Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Kompas.com - 17/02/2016, 19:55 WIB
|
EditorBestari Kumala Dewi
JAKARTA, KOMPAS.com - Munculnya wabah virus Zika di Amerika Selatan yang dikaitkan dengan kasus bayi lahir dengan mikrosefali masih diperdebatkan oleh para peneliti dunia. Bahkan, muncul dugaan virus Zika merupakan bioterorisme atau teror menggunakan senjata biologis yang memang sengaja dilakukan.

Menanggapi hal itu, Direktur Lembaga Biologi Molekuler Eijkman Amin Soebandrio mengatakan, masalah virus Zika harus mengedepankan bukti ilmiah.

"Kita bisa saja berandai-andai, tapi kita sebaiknya mengeluarkan statement (pernyataan) berdasarkan bukti ilmiah yang cukup. Saat ini, belum ada bukti cukup kuat virus Zika baik kesengajaan atau kecelakaan," ujar Amin saat ditemui di Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia, Jakarta, Rabu (17/2/2016).

Amin mengatakan, penelitian virus Zika sebagai penyebab bayi lahir dengan mikrosefali sejauh ini memang masih dugaan. Mikrosefali adalah gangguan perkembangan otak yang menyebabkan bayi lahir dengan ukuran kepala kecil. Penelitian lain juga menemukan banyak wanita hamil yang terinfeksi Zika, tetapi bayinya lahir normal.

"Memang kita baru tahap dugaan kuat, belum ada korelasi pasti zika yang menyebabkan mikrosefali," kata Amin.

Virus Zika pun sebenarnya sudah ada sejak puluhan tahun lalu. Di Indonesia, virus Zika pernah terdeteksi di Klaten, Jawa Tengah tahun 1981 dan kasus terbaru ditemukan di Jambi tahun 2015.

Zika juga dikenal hanya sebagai virus ringan jika menular ke manusia. Bahkan, penyakitnya lebih ringan dari chikungunya dan demam berdarah dengue. "Gejalanya ringan, belum ada pengobatannya dan bisa sembuh sendiri," lanjut Amin.

Sementara itu, sebelumnya sekelompok dokter di Argentina mengatakan, bukan viru Zika yang menyebabkan mikrosefali, melainkan zat kimia dalam larvasida yang disebut Pyriproxyfen. Lavarsida itu dibuat oleh perusahaan Jepang Sumitomo Chemical yang ditambahkan dalam sumber air minum warga Brasil tahun 2014.

Dapatkan update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari Kompas.com. Mari bergabung di Grup Telegram "Kompas.com News Update", caranya klik link https://t.me/kompascomupdate, kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.

Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca tentang
Video rekomendasi
Video lainnya

Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Rekomendasi untuk anda
27th

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar dan menangkan e-voucher untuk 90 pemenang!

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
komentar di artikel lainnya
Verifikasi akun KG Media ID
Verifikasi akun KG Media ID

Periksa kembali dan lengkapi data dirimu.

Data dirimu akan digunakan untuk verifikasi akun ketika kamu membutuhkan bantuan atau ketika ditemukan aktivitas tidak biasa pada akunmu.

Bagikan artikel ini melalui
Oke
Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.

Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+