Kompas.com - 31/03/2013, 17:23 WIB
EditorAsep Candra

KOMPAS.com -  Sebagai seorang psikiater yang banyak berhubungan dengan pasien yang mengeluh psikosomatik, saya sering mendapatkan beberapa kasus pasien yang berulang kondisinya. Pasien dengan keluhan psikosomatik kebanyakan didasari oleh Gangguan Kecemasan Panik yang sering kali memiliki keluhan fisik yang nyata.

Beberapa pasien bertanya, apakah sebenarnya kondisinya belum baik sepenuhnya, kambuh atau memang tak pernah bisa sembuh? Beberapa contoh kasus di bawah ini mungkin bisa membantu kita memahami lebih jauh apa yang terjadi pada pasien gangguan panik.

Kasus 1

Laki-laki usia 31 tahun dengan keluhan gejala serangan panik berulang saat datang pertama kali berobat. Pasien mengatakan sering merasa tiba-tiba dirinya berada pada kondisi tidak nyaman. Jantung sering dirasakan berdebar dan nafas menjadi pendek. Perasaan tidak enak juga dialami namun kadang sulit dijelaskan maksudnya. Pasien sering kali merasa sulit mengendalikan dirinya pada saat serangan panik datang.

Kondisi ini mengganggu kerja pasien di perusahaan dan akhirnya membuatnya berobat. Saat berobat dan menjalani terapi pasien merasa mengalami perbaikan walaupun tidak sepenuhnya baik. Terapi yang dilakukan kepada pasien dengan menggunakan obat antidepresan golongan SSRI membuat pasien merasa lebih bisa mampu mengontrol keluhan paniknya jika datang, tetapi sebenarnya tidak sama sekali mampu menghilangkan perasaan was-was jika kondisi itu datang lagi.

Psikoterapi suportif juga diberikan kepada pasien saat konsultasi. Pasien kemudian bisa menyelesaikan pengobatannya pada bulan ke-5. Enam bulan kemudian, pasien merasa keluhannya sering kembali dan mulai kesulitan mengontrol pikirannya agar tidak berpikir terlalu jauh tentang penyakitnya tersebut. Pasien merasa dirinya kambuh walaupun gejala-gejala dulu yang dirasakan sebenarnya sudah jauh berkurang saat ini dan kalaupun muncul masih belum membuat pasien kehilangan kendali.

Pasien bertanya apakah dirinya kambuh? Atau kondisi ini memang tidak bisa sepenuhnya hilang?

Kasus 2

Wanita usia 28 tahun dengan keluhan tiba-tiba sering merasa jantungnya berdebar dan sulit mengendalikan diri jika berada di keramaian. Pasien merasa pikiran-pikiran negatif tentang penyakit yang mungkin dideritanya sering kali sulit dikendalikan jika keluhan paniknya datang. Pasien sering kali membuka-buka situs internet yang mengungkapkan keluhan-keluhan yang dianggap mirip dengan keluhan yang dialaminya.

Pikiran akan penyakit jantung atau penyakit yang berat tetap menghantui walaupun sudah berobat ke tiga spesialis jantung berbeda untuk mengkonfirmasi keluhannya. Pasien saat mulai berobat masih mengalam keluhan-keluhan serangan panik yang intens tanpa pemicu yang jelas. Ketika pasien mendapatkan pengobatan dengan obat golongan SNRI, pasien merasa lebih baik. Sayangnya pengobatan dihentikan setelah sebulan memakai obat. Sekitar 3 bulan kemudian pasien datang kembali dengan keluhan-keluhan yang sama dan akhirnya memutuskan untuk berobat secara rutin.

Keluhan-keluhan menghilang walaupun tidak secara keseluruhan setelah pemberian obat kembali. Salah satu hal yang masih mengganggu pasien adalah pikiran-pikiran akan penyakit jantung dan penyakit berat yang akan dialami belum sepenuhnya hilang walaupun gejala-gejala pasien sudah jauh berkurang. Pasien menanyakan apakah keluhannya tersebut dan perasaan tersebut akan benar-benar bisa hilang?

Pembahasan

Saya telah menangani kasus-kasus gangguan panik sejak saya mulai membuka Klinik Psikosomatik di RS OMNI tempat saya bekerja saat ini. Hampir 80 persen kasus yang ditangani oleh kami memang merupakan kasus gangguan psikosomatik dengan dasar gangguan kecemasan panik atau gangguan kecemasan menyeluruh.

Kedua contoh kasus di atas adalah sebagian dari kasus-kasus yang sering kali dialami oleh pasien gangguan panik. Salah satu yang sering ditanyakan meraka adalah apakah sebenarnya keluhan yang mereka alami akan bisa sembuh sempurna. Pasien sering merasa mengapa keluhannya bisa timbul kembali walaupun saran dokter untuk menerapkan pengobatan sampai tuntas telah dilakukan. Gangguan panik adalah gangguan kecemasan yang sering mengalami kekambuhan. Hampir lebih dari 50 persen kasus gangguan cemas panik bisa mengalami keberulangan atau kambuh walaupun diobati secara baik.

Hal ini diakibatkan karena perbedaan faktor struktur dan sistem saraf otak yang berbeda setiap orang. Namun banyak pula yang sembuh sempurna seperti tidak pernah mengalami kondisi panik sama sekali. Kebanyakan keberulangan kasus juga dialami oleh pasien yang memiliki latar belakang kepribadian yang pencemas (termasuk diantaranya kepribadian tipe A, ciri kepribadian obsesif kompulsif).

Saya pernah menulis bahwa salah satu tujuan utama dalam penanganan kasus gangguan panik adalah kemampuan pasien dalam mengendalikan dirinya (self control). Jadi walaupun nanti gejala paniknya datang kembali, pasien mampu untuk dapat mengendalikan dirinya dan melewati kondisi itu dengan baik. Inilah salah satu tujuan terapi selain juga memperbaiki sistem otak pasien dengan menggunakan antidepresan. Pada tujuan akhirnya, pengendalian diri pasien terhadap kondisi tubuh dan pikirannya memegang peranan penting dalam perbaikan gejala gangguan panik.

Salam Sehat Jiwa

 

Dapatkan update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari Kompas.com. Mari bergabung di Grup Telegram "Kompas.com News Update", caranya klik link https://t.me/kompascomupdate, kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.


Video Pilihan

26th

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar dan menangkan e-voucher untuk 90 pemenang!

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar di artikel lainnya
Close Ads
Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.