Kompas.com - 11/07/2015, 16:15 WIB
EditorLusia Kus Anna

SEMARANG, KOMPAS — Di kota-kota besar di Indonesia, kematian ibu melahirkan kerap terjadi meski fasilitas kesehatan tersedia dan mudah diakses. Hal itu karena keterlambatan penanganan gawat darurat di rumah sakit dan mekanisme rujukan dalam jaminan kesehatan nasional butuh waktu lama. Padahal, masa persalinan amat pendek.

Ketua Tim Program Expanding Maternal and Newborn Survival (EMAS) Jawa Tengah Hartanto Hardjono, Jumat (10/7), di Kota Semarang, mengungkapkan, penyebab utama kematian ibu melahirkan ialah perdarahan, preeklamsia dan eklamsia, serta infeksi.

"Kondisi itu sebenarnya bisa dicegah atau ditangani secepat mungkin. Sayangnya, kerap terjadi, penanganan kegawatdaruratan di RS amat kurang, terutama untuk ibu melahirkan. Persalinan itu memiliki periode sangat pendek. Kalau terlambat ditangani, itu sangat fatal," kata Hartanto.

Meski Badan Penyelenggara Jaminan Sosial (BPJS) Kesehatan memasukkan kategori persalinan dalam kegawatdaruratan, dalam praktiknya tak semua rumah sakit siap dan menangani dengan baik. Keputusan klinis yang harus diambil secepatnya saat kondisi kritis untuk menentukan tindakan juga tak diputuskan dalam waktu cepat.

Pemanfaatan teknologi

"Sebetulnya ada sistem yang memanfaatkan teknologi untuk memudahkan sistem rujukan, yaitu Sistem Informasi dan Komunikasi untuk Jejaring Rujukan. Namun, sistem ini tak dimanfaatkan secara optimal. Pasien yang akan datang ke RS kerap dijawab bahwa kamar penuh," kata Hartanto.

Menurut Survei Demografi dan Kesehatan Indonesia 2012, angka kematian ibu secara nasional 359 per 100.000 kelahiran hidup. Di Kota Semarang, dinas kesehatan setempat melaporkan, angka kematian ibu (2013) mencapai 29 dari 26.547 kelahiran.

Di Jawa Tengah, ada 12 kabupaten/kota yang angka kematian ibu tinggi, yakni Kabupaten Brebes, Kabupaten Tegal, Kabupaten Banyumas, Kabupaten Cilacap, Kabupaten Pekalongan, Kabupaten Grobogan, Kota Semarang, Kabupaten Batang, Kabupaten Kendal, Kabupaten Pemalang, Kabupaten Pati, dan Kabupaten Banjarnegara.

Di Indonesia, Chief of Party EMAS Anne Hyre menyebutkan, masalah kematian ibu dan bayi kompleks. Di kawasan timur Indonesia dan pedalaman, kondisi geografis menjadi kendala utama. Namun, di perkotaan yang fasilitas kesehatan lengkap seharusnya angka kematian ibu dan bayi bisa ditekan.

Maka dari itu, pihaknya membuat nota kesepahaman dengan sejumlah rumah sakit yang berkomitmen menangani rujukan kasus persalinan. Di Semarang, nota kesepahaman disepakati dengan RS dr Kariadi, RSUD Tugurejo, RSUD Semarang, RS Islam Sultan Agung, RS Panti Wilasa Citarum dan RS St Elisabeth Semarang.

Kepala Bidang Kesehatan Keluarga Dinas Kesehatan Kota Semarang Purwanti Susantini, memaparkan, sistem rujukan diperbaiki, tetapi sistem belum berjalan baik. Selain soal sistem, kasus kematian ibu melahirkan umumnya karena risiko tinggi pada ibu, seperti hamil di usia muda atau di atas usia 40 tahun, dan ada penyakit bawaan.

"Kami persiapkan peraturan daerah demi menekan angka kematian ibu dan bayi. Dengan ada tambahan regulasi, semua pihak diharapkan menaruh perhatian pada soal ini," ujarnya. (UTI)

Dapatkan update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari Kompas.com. Mari bergabung di Grup Telegram "Kompas.com News Update", caranya klik link https://t.me/kompascomupdate, kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.


Video Pilihan

Rekomendasi untuk anda
26th

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar dan menangkan e-voucher untuk 90 pemenang!

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar di artikel lainnya
Close Ads
Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.