Kompas.com - 03/06/2014, 18:42 WIB
Ilustrasi ShutterstockIlustrasi
EditorLusia Kus Anna

KOMPAS.com - Kondisi sel sperma yang prima sangat penting dalam proses pembuahan. Salah satu faktor yang bisa mengganggu sperma adalah kejadian stres yang terjadi dalam jangka panjang.

Satu atau dua kejadian stres bukan hanya menyebabkan jumlah sperma berkurang, tapi juga bentuk dan gerakannya terganggu.

"Pria yang mengalami stres cenderung memiliki jumlah sperma lebih sedikit saat ejakulasi, bentuk sperma mereka juga tidak sempurna dan kemampuan renangnya terganggu. Kondisi ini bisa menyebabkan gangguan kesuburan," kata ketua peneliti Pam Factor-Litvak, dari Columbia University Mailman School of Public Health.

Dalam penelitiannya, ia melibatkan 193 pria berusia 38-49 tahun yang memberikan contoh cairan maninya untuk diteliti. Selain itu para responden juga memberikan informasi mengenai kondisi stres yang dialaminya. Stres yang terkait dengan kehidupan pribadi dan pekerjaan juga dievaluasi.

Setelah memperhitungkan riwayat kesehatan reproduksi dan masalah kesuburan, peneliti menemukan kaitan antara stres dalam hidup dan kualitas semen.

Walau stres pekerjaan tidak terkait dengan kondisi semen, tetapi tekanan kerja berpengaruh pada penurunan kadar testosteron.

Penelitian ini memang tidak menemukan hubungan sebab akibat antara stres dan kondisi sperma, tetapi ada kaitan antara stres oksidatif dan hormon yang memicu stres dan berpengaruh pada kondisi sperma dan testosteron.

Stres juga bukan satu-satunya faktor yang berpengaruh pada sperma. Studi di Harvard tahun lalu menyebutkan, kebiasaan mengasup daging olahan juga menurunkan kualitas semen. Pria yang kegemukan dan kurang bergerak juga bisa menyebabkan kualitas sperma menurun.Dapatkan update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari Kompas.com. Mari bergabung di Grup Telegram "Kompas.com News Update", caranya klik link https://t.me/kompascomupdate, kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.


Video Pilihan

Rekomendasi untuk anda
PENYAKIT
Rahim Turun
Rahim Turun
26th

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar dan menangkan e-voucher untuk 90 pemenang!

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.

Terkini Lainnya

Benarkah Ibu Menyusui Tak Boleh Konsumsi Makanan Pedas?

Benarkah Ibu Menyusui Tak Boleh Konsumsi Makanan Pedas?

Health
Sindrom Zollinger-Ellison (ZES)

Sindrom Zollinger-Ellison (ZES)

Penyakit
Benarkah Susu Sapi Ampuh Redakan Gejala Heartburn?

Benarkah Susu Sapi Ampuh Redakan Gejala Heartburn?

Health
Limfangitis

Limfangitis

Penyakit
Terlihat Sama, Ini Beda Depresi dan PTSD

Terlihat Sama, Ini Beda Depresi dan PTSD

Health
Penyakit Jantung Rematik

Penyakit Jantung Rematik

Penyakit
3 Cara Mengatasi Bayi Sungsang secara Alami dan Medis

3 Cara Mengatasi Bayi Sungsang secara Alami dan Medis

Health
Pahami 5 Gejala Awal Kanker Usus

Pahami 5 Gejala Awal Kanker Usus

Health
6 Gejala Asam Urat di Lutut

6 Gejala Asam Urat di Lutut

Health
Karsinoma Sel Skuamosa

Karsinoma Sel Skuamosa

Penyakit
10 Penyebab Sakit Perut Bagian Atas

10 Penyebab Sakit Perut Bagian Atas

Health
Rahim Turun

Rahim Turun

Penyakit
6 Jenis Gangguan Pola Tidur dan Cara Mengatasinya

6 Jenis Gangguan Pola Tidur dan Cara Mengatasinya

Health
Herniasi Otak

Herniasi Otak

Penyakit
Sering Menjadi Faktor Risiko Utama, Apa Kaitan Bipolar dan Genetik?

Sering Menjadi Faktor Risiko Utama, Apa Kaitan Bipolar dan Genetik?

Health
komentar di artikel lainnya
Close Ads X
Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.