Mikrosefali dan Efeknya pada Perkembangan Bayi

Kompas.com - 29/01/2016, 18:57 WIB
Bayi Luzia asal Brasil menderita mikrosefali karena diduga terinfeksi virus ZIka yang ditularkan melalui nyamuk. AP Photo/Felipe DanaBayi Luzia asal Brasil menderita mikrosefali karena diduga terinfeksi virus ZIka yang ditularkan melalui nyamuk.
|
EditorBestari Kumala Dewi

KOMPAS.com - Ibu hamil kini diminta untuk berpikir dua kali sebelum melakukan perjalanan ke negara-negara Amerika Latin dan Karibia demi memerangi peningkatan kasus Zika dan hubungannya dengan mikrosefali—suatu kondisi yang jarang, namun fatal karena menyebabkan otak bayi yang belum lahir menyusut.

Virus Zika kini dinyatakan telah menyebar luas di Amerika dengan jumlah orang yang terinfeksi antara 3-4 juta penduduk selama 12 bulan terakhir, kepala WHO mengatakan Kamis kemarin.

"Zika harus mendapatkan tingkat kewaspadaan yang tinggi," Dr. Margaret Chan, Direktur Jenderal WHO mengatakan kepada anggota dewan eksekutif organisasi lainnya.

Sebanyak 80% dari mereka yang terinfeksi virus Zika bahkan tidak merasa sakit dan sebagian besar memiliki gejala yang relatif ringan seperti demam, ruam, nyeri sendi atau mata merah. Tapi ada kekhawatiran besar tentang bahaya bagi ibu hamil dan bayi dalam kandungan.

Chan mengatakan, virus Zika sejalan dengan peningkatan tajam jumlah kelahiran bayi dengan kepala abnormal atau mikrosefali.

Dr Bruce Aylward dari WHO memperingatkan, tidak ada hubungan yang pasti antara Zika dan gangguan mikrosefali, tetapi hal ini tetap perlu menjadi perhatian. Sedangkan, Dr. Anne Schuchat  dari The Centers for Disease Control and Prevention mengatakan ada dugaan hubungan yang "kuat" antara Zika dan mikrosefali.

 

Apa itu mikrosefali?

“Bayi dengan mikrosefali memiliki otak dan tengkorak abnormal berukuran kecil untuk usia mereka, di dalam rahim hingga pada saat lahir, dengan berbagai tingkat kerusakan otak sebagai efeknya. Kondisi ini bisa disebabkan karena beberapa faktor: infeksi, virus, racun atau faktor genetik yang tidak diketahui,” Jean-Francois Delfraissy dari France's Inserm Medical Research Institute.


Apa konsekuensi bagi bayi?

“Dalam kasus-kasus serius, mikrosefali bisa menyebabkan kematian dini. Jika otak belum atau tidak berkembang, tubuh tidak dapat berfungsi dengan baik. Di Polinesia Perancis (salah satu wilayah yang terkena dampak), cacat ini menyebabkan sebagian besar bayi lahir mati,” Andre Cabie, kepala bagian penanganan infeksi penyakit di University Hospital of Martinique.

Halaman:
Baca tentang

25th

Tulis komentar dengan menyertakan tagar #JernihBerkomentar dan #MelihatHarapan di kolom komentar artikel Kompas.com. Menangkan E-Voucher senilai Jutaan Rupiah dan 1 unit Smartphone.

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar di artikel lainnya
Close Ads X