Kompas.com - 06/02/2017, 14:00 WIB
EditorLusia Kus Anna

Terapi komplementer

Di sisi lain, sejumlah pengobatan komplementer bisa bermanfaat. Contohnya, pengobatan herbal menambah kekebalan tubuh meski belum terbukti ilmiah dan cara kerja belum diketahui. Sementara cara kerja kemoterapi diketahui ilmiah, yakni mematikan sel kanker.

Kini, KPKN menerbitkan panduan penanganan kanker bagi dokter dan rumah sakit. Namun, itu belum sepenuhnya bisa diterapkan karena kemampuan dokter dan fasilitas terbatas. Akibatnya, diagnosis kanker luput atau penanganan kanker di RS rujukan sekunder tidak tepat.

Penyintas kanker payudara, Almaida (32), misalnya. Ia memeriksakan diri di dua RS pemerintah setelah merasa ada yang aneh di payudaranya. Dokter di dua RS itu tak mendiagnosis dirinya kena kanker. Vonis kanker ia dapatkan seusai diperiksa di RS Kanker Dharmais.

Di Indonesia, menurut Riset Kesehatan Dasar 2013, prevalensi kanker 1,4 per 1.000 warga atau 347.000 orang. Kanker terbanyak pada perempuan ialah kanker payudara dan kanker serviks. Pada pria, kanker terbanyak ialah kanker paru dan kolorektal.

Selain rumit, terapi kanker butuh biaya besar. Sebelum ada program Jaminan Kesehatan Nasional, biaya jadi kendala terbesar pasien berobat. Dengan JKN, Badan Penyelenggara Jaminan Sosial Kesehatan menanggung biaya terapi kanker. Pada 2015, BPJS Kesehatan mengeluarkan biaya Rp 2,9 triliun bagi 1.300 pasien kanker peserta JKN.

Melonjaknya pasien kanker di era JKN menyebabkan pasien yang akan dioperasi, kemoterapi, dan radioterapi menumpuk di RS rujukan. Mereka antre layanan beberapa bulan. "Sehari, 800 pasien berobat dan kasus baru kanker RS Dharmais 2.000 kasus setahun," ucap Kepala Instalasi Deteksi Dini RS Kanker Dharmais Denni Joko Purwanto.

Sebanyak 70-80 persen dari jumlah total pasien yang datang ke RS Kanker Dharmais sudah dalam stadium lanjut. Sistem rujukan dan rujuk balik belum membuat pasien dilayani sejak dini karena sedikit RS bisa menangani kanker.

Pada Sabtu, 4 Februari, semua negara memperingati Hari Kanker Sedunia bertema "Kita Bisa, Aku Bisa". Maknanya, tiap orang berperan mengurangi beban kanker. Kita bisa menjalani pola hidup sehat. Cari, pilah, dan pilih informasi kanker yang benar. (ADHITYA RAMADHAN)


Versi cetak artikel ini terbit di harian Kompas edisi 5 Februari 2017, di halaman 5 dengan judul "Cari Alternatif sampai Antre Layanan".

Dapatkan update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari Kompas.com. Mari bergabung di Grup Telegram "Kompas.com News Update", caranya klik link https://t.me/kompascomupdate, kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.

Halaman:

Video Pilihan

Rekomendasi untuk anda
26th

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar dan menangkan e-voucher untuk 90 pemenang!

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar di artikel lainnya
Close Ads
Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.