Kompas.com - 02/12/2015, 08:00 WIB
|
EditorLusia Kus Anna
JAKARTA, KOMPAS.com - Kasus HIV/AIDS di Indonesia merupakan fenomena gunung es. Banyak kasus yang tidak diketahui atau tidak muncul ke permukaan. Penularan HIV akhirnya terus terjadi.

Berdasarkan data kumulatif Kementerian Kesehatan dari tahun 1987 hingga September 2015, kasus HIV/AIDS tertinggi ada pada ibu rumah tangga, yaitu 9.096 kasus. Kemudian disusul tenaga non profesional atau karyawan dengan 8287 kasus, dan wiraswasta sebanyak 8.037 kasus.

Direktur Pengendalian Penyakit Menular Langsung Kemenkes RI, Sigit Priohutomo mengatakan deteksi dini dengan melakukan tes merupakan langkah penting dalam pengendalian penyakit ini.

Masalahnya, banyak orang merasa dirinya tidak berisiko sehingga enggan melakukan tes. Contohnya, yaitu ibu rumah tangga (IRT). IRT bukan kelompok berisiko tinggi tertular HIV karena lebih sering berada di rumah, tidak menggunakan narkoba suntik, tidak menjadi penjaja seks maupun pembeli seks.

Tapi jumlah orang dengan HIV/AIDS (ODHA) tertinggi justru  pada kelompok ibu rumah tangga. Kebanyakan ibu rumah tangga tertular HIV saat berhubungan seksual dengan suaminya. Adapun suaminya terinfeksi HIV karena melakukan seks tidak aman dengan membeli seks atau menggunakan narkoba suntik.

"Sekarang tes HIV juga dilakukan ke populasi umum, seperti ibu rumah tangga dan ibu hamil. Bukan hanya kelompok berisiko tinggi," kata Sigit dalam diskusi di Gedung Kementerian Kesehatan RI, Jakarta, Senin (30/11/2015).

Selain itu, stigma dan diskriminasi juga menjadi penyebab seseorang tak mau melakukan tes HIV. Jangankan pengobatan, untuk menjalani tes HIV pun takut dipandang negatif oleh masyarakat sekitar.

Untuk itu, Sigit mengajak siapa pun untuk melakukan tes HIV. Menurutnya, semakin banyak orang yang dites HIV, maka makin banyak kasus HIV yang diketahui. Dengan begitu, penularan pun bisa langsung dicegah.

ODHA pun dapat menjalani terapi ARV untuk bisa meningkatkan kualitas hidupnya. "Kita mengajak semua orang untuk mengetahui status HIV. Kalau sekarang ini dikasih tahu, dia enggak akan nularin ke orang lain. Persoalannya mereka belum tahu kalau HIV. Ayo kita bareng-bareng untuk melakukan tes. Siapa pun, deh," kata Sigit.


Dapatkan update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari Kompas.com. Mari bergabung di Grup Telegram "Kompas.com News Update", caranya klik link https://t.me/kompascomupdate, kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.

Baca tentang

Video Pilihan

Rekomendasi untuk anda
26th

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar dan menangkan e-voucher untuk 90 pemenang!

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar di artikel lainnya
Close Ads
Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.