Kompas.com - 08/12/2016, 20:29 WIB
Ilustrasi. ThinkstockIlustrasi.
|
EditorBestari Kumala Dewi

KOMPAS.com - Kehamilan risiko tinggi adalah kehamilan yang berisiko menyebabkan terjadinya bahaya dan komplikasi yang lebih besar terhadap ibu maupun janin yang dikandungnya selama kehamilan, persalinan ataupun masa nifas bila dibandingkan dengan kehamilan, persalinan dan nifas normal.

Yang termasuk kehamilan risiko tinggi adalah kehamilan yang dijalani oleh misalnya wanita yang menderita penyakit jantung, diabetes, keguguran berulang, asthma, gangguan paru, thalasemia, dan lain sebagainya.

Bagi mereka-mereka ini, sangat disarankan untuk memeriksakan diri ke dokter sub-spesialis fetomaternal.

Sub-spesialisasi fetomaternal adalah salah satu cabang kedokteran kandungan dan kebidanan (obstetri dan ginekologi). Dengan ilmunya, dokter fetomartenal dapat mendiagnosa atau mendeteksi kelainan pada janin atau ibu dengan lebih akurat dan spesifik.

Berdasarkan pemahaman ini, pemeriksaan oleh dokter fetomartenal dimaksudkan untuk mendeteksi kelainan yang mungkin terjadi pada ibu dan bayi dalam kandungan secara dini.

Setelah itu, dokter bisa memberi saran pengobatan atau tindakan yang tepat untuk mengatasinya.

"Contohnya, dengan menggunakan alat USG tiga atau empat dimensi, saya pernah mendeteksi adanya kelainan janin tanpa tengkorak pada salah satu pasien. Dokter jadi tahu risiko adanya proses persalinan yang akan lebih lama dari dari persalinan pada umumnya, jika sang Ibu ingin tetap memertahankan bayinya,” kata Spesialis kebidanan dan kandungan, Konsultan Fetomaternal Rumah Sakit Pondok Indah, dr. Azen Salim, Sp.OG-KFM, saat acara Anniversary 30th Rumah Sakit Pondok Indah Group "Teknologi Medis Dari Masa ke Masa" di Jakarta (8/12).

Dapatkan informasi, inspirasi dan insight di email kamu.
Daftarkan email

Doter Azen menambahkan, proses persalinan menjadi lebih lama karena daya dorong bayi tanpa tengkorak tidak sekuat bayi dengan tengkorak normal. Dari situ, kami jadi tahu harus memersiapkan apa saja untuk menghadapi proses persalinan tersebut.

Pemeriksaan oleh dokter fetomaternal bisa mendeteksi dini kelainan genetik, gangguan pembentukan organ tubuh, kemungkinan keguguran, kelahiran prematur, deteksi kelainan kromosom dan lain sebagainya.

Dalam pemeriksaan yang dijalankan, biasanya dokter sub-spesialis fetomaternal menggunakan alat ultrasonografi atau USG.

Dengan semakin majunya teknologi medis sekarang ini, dokter bisa mendapat hasil pemeriksaan yang lebih akurat dan cepat. Sementara untuk mengetahui apakah janin memiliki kelainan darah, atau kromosom, diperlukan tes lanjutan di laboratorium dengan rekomendasi dokter sub-spesialis fetomaternal.

Beberapa kelaianan atau kondisi medis abnormal pada janin, ada yang bisa diterapi, seperti misal infeksi kuman. Tapi, ada juga yang tidak.

Dalam kasus terakhir, dokter akan memberi informasi kepada pasien kemungkinan terburuk yang mungkin terjadi.

Sehingga calon ayah dan ibu bisa memersiapkan mentalnya dengan lebih baik, ketimbang jika mereka tahu dengan tiba-tiba saat persalinan, bahwa bayi yang dinanti ternyata tidak sehat.


Rekomendasi untuk anda
25th

Ada hadiah voucher grab senilai total Rp 6.000.000 dan 1 unit smartphone.

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar.

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar di artikel lainnya
Close Ads X