Keunggulan Perawat Lansia Asal Indonesia di Jepang

Kompas.com - 11/06/2015, 09:43 WIB
Sebanyak 278 perawat Indonesia menyambangi kediaman Duta Besar Jepang untuk Indonesia Yasuaki Tanizaki di Jakarta Selatan, Rabu (10/6/2015). Mereka akan diberangkatkan ke Jepang sebagai perawat di klinik maupun rumah sakit dan perawat di panti jompo atau sebagai care worker. Kompas.com/Dian MaharaniSebanyak 278 perawat Indonesia menyambangi kediaman Duta Besar Jepang untuk Indonesia Yasuaki Tanizaki di Jakarta Selatan, Rabu (10/6/2015). Mereka akan diberangkatkan ke Jepang sebagai perawat di klinik maupun rumah sakit dan perawat di panti jompo atau sebagai care worker.
|
EditorLusia Kus Anna

 

 

JAKARTA, KOMPAS.com – Perawat lanjut usia (lansia) atau care worker asal Indonesia sangat dibutuhkan di Jepang. Tingkat kelulusan para care worker asal Indonesia di Jepang pun selama ini cukup memuaskan.

Kepala Badan Nasional Penempatan dan Perlindungan Tenaga Kerja Indonesia (BNP2TKI) Nusron Wahid mengungkapkan, tingkat kelulusan para care worker Indonesia di Jepang mencapai 65,7 persen. Jumlah ini melebihi tingkat kelulusan care worker dari negara lain, seperti Filipina dan Vietnam, bahkan Jepang sendiri yang hanya 61 persen.

“Itu membuktikan bahwa kualitas dan skill teman-teman kita di Indonesia sesungguhnya bertaraf internasional,” ujar Nusron dalam acara pelepasan calon perawat di rumah Duta Besar Jepang untuk Indonesia, Jakarta, Rabu (10/6/2015).

Namun, sayangnya tingkat kelulusan untuk perawat masih di bawah 10 persen. Meski demikian, Nusron meminta para calon perawat dan care worker di Jepang untuk tetap percaya diri dan dapat berjuang meningkatkan kemampuan.

Duta Besar Jepang untuk Indonesia, Yasuaki Tanizaki, berharap para perawat pun nantinya dapat lulus ujian nasional di Jepang. Menurut Tanizaki, tantangan terbesar para perawat selama ini adalah kemampuan berbahasa Jepang.

“Cara paling mudah, berteman dengan orang jepang. Saya berharap para calon mendapat teman orang Jepang sebanyak mungkin dan bisa meningkatkan kemampuan Bahasa Jepang,” imbuhnya.

Tahun ini, melalui kerja sama Indonesia Japan Economic Partnership Agreement (IJEPA), Indonesia mengirim 278 TKI perawat ke Jepang. Sebanyak 66 orang untuk ditempatkan sebagai calon perawat di klinik maupun rumah sakit dan 212 orang sebagai perawat lansia di panti jompo.

Sebanyak 278 TKI perawat ini telah melewati berbagai tahapan seleksi. Salah satunya adalah proses matching atau kecocokan antara calon perawat dan pihak rumah sakit, klinik, maupun panti jompo yang akan mereka tempati. Mereka juga telah diberi pelatihan Bahasa Jepang selama 6 bulan sebelum diberangkatkan.

Di Jepang, para calon perawat akan berkerja dengan status magang terlebih dahulu. Mereka harus menempuh ujian nasional di Jepang untuk bisa menjadi perawat.

Aang Nurzaman (24), salah satu calon perawat, mengaku ingin mendapat pengalaman lebih di Jepang. Pria lulusan D-3 Akademi Keperawatan YPIB Majalengka ini juga berharap lulus sehingga dapat membantu perekonomian keluarga. Aang memilih menjadi care worker karena pengalamannya sebagai perawat baru satu tahun.

Sama halnya dengan Maria Yunita Goma (24), lulusan Sekolah Tinggi Ilmu Kesehatan Citra Husada Mandiri, Kupang, Nusa Tenggara Timur. “Ingin membantu ekonomi keluarga. Ingin mempelajari teknologi keperawatan di Jepang juga. Semoga bisa lulus ujian nasional,” kata Yunita.


Rekomendasi untuk anda
25th

Tulis komentar dengan menyertakan tagar #JernihBerkomentar dan #MelihatHarapan di kolom komentar artikel Kompas.com. Menangkan E-Voucher senilai Jutaan Rupiah dan 1 unit Smartphone.

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar di artikel lainnya
Close Ads X