Kompas.com - 11/10/2014, 14:20 WIB
Menteri Luar Negeri Inggris Philip Hammond dan Menteri Pembangunan Nasional Justine Greening menyambut para delegasi yang datang dalam konferensi internasional yang membahas upaya memerangi ebola di Afrika Barat, khususnya Sierra Leone. MATT DUNHAM / POOL / AFPMenteri Luar Negeri Inggris Philip Hammond dan Menteri Pembangunan Nasional Justine Greening menyambut para delegasi yang datang dalam konferensi internasional yang membahas upaya memerangi ebola di Afrika Barat, khususnya Sierra Leone.
EditorLusia Kus Anna

KOMPAS.com - Wabah ebola Afrika Barat menjalar liar dan mencemaskan dunia. Sejumlah negara memeriksa ketat arus manusia di bandara, hotel, dan lokasi yang disinggahi orang yang terjangkit ebola. Di Jakarta, Kementerian Kesehatan menegaskan siap mengantisipasi penanganan penyakit akibat virus ebola.

Rasa cemas tak hanya terlihat di negara-negara Afrika, tetapi juga di Amerika, Eropa, bahkan Asia. Warga Taiwan mulai khawatir setelah otoritas kesehatan mengisolasi seorang perempuan asal Nigeria di Rumah Sakit Taoyuan, Kamis (9/10), untuk memastikan status kesehatannya.

Wartawan Kompas, Dewi Indriastuti, dari Washington DC, AS, melaporkan, Presiden Bank Dunia Jim Yong-kim menyerukan tindakan cepat mengendalikan wabah ebola. Sierra Leone, Liberia, dan Guinea sudah merasakan dampak ekonomi. Sedikitnya 6 juta anak tak bisa bersekolah. Tanpa aksi segera, masa depan Afrika terancam.

Kemarin, sekitar 200 petugas kebersihan kabin di Bandara LaGuardia, New York, AS, mogok kerja. Mereka memprotes kurangnya perlindungan dari ancaman virus ebola saat mereka membersihkan muntahan dan kamar kecil di pesawat.

Ebola dengan mudah menjalar lewat cairan tubuh, termasuk muntahan. ”Kami harus berurusan dengan muntahan dan tak punya pelindung yang cukup saat bekerja, seperti sarung tangan,” kata Antonia Alvarado dari Air Serv, seperti dikutip Service Employees International Union, serikat pekerja jasa terbesar di AS.

”Bangsa ini ketakutan, warga juga khawatir. Mereka takut karena tingkat kematian sangat tinggi. Mereka takut karena perlu belajar dan memahami fakta-fakta penyakit itu,” kata Menteri Kesehatan AS Sylvia Burwell.

Otoritas AS pun memperketat pemeriksaan di lima bandara utama yang dilalui pendatang dari Guinea, Liberia dan Sierra Leone, tempat ebola mengakar dan mengganas. Sedikitnya 26 anggota DPR AS juga mengusulkan larangan perjalanan dan pembatasan visa ke tiga negara itu.

Dapatkan informasi, inspirasi dan insight di email kamu.
Daftarkan email

Meningkat

Kecemasan global meningkat setelah Teresa Romero, perawat RS La Paz-Carlos III, Spanyol, positif tertular ebola setelah merawat dua misionaris asal Spanyol yang terpapar ebola saat bertugas di Liberia dan Sierra Leone. Romero adalah pasien pertama yang terinfeksi ebola di luar Afrika.

Kecemasan warga AS bertambah sejak Thomas Eric Duncan, pria AS asal Liberia, meninggal 10 hari setelah didiagnosis positif ebola di Texas, tak lama setelah tiba dari negeri asalnya.

Halaman:

Sumber KOMPAS
Rekomendasi untuk anda
25th

Ada hadiah voucher grab senilai total Rp 6.000.000 dan 1 unit smartphone.

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar.

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar di artikel lainnya
Close Ads X