Obat Penurun Kolesterol, Amankah untuk Anak?

Kompas.com - 12/09/2013, 16:22 WIB
Jika diusia enam tahun si kecil punya tubuh yang gemuk maka kemungkinan ia juga akan gemuk saat dewasa shutterstockJika diusia enam tahun si kecil punya tubuh yang gemuk maka kemungkinan ia juga akan gemuk saat dewasa
|
EditorAsep Candra

KOMPAS.com — Mudahnya mendapatkan makanan tinggi lemak saat ini membuat diet tinggi lemak jenuh semakin marak. Akibatnya, usia muda pun tak terlepas dari risiko mengalami kelebihan kolesterol atau hiperkolesterolemia.

Obat-obatan yang biasa digunakan untuk mengurangi kadar kolesterol dalam darah yaitu obat golongan statin. Namun, apakah obat tersebut aman digunakan untuk anak?

Menurut dr Em Yunir, SpPD, KEMD, pakar kesehatan metabolik dan endokrin dari Departemen Penyakit Dalam Rumah Sakit dr Cipto Mangunkusumo (RSCM), statin memang umum digunakan pada orang dewasa sebagai obat penurun kolesterol. Namun penggunaannya pada anak masih diragukan keamanannya.

"Ini karena anak masih dalam masa pertumbuhan dan perkembangan," ujar Sekretaris Pengurus Besar Perkumpulan Endokrinologi Indonesia (PERKENI) ini. Menurutnya, obat golongan statin baru aman diberikan di atas usia 18 tahun.

Oleh karena itu, Yunir menyarankan untuk memberikan intervensi non-farmakologis bagi anak-anak yang mengalami kolesterol tinggi. "Non-farmakologis maksudnya tanpa menggunakan obat, seperti mengatur pola makan dan meningkatkan aktivitas fisik," tuturnya.

Pengobatan dengan statin, lanjutnya, baru hanya digunakan saat keadaan terpaksa. Seperti pasien mengalami gangguan ginjal, sehingga kadar kolesterolnya tinggi.

Yunir memaparkan, intervensi non-farmakologis pada orang dewasa umumnya dilakukan saat kadar kolesterol belum terlalu tinggi, namun sudah melebihi batas normal. Ini dilakukan karena mengatur pola makan dan aktivitas fisik hanya bisa menurunkan kadar kolesterol sebanyak 30-50 mg/dL saja.

Misalnya, jelas dia, seseorang memiliki kadar low density lipoprotein (LDL) 130 mg/dL. Angka tersebut cukup tinggi, namun perlu diturunkan. "Dengan mengubah pola makan dan menambah aktivitas fisik saja, dalam beberapa bulan sudah bisa jadi 100 mg/dL," ujarnya.

Berbeda dengan yang kadar LDL-nya sudah melebihi 160 mg/dL. Menurut Yunir, jika sudah mencapai angka tersebut, sebaiknya dilakukan intervensi dengan obat penurun kolesterol.


25th

Tulis komentar dengan menyertakan tagar #JernihBerkomentar dan #MelihatHarapan di kolom komentar artikel Kompas.com. Menangkan E-Voucher senilai Jutaan Rupiah dan 1 unit Smartphone.

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar di artikel lainnya
Close Ads X