Kompas.com - 24/09/2014, 10:55 WIB
Ilustrasi ShutterstockIlustrasi
|
EditorLusia Kus Anna

KOMPAS.com — Jika Anda menderita hipertensi, dan tekanan darah masih sulit dikontrol walau telah meminum lebih dari 3 macam obat anti-hipertensi, coba perhatikan tidur Anda. Mendengkur? Ngorok? Cukup tidur, tetapi masih mengantuk?

Sleep apnea dan hipertensi

Awal penemuan sleep apnea (henti napas saat tidur), sebenarnya diawali dari penderita hipertensi. Sekolompok peneliti menemukan adanya penderita hipertensi yang cenderung mengantuk pada siang hari, padahal jumlah tidurnya cukup. Pada waktu itu, ini dikenal sebagai gejala utama narkolepsi. Oleh karena itu, diperiksakanlah para penderita hipertensi tersebut. Bukan narkolepsi, alih-alih didapati adanya dengkuran dan henti napas saat tidur.

Sejak saat itu, pemeriksaan tidur dilengkapi dengan perekaman fungsi-fungsi jantung dan napas, selain perekaman gelombang otak, mata, dan otot. Prof Guilleminault menamai penyakit ini dengan sebutan obstructive sleep apnea.

Ngorok atau mendengkur ternyata merupakan tanda menyempitnya saluran napas saat tidur. Jalan napas bisa berulang kali tersumbat selama tidur hingga akibatkan reaksi berantai yang sebabkan peningkatan tekanan darah tinggi, diabetes, penyakit jantung, stroke, kematian, dan impotensi.

Sleep apnea atau henti napas saat tidur ditandai oleh kebiasaan ngorok saat tidur. Namun, orang yang mendengkur belum tentu menderita sleep apnea, lho. Ia harus diperiksakan dahulu untuk membedakannya.

Sayangnya, hubungan hipertensi dan dengkur seolah tenggelam oleh populernya temuan baru bahwa mendengkur atau sleep apnea sangat berbahaya. Baru sekitar 30 tahun yang lalu, Kales dan kawan-kawan menuliskan temuan mereka pada jurnal kedokteran terkemuka, Lancet. Dalam penelitian tersebut disebutkan adanya hubungan erat antara hipertensi dan sleep apnea yang dibiarkan tanpa perawatan. Persisnya, 30 persen penderita hipertensi mengalami henti napas saat tidur.

Selanjutnya, sekelompok peneliti asal Spanyol memberikan data bahwa penderita sleep apnea yang dirawat menggunakan continuous positive airway pressure (CPAP) mengalami penurunan tekanan darah yang signifikan. Semakin berat dengkuran, semakin parah sleep apnea yang diderita, dan semakin baik penggunaan CPAP-nya, akan semakin baik pula tekanan darahnya.

Penelitian

Penelitian yang diterbitkan pada Journal of Clinical Sleep Medicine bulan Agustus 2014 menunjukkan bahwa tingkat keparahan sleep apnea berhubungan erat dengan peningkatan tekanan darah yang sulit dikontrol.

Walau penderita hipertensi sudah mengonsumsi lebih dari tiga macam obat anti-hipertensi, tekanan darahnya masih tetap sulit dikontrol. Hipertensi yang diderita seolah membandel. Kondisi yang sering disebut sebagai resistant hypertension ini berkaian erat dengan derajat keparahan sleep apnea.

Pada penelitian tersebut, penderita sleep apnea sedang (AHI/henti napas 15-30 per jam) dibandingkan dengan yang berat (AHI/henti napas >30 per jam). Hasilnya, 95 persen penderita sleep apnea berat kemungkinan menderita hipertensi walau sudah minum lebih dari tiga macam obat anti-hipertensi.

Kesimpulan

Para ahli berpendapat, penanganan hipertensi, terutama yang telah menjalani pengobatan agresif, harus menyertakan kemungkinan adanya sleep apnea ataudengkuran. Artikel pada Journal of American Medical Association tahun 2013 menunjukkan bahwa perawatan sleep apnea dengan CPAP selama 12 minggu akan menurunkan tekanan darah rata-rata harian 3 mmHg. Walau tampak kecil, angka 3 mmHg bermakna besar untuk menurunkan risiko penyakit-penyakit jantung dan pembuluh darah lainnya.

Dapatkan update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari Kompas.com. Mari bergabung di Grup Telegram "Kompas.com News Update", caranya klik link https://t.me/kompascomupdate, kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.


Video Pilihan

Rekomendasi untuk anda
26th

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar dan menangkan e-voucher untuk 90 pemenang!

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.

Terkini Lainnya

Apa Saja Penyebab Penyakit Ginjal?

Apa Saja Penyebab Penyakit Ginjal?

Health
Ciri-ciri Kanker Usus Besar Tahap Lanjut

Ciri-ciri Kanker Usus Besar Tahap Lanjut

Health
Bagaimana Pengobatan Rumahan Saraf Kejepit?

Bagaimana Pengobatan Rumahan Saraf Kejepit?

Health
Ciri-ciri Kanker Usus Besar Tahap Awal

Ciri-ciri Kanker Usus Besar Tahap Awal

Health
10 Gejala Kanker Usus Stadium Awal yang Pantang Disepelekan

10 Gejala Kanker Usus Stadium Awal yang Pantang Disepelekan

Health
Seberapa Mengerikan Penyakit Diabetes?

Seberapa Mengerikan Penyakit Diabetes?

Health
Sindrom Steven-Johnson

Sindrom Steven-Johnson

Penyakit
Kenali 4 Faktor Risiko Leukimia

Kenali 4 Faktor Risiko Leukimia

Health
Apa Manfaat dan Efek Samping Suntik Vitamin C?

Apa Manfaat dan Efek Samping Suntik Vitamin C?

Health
Bagaimana Cara Hadapi Orang Bertendensi Bunuh Diri?

Bagaimana Cara Hadapi Orang Bertendensi Bunuh Diri?

Health
Apa Penyebab Kulit Kering?

Apa Penyebab Kulit Kering?

Health
4 Cara Mudah Mengatasi Sembelit

4 Cara Mudah Mengatasi Sembelit

Health
8 Cara Mengatasi Sakit Kepala saat Kepanasan

8 Cara Mengatasi Sakit Kepala saat Kepanasan

Health
Sindrom Asperger

Sindrom Asperger

Penyakit
Seberapa Sering Normalnya Kita Harus Buang Air Besar?

Seberapa Sering Normalnya Kita Harus Buang Air Besar?

Health
komentar di artikel lainnya
Close Ads X
Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.