Kompas.com - 13/06/2016, 07:35 WIB
|
EditorBestari Kumala Dewi

KOMPAS.com - Studi yang dipublikasikan dalam jurnal Scientific Reports menjelaskan, saat ada dua orang pria yang bekerja sama, otak mereka mampu terhubung satu sama lain, begitu juga ketika dua wanita melakukan kerja sama tim, otak mereka mudah menjadi kompak satu sama lain.

Sayangnya, saat yang bekerja sama adalah tim yang terdiri atas pria dan wanita, aktivitas otak mereka sulit bahkan tidak sinkron.

"Tidak sinkron di sini berarti ada beberapa perbedaan dalam cara berpikir saat pria dan wanita bekerja sama, sehingga butuh waktu lebih lama untuk bisa kompak," kata Dr. Allan Reiss, seorang profesor psikiatri dan ilmu perilaku di Stanford university School of Medicine, dan penulis senior studi tersebut.

Dalam studi tersebut, para peneliti ingin memahami apa yang terjadi di otak ketika pria dan wanita diharuskan bekerja sama atau melakukan aktivitas secara bersama-sama. Mereka melakukan scan otak pada 111 pasang peserta, yang diminta untuk saling bekerja sama untuk menyelesaikan tugas komputer.

Sebanyak 39 pasangan terdiri atas dua pria, 34 pasang terdiri atas satu pria dan satu wanita, 38 pasang terdiri atas dua wanita.

Tak satu pun dari peserta saling kenal sebelum melakukan percobaan, para peneliti mencatat. Tiap pasangan diberi 40 kali percobaan untuk menyinkronkan waktu mereka dan berapa cepat mereka dapat melakukannya.

Para peneliti menggunakan teknik pencitraan yang disebut "hyperscanning" untuk mengukur aktivitas otak setiap orang selama tugas. Hyperscanning bisa dilakukan baik saat peserta duduk tegak maupun bergerak.

Para peneliti menemukan bahwa dalam pasangan sesama jenis, aktivitas otak mereka relatif sama dan mudah tersinkronisasi.

Sebaliknya, dalam pasangan berbeda jenis, para peneliti tidak menemui sinkronisasi aktivitas otak, yang selanjutnya menunjukkan bahwa setiap jenis kelamin memiliki strategi kognitif yang berbeda ketika mereka diminta untuk bekerja sama, kata Joseph Baker, seorang psikiatri dan peneliti postdoctoral di Stanford, yang juga penulis dari studi tersebut.

Studi ini merupakan temuan pertama dalam bidang ini dan bahwa penelitian lebih lanjut diperlukan untuk sepenuhnya memahami mekanisme otak yang mendasari kerja sama antara pria dan wanita, kata para peneliti.

Halaman Selanjutnya
Halaman:

Video Pilihan

Rekomendasi untuk anda
26th

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar dan menangkan e-voucher untuk 90 pemenang!

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar di artikel lainnya
Close Ads
Verifikasi akun KG Media ID
Verifikasi akun KG Media ID

Periksa kembali dan lengkapi data dirimu.

Data dirimu akan digunakan untuk verifikasi akun ketika kamu membutuhkan bantuan atau ketika ditemukan aktivitas tidak biasa pada akunmu.

Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.