Anak Sering Dipukul, Risiko Depresi Tinggi Saat Remaja

Kompas.com - 20/12/2013, 13:06 WIB
Penulis Wardah Fajri
|
KOMPAS.com - Dengan dalih mendisiplinkan anak, memukul menjadi pilihan cara sebagian orangtua ketika memberi hukuman pada anak. Studi terbaru membuktikan, memukul anak hanya akan membuat mereka tumbuh sebagai pribadi agresif dan berperilaku buruk, juga meningkatkan risiko depresi saat remaja.

Para peneliti di Amerika menemukan bahwa tindakan pendisiplinan anak semacam itu, betapa pun hubungan orangtua dan anak terjalin baik, tetap akan memberi dampak buruk pada anak di kemudian hari.

"Ada keyakinan di masyarakat bahwa pada orangtua yang punya hubungan positif dengan anak, tindakan memukul tidak akan membahayakan anak. Studi kami berhasil menguji pandangan ini, dan menemukan bahwa memukul anak tidak membuat perilaku anak menjadi lebih baik, tapi justru bertambah buruk, terlepas dari hubungan baik orangtua dengan anak," ungkap Shawna Lee, asisten profesor di University of Michigan School of Social Work.

Menurutnya, meski banyak studi telah membuktikan bahwa tindakan memukul meningkatkan perilaku agresif pada anak, tetap saja orangtua masih memilih cara ini sebagai bentuk pendisiplinan.

Studi terbaru yang diterbitkan di jurnal Development Psychology ini melibatkan 3.200 anak kulit putih, kulit hitam, dan hispanik di kota besar di Amerika. Tim peneliti mengumpulkan data dari anak-anak saat berusia satu, tiga, dan lima. Para ibu anak-anak ini melaporkan frekuensi pemukulan, dan perilaku agresif anak, dan kualitas hubungan orangtua dan anak.

Sementara, penelitian lain menemukan bahwa orangtua yang sering mengancam atau berteriak kepada anak remaja, memicu depresi dan perilaku destruktif.

Risiko depresi semakin tinggi saat remaja, apabila ibu kerap melakukan kekerasan fisik dan verbal pada anak, apalagi jika ayah juga melakukan salah satu bentuk kekerasan, fisik atau verbal. Risiko depresi tertinggi didapati  pada remaja yang kerap mendapatkan ancaman dari orangtuanya, berupa pukulan juga ancaman menggunakan senjata.

"Yang perlu ditekankan adalah masalah perilaku verbal. Studi kami menunjukkan percekcokan secara lisan menjadi relevan, terutama pada ibu yang sering berteriak dan memukul anak, dan ayah yang melakukan hal serupa," terang Annette Mahoney, dosen psikologi di Bowling Green State University di Ohio.

Para peneliti menekankan kondisi seperti ini akan semakin membahayakan jika orangtua terjebak dalam siklus ini. Di antaranya, para remaja akan semakin sulit dikendalikan terutama jika mereka mengalami masalah perilaku, akibat kebiasaan orangtua yang suka mengancam.

Penelitian yang diterbitkan di jurnal Child Abuse dan Neglect ini melibatkan 239 remaja bermasalah, usia 11 hingga 18. Para orangtua mereka juga berpartisipasi sebagai responden.

Sebanyak 51 persen dari remaja ini mengaku mengalami kekerasan fisik dan verbal, dari salah satu atau kedua orangtua mereka.

Mahoney memaparkan, memiliki orangtua yang kerap berteriak dan mengancam terbukti meningkatkan risiko masalah kesehatan mental pada remaja. Ini terjadi karena remaja lebih mudah mengalami trauma dan merasa terancam ketika mengalami kekerasan fisik.

Namun, risiko masalah psikis tidak menunjukkan peningkatan pada remaja yang ibunya kerap berteriak namun tidak pernah melakukan kekerasan fisik. Sebaliknya, remaja mengalami gangguan mental jika ayah mereka kerap melakukan kekerasan verbal, terlepas apakah sang ayah juga melakukan kekerasan fisik atau tidak.

Baca tentang

Sumber Dailymail
25th

Tulis komentar dengan menyertakan tagar #JernihBerkomentar dan #MelihatHarapan di kolom komentar artikel Kompas.com. Menangkan E-Voucher senilai Jutaan Rupiah dan 1 unit Smartphone.

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar di artikel lainnya
Close Ads X