Nutrition and Dietetics, hal itu karena asupan kalori berkurang.

"Diet detoks termasuk fad diet karena menawarkan penurunan berat dengan cepat," katanya.

Jika asupan kalori dikurangi secara drastis, tentu berat badan berkurang. Tetapi hal ini bisa memicu masalah, antara lain kehilangan massa otot. Ditambah dengan puasa, tubuh akhirnya akan membakar kalori secara lambat.

Penurunan berat badan semacam itu juga biasanya hanya mengurangi cairan tubuh, bukan lemak. Jadi jika Anda kembali ke pola makan normal, kita cenderung mengalami kenaikan berat badan lebih cepat karena metabolisme yang lambat.

Orang yang melakukan diet detoks beresiko mengalami kekurangan nutrisi. Efek samping lainnya seperti kekurangan energi, kadar gula darah rendah, sakit otot, lelah, pusing, juga mual.

Halaman Selanjutnya
Halaman:

27th

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar dan menangkan e-voucher untuk 90 pemenang!

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar di artikel lainnya
Close Ads
Verifikasi akun KG Media ID
Verifikasi akun KG Media ID

Periksa kembali dan lengkapi data dirimu.

Data dirimu akan digunakan untuk verifikasi akun ketika kamu membutuhkan bantuan atau ketika ditemukan aktivitas tidak biasa pada akunmu.

Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.