Kompas.com - 14/01/2014, 15:29 WIB
|
EditorAsep Candra

Banyak penyebab penumpukan lemak dalam perut, prinsipnya adalah, di samping faktor genetik, usia, jenis kelamin, kalori yang kita konsumsi melebihi kebutuhan kita. Perubahan gaya hidup, gaya hidup santai, aktivitas kurang, pola makan yang tidak sehat, tinggi kalori, stres kronis adalah penyebab utamanya.

Banyak duduk di depan TV, di belakang stir, di depan komputer, tidak ada waktu untuk berolahraga, bangga dengan makan ala kebarat-baratan, seperti hamburger, donut, pizza, kentang goreng, ayam crispy, dan sebagainya adalah contoh gaya hidup dan pola makan yang membuat perut kita sekarang  semakin buncit.

Lalu, mengapa lemak yang hanya 10 persen dari total lemak di seluruh tubuh kita yang ada dalam rongga perut itu berbahaya, dapat menjadi biang kerok beberapa penyakit yang mematikan? dibandingkan lemak di bawah kulit yang relatif aman?

Ternyata, menurut penelitian, lemak tidak hanya berfungsi sebagai cadangan tenaga yang suatu ketika siap digunakan, tetapi lemak dalam rongga perut ini secara biologis sangat aktif. Lemak ini berperan sebagi kelenjar endokrin yang menghasikan hormon dan substansi kimiawi yang dapat mempengaruhi jaringan lain, menyebabkan gangguan keseimbangan hormonal, gangguan metabolisme, peradangan, insulin resisten, dan gangguan imunitas.

Komponen peradangan cytokines, precursor angiotensin– menyebabkan pembuluh darah arteri mengalami penyempitan– yang dihasilkan oleh lemak yang bersembunyi di balik dinding perut ini meningkatkan resiko penyakit jantung dan hipertensi

Disamping itu, lemak dalam rongga perut ini— Saya lihat masih ada yang bangga dengan perutnya yang begitu– melepaskan asam lemak bebas dan komponen peradangan lain  secara langsung pada vena porta ( pembuluh darah yang membawa darah dari perut bagian bawah ke hati, pankreas, dan organ lain), masuk ke dalam hati.  Asam lemak bebas ini menyebabkan produksi kolesterol jahat (LDL) oleh hati  meningkat dan kolesterol baik (HDL) menurun, dan gula darah  yang juga meningkat. Adiponectin, suatu hormon yang ikut mengatur metabolisme lipid dan gula, produksinya menurun dengan semakin bertambahnya timbunan lemak di rongga perut, sehingga meningkatkan resiko penyakit kardiovaskuler dan diabetes melitus.

Dan, lemak yang menumpuk dalam rongga perut juga sering menyebabkan  gangguan tidur, sleep apnea, ngorok dengan nafas berhenti secara periodik. Melalui bermacam mekanisme seperti stress hipoksia, peningkatan hormon kortisol, hipoksia jaringan, sleep apnea dapat menyebabkan resistensi insulin, gangguan fungsi sel beta pankreas yang memperoduksi insulin, dislipidemi dan akhirnya peningkatan risiko penyakit kardiovaskuler dan diabetes.

Jadi, lemak yang menumpuk di (dalam) rongga perut, tidak hanya sekedar membuat perut  buncit, tetapi juga menjadi ancaman serius penyakit kronis yang mematikan. Karena itu, jangan biarkan lemak-lemak itu tetap bercokol di sana, buanglah!

Indragiri hilir, 9-1-2014

@irsyal_dokter

Dapatkan update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari Kompas.com. Mari bergabung di Grup Telegram "Kompas.com News Update", caranya klik link https://t.me/kompascomupdate, kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.

Halaman:

Video Pilihan

Sumber Kompasiana
Rekomendasi untuk anda
26th

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar dan menangkan e-voucher untuk 90 pemenang!

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar di artikel lainnya
Close Ads
Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.