Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Kompas.com - 24/01/2013, 23:15 WIB
EditorDini

KOMPAS.com - Sebenarnya, kesadaran masyarakat Indonesia untuk makan sehat sudah mulai terbangun. Hasil riset Unilever Food Solutions yang dikemas dalam laporan berjudul "World Menu Report: Seductive Nutrition" menunjukkan bahwa sebanyak 80 persen konsumen Indonesia menginginkan pilihan menu yang lebih menyehatkan.

Sayangnya, para responden juga mengatakan bahwa makan yang lebih menyehatkan biasanya lebih mahal (58 persen), kurang menggugah selera (47 persen), dan tidak mengenyangkan (45 persen). Inginnya, makanan yang sehat juga mencakup beberapa kriteria lain: porsinya cukup, rasanya enak, bahkan namanya pun harus mengundang selera.

Karena berbagai kesulitan tersebut, akhirnya konsumen kembali ke kebiasaan lamanya: jajan di luar tanpa memikirkan dampak kesehatannya.

"Istilah 'you are what you eat' itu makin lama makin betul. Karena itu, think before you eat karena ada dampak yang akan terjadi sesudahnya. Kalau saja kita tahu bahwa apa yang kita lakukan bertahun-tahun ternyata ada dampaknya bagi kesehatan," papar Emilia E. Achmadi MS, pakar pangan dan nutrisi, saat bincang-bincang di Gedung Annex Menara Duta, Kuningan, Jakarta, Rabu (23/1/2013) lalu.

Menurut Emilia, hal yang paling menjadi kepedulian masyarakat adalah soal berat badan. Kebanyakan orang suka makan tetapi tidak ingin menjadi gemuk. Kadang-kadang mereka merasa iri mengapa ada orang yang makannya banyak, tapi badannya tetap kurus. Padahal, tubuh kurus bukan berarti sehat. Pemilik tubuh kurus juga rentan terserang berbagai penyakit seperti serangan jantung, diabetes, gagal ginjal, atau rematik.

Masih banyak anggapan keliru yang terjadi pada masyarakat. "Banyak orang mengira kalau terkena diabetes itu (penyakitnya) diabetes saja. Padahal, tiap penyakit itu berhubungan," lanjuta Emilia. Misalnya, ketika obesitas kemungkinan besar kita akan mengalami diabetes. Diabetes yang tidak segera ditangani akan mengakibatkan gagal ginjal, amputasi, atau kebutaan. Selain itu juga stroke, serangan jantung, kanker, dan lain sebagainya.

Untuk mengontrol pola makan, menurut ahli nutrisi dari komunitas Sehati ini, kuncinya bukan mengeliminasi makanan. Anda hanya perlu tahu kapan dan bagaimana mengombinasikan makanan.

"Ketika makan steak, pilih dulu cut-nya, karena konten lemak tiap cut berbeda. Tenderloin, sirloin, atau rib-eye? Lalu, cut-nya jangan minta yang 350 gram. Untuk orang dewasa, 150 gram sudah cukup," ujar Emilia. Anda juga tak perlu menambahkan mentega di atas daging steak-nya. "Kalau pagi sudah makan nasi, coba kentangnya dihilangkan. Pilih sayur saja untuk pendampingnya."

Hal yang sama ketika Anda ingin mengonsumsi pasta. Antara pasta dengan saus carbonara, bolognaise, atau aglio olio, manakah yang kalorinya paling sedikit? Anda mungkin akan mengira pasta aglio olio, yang menggunakan minyak zaitun. Ternyata tidak.

"Yang paling sedikit kalorinya itu saus bolognaise, sekitar 350-400 kalori. Kalau aglio olio tetap tergantung berapa banyak minyak yang digunakan, dan itu bisa 600 kalori. Seporsi pasta carbonara bisa 1200 kalori. Kalau tetap ingin makan, boleh saja. Tapi makannya sharing saja, dan porsinya ditahan sedikit," paparnya.

Di atas itu semua, Emilia menegaskan bahwa kita tetap menyeimbangkan antara energi yang masuk dan energi yang keluar. Dengan demikian, jangan malas untuk bergerak, alias olahraga. "Variasi (makanan), balance (gizinya), dan aktivitas fisik, itu yang penting," tegasnya.

Dapatkan update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari Kompas.com. Mari bergabung di Grup Telegram "Kompas.com News Update", caranya klik link https://t.me/kompascomupdate, kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.

Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Video rekomendasi
Video lainnya

Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
27th

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar dan menangkan e-voucher untuk 90 pemenang!

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
komentar di artikel lainnya
Verifikasi akun KG Media ID
Verifikasi akun KG Media ID

Periksa kembali dan lengkapi data dirimu.

Data dirimu akan digunakan untuk verifikasi akun ketika kamu membutuhkan bantuan atau ketika ditemukan aktivitas tidak biasa pada akunmu.

Bagikan artikel ini melalui
Oke
Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.

Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+