Kompas.com - 27/04/2016, 16:19 WIB
Ilustrasi ThinkstockphotosIlustrasi
|
EditorLusia Kus Anna

JAKARTA, KOMPAS.com - Setiap orang rasanya pernah mengalami kesemutan. Namun, tak semua kesemutan merupakan suatu hal yang normal. Kesemutan bisa jadi tanda awal penyakit dan kerusakan saraf tepi neuropati. Bagaimana membedakannya?

Konsultan Neurologis Prof. Dr. dr. Moh Hasan Machfoed, SpS (K) mengungkapkan, kesemutan yang normal umumnya terjadi ketika kita dengan sengaja menutup aliran darah, misalnya terlalu lama duduk menyilangkan kaki.

"Duduk bersila, lalu kesemutan, tapi setelah kaki diluruskan kesemutannya hilang. Itu wajar," kata Hasan dalam acara kampanye Lawan Neuropati di Jakarta, Rabu (27/4/2016).

Sementara itu, kesemutan akibat penyakit neuropati, gejalanya muncul dengan sendirinya. Misalnya, kesemutan tiba-tiba terjadi saat duduk di kursi.

Ketua Umum PP Perhimpunan Dokter Spesialis Saraf Indonesia (PERDOSSI) itu mengatakan, frekuensi kesemutan berbeda-beda setiap orang. Ada yang setiap hari bisa mengalami kesemutan.

Dr. Manufaluthy Hakim, SpS (K) menambahkan, kesemutan pada penyakit neuropati terjadi secara berulang, serta hilang dan timbul. Jika dibiarkan, bisa menyebabkan mati rasa.

"Pada tahap lanjut, neuropati bisa menyebabkan gangguan penurunan motorik, sensasi rasa, hingga depresi," kata Luthy.

Dapatkan informasi, inspirasi dan insight di email kamu.
Daftarkan email

Selain kesemutan, sering kram, dan kebas juga bisa menjadi tanda neuropati. Kondisi tersebut dapat disebabkan karena penuaan, diabetes, dan defisiensi vitamin B. Penyebab lainnya, akibat infeksi penyakit, trauma, dan penjepitan saraf.

Gaya hidup seperti sering mengetik gadget, mengendarai motor, mobil, duduk lama di posisi yang sama, hingga sering memakai sepatu hak tinggi merupakan risiko neuropati. Neuropati dapat dicegah dengan cukup istirahat, olahraga secara teratur, gizi seimbang dan konsumsi vitamin seperti B1, B2, dan B12.

Dapatkan update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari Kompas.com. Mari bergabung di Grup Telegram "Kompas.com News Update", caranya klik link https://t.me/kompascomupdate, kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.


Rekomendasi untuk anda
26th

Ada hadiah voucher grab senilai total Rp 6.000.000 dan 1 unit smartphone.

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar.

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.

Terkini Lainnya

Pendarahan Pasca Melahirkan

Pendarahan Pasca Melahirkan

Penyakit
Yang Sebaiknya Dilakukan Saat Mata Terkena Cairan Hand Sanitizer

Yang Sebaiknya Dilakukan Saat Mata Terkena Cairan Hand Sanitizer

Health
Penyakit Addison

Penyakit Addison

Penyakit
11 Cara Menjaga Kesehatan Mata yang Baik Diperhatikan

11 Cara Menjaga Kesehatan Mata yang Baik Diperhatikan

Health
8 Penyebab Selangkangan Hitam, Bisa Terkait Penyakit

8 Penyebab Selangkangan Hitam, Bisa Terkait Penyakit

Health
3 Gejala Ejakulasi Dini yang Perlu Diperhatikan

3 Gejala Ejakulasi Dini yang Perlu Diperhatikan

Health
Penis Gatal

Penis Gatal

Penyakit
9 Bahaya Obesitas yang Perlu Diwaspadai

9 Bahaya Obesitas yang Perlu Diwaspadai

Health
Premenstrual Syndrome (PMS)

Premenstrual Syndrome (PMS)

Penyakit
Vitiligo pada Bayi, Kenali Penyebab dan Cara Menyembuhkannya

Vitiligo pada Bayi, Kenali Penyebab dan Cara Menyembuhkannya

Health
Gangguan Pendengaran

Gangguan Pendengaran

Penyakit
Apakah Flu Penyakit yang Berbahaya?

Apakah Flu Penyakit yang Berbahaya?

Health
Fenilketonuria

Fenilketonuria

Penyakit
Apakah Demam Berdarah (DBD) Menular?

Apakah Demam Berdarah (DBD) Menular?

Health
Hiperemesis Gravidarum

Hiperemesis Gravidarum

Penyakit
komentar di artikel lainnya
Close Ads X
Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.