Muda dan Terjerat Bunuh Diri

Kompas.com - 13/09/2016, 13:35 WIB
Ilustrasi ThinkstockphotosIlustrasi
EditorLusia Kus Anna

Bunuh diri bisa dilakukan siapa pun, anak sampai lanjut usia, tetapi jumlah terbanyak pada remaja dan warga dewasa muda, usia 15-29 tahun. Masa pematangan otak, fisik, dan emosional membuat mereka ada di tahap kritis perkembangan. Namun, itu kerap diabaikan orang dewasa di sekitarnya.

Pada kasus yang ditelusuri Kompas, ada upaya bunuh diri seorang pria dewasa muda (20) di Jakarta dari keluarga berada dan jadi selebritas media sosial. Ia tak menunjukkan gejala depresi atau perubahan emosi drastis, tetapi ada kecenderungan bunuh diri dan masih ingin bunuh diri. Sepuluh tahun lalu, seorang anggota keluarganya bunuh diri.

"Pemicunya kompleks, tidak bisa disederhanakan hanya karena soal pola asuh atau keimanan," kata Koordinator Into The Light, komunitas pencegahan bunuh diri di Jakarta, Benny Prawira, Minggu (4/9).

Percobaan bunuh diri juga dilakukan seorang perempuan dewasa muda (30) di Jakarta yang putus dengan kekasihnya, karena sang pacar memilih sahabatnya sebagai pacar baru. Meski seperti drama, fenomena itu banyak dialami kaum muda. Penolakan cinta jauh lebih menyakitkan dibandingkan penolakan untuk berhubungan seksual.

Upaya serupa dilakukan perempuan muda (25) di Jakarta yang lelah atas desakan keluarga agar segera menikah. Namun, bunuh diri itu sebatas dalam pikiran, belum sampai tahap perencanaan rinci, karena orangtua membayangi pikirannya. Tekanan lingkungan bisa mendorong seseorang bunuh diri.

Adele Ryan McDowell dalam artikel Understanding Teen Suicide Helps Make Sense of the Heartbreak di huffpost.com, Kamis (8/9), mengatakan, percintaan hanya salah satu faktor risiko pemicu pemuda bunuh diri. Di balik itu, banyak soal berkait, mulai dari patah hati, kehilangan, ataupun rasa malu.

Bunuh diri kerap dianggap solusi permanen jangka pendek. Anak muda yang berusaha bunuh diri merasa tak dipahami dan dibenci, tapi tak tahu jalan keluar dari masalah. Mereka merasa sendiri dan orangtua tak peduli atau tak membantu. Risiko kian besar jika mereka terpapar alkohol dan obat terlarang.

"Remaja kerap mengonstruksikan dunia secara hitam putih, tak ada ide bahwa dalam hidup ada pilihan lain," katanya.

Masa muda ialah tahap membingungkan, riskan, dan sensitif. Mereka menghadapi banyak kesulitan fisik, emosional, mental, dan sosial. Otak mereka belum matang sepenuhnya. Sementara perkembangan hormon memicu perubahan besar emosinya.

Mereka juga berusaha menemukan jati diri, lepas dari bayang-bayang orangtua, berusaha diterima secara sosial dan jadi individu bebas. Mereka ingin mencoba apa pun, termasuk hal tabu. Di sisi lain, mereka jadi sulit bernegosiasi, bisa berlaku ekstrem dan dramatis. "Tahap ini jadi masa sulit bagi orangtua untuk mengasuh dan melindungi anak mereka," kata Adele.

Menurut Benny, meski remaja menghadapi masa penuh tantangan dan gejolak, banyak pihak, khususnya orang dewasa, tak paham kondisi itu. Remaja kerap mencari perhatian dengan tingkah laku kekanak-kanakan, tapi itu sering dilakukan untuk mencari bantuan atas masalah sesungguhnya yang dihadapi.

Halaman:
Dapatkan Smartphone dan Voucher Belanja dengan #JernihBerkomentar di artikel ini! *S&K berlaku

Dapatkan Smartphone dan Voucher Belanja dengan #JernihBerkomentar dibawah ini! *S&K berlaku
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar di artikel lainnya
Close Ads X