Kompas.com - 16/09/2014, 17:03 WIB
EditorLusia Kus Anna


JAKARTA, KOMPAS —
Sejak sistem Jaminan Kesehatan Nasional diluncurkan awal tahun 2014, minat masyarakat terhadap program itu kian tinggi. Hal itu ditandai antrean panjang warga yang hendak mendaftar sebagai peserta di Badan Penyelenggara Jaminan Sosial Kesehatan di sejumlah daerah.

Berdasarkan pemantauan, antrean panjang warga yang hendak mendaftar sebagai peserta program JKN terlihat di kantor-kantor BPJS Kesehatan yang melayani pendataan ataupun pembuatan kartu baru peserta BPJS Kesehatan di sejumlah daerah di Tanah Air, Senin (15/9).

Kepala Departemen Humas BPJS Kesehatan Irfan Humaidi mengakui tingginya minat masyarakat mengikuti JKN yang dikelola BPJS Kesehatan. Hal itu ditandai terus bertambahnya jumlah peserta BPJS Kesehatan. Saat diluncurkan, 1 Januari 2014, jumlah peserta JKN 121,6 juta orang. Hingga akhir Agustus, jumlah peserta mencapai 127,3 juta orang, bertambah 5,7 juta orang dalam 8 bulan.

Hal itu berdampak pada peningkatan jumlah pasien yang berobat ke fasilitas kesehatan, termasuk rumah sakit. Jika dulu masyarakat hanya berobat apabila sudah sakit parah, kini mereka yang jadi peserta JKN bisa berobat kapan pun dengan mengikuti pengobatan berjenjang.
Antrean panjang

Di sejumlah daerah, warga antre mendaftarkan diri dan keluarga sebagai peserta BPJS Kesehatan, misalnya di Kantor BPJS Kesehatan Jakarta Barat yang khusus melayani pemohon kartu BPJS Kesehatan dengan iuran mandiri. ”Rata-rata per hari ada 250 nomor antrean. Satu nomor antrean bisa mendaftarkan 3-5 orang, tergantung jumlah keluarga,” kata anggota staf keuangan BPJS Kesehatan Jakarta Barat, Novi.

Untuk iuran mandiri, setiap orang dikenai biaya sesuai pemilihan kelas. Di fasilitas kelas I, peserta dikenai iuran Rp 59.500 per orang per bulan. Lalu, iuran untuk kelas II Rp 42.500 per orang per bulan. Adapun fasilitas kelas III, tiap peserta wajib membayar Rp 25.500 per bulan.

Lina (42) mengaku mendaftar BPJS Kesehatan setelah melihat saudaranya yang terkena penyakit jantung bisa berobat dengan mudah karena jadi peserta BPJS Kesehatan. Karena suaminya bekerja sebagai wirausaha, ia jadi peserta mandiri. ”Saya ambil kelas I untuk 4 orang,” ujarnya.

Di Batam, sebagian warga mengandalkan bantuan iuran BPJS Kesehatan dari Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah (APBD). Mereka rela antre di rumah sakit untuk mendapat layanan kesehatan dengan fasilitas BPJS. ”Tinggal tunjukkan kartu, tak bayar apa-apa lagi. Kalau harus bayar sendiri, mana saya punya uang,” kata Hamdan, warga Sagulung, Batam.

Walikota Batam Ahmad Dahlan menyatakan, proses verifikasi penerima bantuan iuran BPJS Kesehatan dari APBD Batam tengah berlangsung. Verifikasi dilakukan di kantor-kantor kelurahan. ”Kini proses pengalihan dari program jaminan kesehatan daerah menjadi BPJS Kesehatan,” katanya.

Di Makassar, Sulawesi Selatan, minat warga mendaftar sebagai peserta mandiri JKN yang dikelola BPJS Kesehatan tinggi. Warga mendatangi Kantor BPJS Kesehatan Cabang Makassar sejak kantor dibuka pukul 07.00. Sekitar pukul 10.00, nomor antrean yang dibatasi 350 orang untuk pendaftar umum telah habis.

Halaman:

Rekomendasi untuk anda
27th

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar dan menangkan e-voucher untuk 90 pemenang!

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar di artikel lainnya
Close Ads
Verifikasi akun KG Media ID
Verifikasi akun KG Media ID

Periksa kembali dan lengkapi data dirimu.

Data dirimu akan digunakan untuk verifikasi akun ketika kamu membutuhkan bantuan atau ketika ditemukan aktivitas tidak biasa pada akunmu.

Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.