4 Dampak Buruk Penggunaan Obat yang Tak Rasional

Kompas.com - 22/03/2020, 10:01 WIB
Ilustrasi obat, obat-obatan ShutterstockIlustrasi obat, obat-obatan

KOMPAS.com – Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) pada 1985 telah menetapkan definisi rational use of medicine atau penggunaan obat secara rasional.

Penggunaan obat secara rasional berarti pasien menerima obat sesuai dengan indikasi, pada dosis yang tepat, untuk jangka waktu pemberian yang tepat, serta pada harga yang termurah baginya.

Mengacu definisi tersebut, sangat disayangkan WHO sempat mendapati sejumlah masalah mengenai penggunaan obat yang tidak rasional.

Baca juga: Cara Memilih Obat Batuk yang Tepat

Berikut ini beberapa temuannya:

  1. Lebih dari 50 persen obat diresepkan, diberikan atau dijual secara tidak tepat.
  2. Penggunaan obat secara berlebihan ( overuse), penggunaan obat secara kurag (underuse), atau penggunaan obat secara tidak tepat (misuse) sehingga berbahaya bagi manusia dan memboroskan sumber daya
  3. Lebih dari 50 persen negera tidak melakukan penerapan kebijakan yang tepat untuk mempomosikan penggunaan obat yang rasional
  4. Di negara berkembang, kurang dari 40 persen pasien di layanan kesehatan milik pemerintah dan kurang dari 30 persen di layanan kesehatan swasta tidak mendapatkan tatalaksana sesuai dengan pedoman klinis yang tepat
  5. Kurang dari 60 persen anak dengan diare akut mendapatkan terapi rehidrasi oral atau oralit, tetapi lebih dari 40 persen mendapatkan antibiotok yang tidak perlu. Padahal oralit sangat penting dalam tatalaksana semua diaere sementara antibiotik hanya untuk diare yang disebabkan oleh bakteri atau amuba
  6. Hanya 50-70 persen pasien dengan pneumonia mendapatkan antibiotik yang tepat, namun lebih dari 60 persen pasien dengan salesma mendapat antibiotik yang tidak perlu

Baca juga: 15 Manfaat Konsumsi Kunyit, Obat Demam hingga Anti Racun

Praktik penggunaan obat secara tidak rasional

Sementara itu, dr. Fransisca Handy, Sp.A dalam bukunya berjudul A-Z Penyakit Langganan Anak (2016), membeberakan ada sejumlah praktik penggunaan obat secara tidak rasional yang sering terjadi di masyarakat.

Berikut beberapa di antaranya:

  • Menggunakan terlalu banyak jenis obat (polifamasi). Puyer yang berisi banyak obat menjadi salah satu pintu gerbang polifarmasi yang tidak rasional
  • Penggunaan antibiotic dan suntikan
  • Penulisan resep yang tida sesuai dengan pedoman klinis
  • Pengobatan mandiri yang tidak tepat, tanpa pergi ke fasilitas atau tenaga kesehatan

Dampak buruk penggunaan obat yang tidak rasional

dr. Fransisca mengungkapkan, ada sejumlah dampak buruk yang bisa terjadi sebagai akibat dari penggunaan obat yang tidak rasional tersebut.

Berikut beberapa kerugiannya:

  1. Resistensi antibiotic
  2. Mengurangi kepercayaan masyarakat kepada tenaga kesehatan
  3. Efek samping obat dan kesalahan pengobatan yang membahayan tubuh
  4. Membuang biaya yang tidak perlu

Baca juga: Jangan Disepelekan, Ini 6 Manfaat Luar Biasa Konsumsi Bawang Putih

“Ingat! Pengguaan obat secara rasional bukan berarti antiobat, tetapi menempatkan obat pada porsinya. Tatalaksana penyakit harus ditentukan berdasar diagnosis dan pedoman. Obat adalah bagian dari tatalaksana yang belum tentu menjadi yang utama dan satu-satunya,” tulis dr. Fransisca.

 

Menangkan e-Voucher Belanja total jutaan rupiah. Kumpulkan poin di Kuis Hoaks/Fakta. *S&K berlaku
Ikut

Dapatkan Voucher Belanja jutaan rupiah, dengan #JernihBerkomentar di bawah ini! *S&K berlaku
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar di artikel lainnya
Close Ads X