Kompas.com - 18/08/2020, 09:02 WIB

KOMPAS.com – Stroke adalah penyakit yang bisa sangat menakutkan.

Bagaimana tidak, stroke tercatat menjadi menyebab kematian terbanyak ketiga setelah penyakit jantung dan kanker.

Penyakit yang sering disebut juga sebagai “serangan otak” tersebut juga merupakan faktor utama penyebab kecacatan serius.

Baca juga: Apakah Penderita Stroke Bisa Kembali Hidup Normal?

Meski demikian, stroke dapat dicegah dengan mengetahui dan menghindari faktor-faktor yang dapat meningkatkan risiko serangan.

Gejala pembekuan darah di otak tak hanya sakit kepala. Penderita juga bisa merasakan gangguan penglihatan sampai koordinasi tubuh.

Melansir Buku Care Your Self: Stroke (2016) oleh dr. Wening Sari, M.Kes, dr. Lili Indrawati, M.Kes, dan Catur Setia Dewi, AMF, berikut ini adalah ragam faktor risiko stroke yang harus diwaspadai:

1. Pernah terserang stroke

Seseorang yang pernah mengalami stroke, termasuk transient ischaemic attack (TIA) atau stroke ringan, rentan terserang stroke berulang.

Seseorang yang pernah mengalami TIA atau serangan stroke yang berlangsung singkat akan sembilan kali lebih berisiko mengalami stroke dibanding yang tidak pernah mengalami TIA.

2. Hipertensi

Hipertensi atau tekanan darah tinggi adalah faktor risiko tunggal yang paling sering untuk stroke iskemik maupun stroke perdarahan.

Pada keadaan hipertensi, pembuluh darah mendapat tekanan yang cukup besar.

Apabila proses tekanan berlangsung lama, dapat menyebabkan kelemahan pada dinding pembuluh darah, sehingga menjadi rapuh dan mudah pecah.

Baca juga: 8 Cara Mencegah Stroke yang Mematikan

Hipertensi juga dapat menyebabkan aterosklerosis atau penyempitan dan pengerasan pembuluh darah arteri akibat penumpukan plak pada dinding pembuluh darah, sehingga mengganggu aliran darah ke jaringan otak.

3. Penyakit jantung

Beberapa penyakit jantung, seperti fibrilasi atrial (salah satu jenis gangguan irama jantung), penyakit jantung koroner, penyakit jantung rematik, dan orang yang melakukan pemasangan katup jantung buatan akan meningkatkan risiko stroke.

4. Diabetes mellitus (DM)

Seseorang dengan diabetes rentan untuk menjadi ateroklerosis, hipertensi, obesitas, dan gangguan lemak darah.

Seseorang yang mengidap diabetes mempunyai risiko serangan stroke iskemik 2 kali lipat dibanding mereka yang tidak diabetes.

Baca juga: Kenali Kesemutan yang Bisa Jadi Tanda Stroke

5. Kolesterol tinggi

Kolesterol tinggi atau hiperkolesterolemia dapat menyebabkan aterosklerosis.

Aterosklerosis sendiri berperan dalam menyebabkan penyakit jantung koroner dan stroke.

6. Merokok

Perokok dilaporkan lebih rentan mengalami stroke dibandingkan bukan perokok.

Nikotin dalam rokok dapat membuat jantung bekerja keras karena frekuensi denyut jantung dan tekanan darah meningkat.

Nikotin juga bisa mengurangi kelenturan arteri serta dapat menimbulkan aterosklerosis.

7. Gaya hidup tidak sehat

Diet tinggi lemak, aktivitas fisik minim, serta stres emosional dapat meningkatkan risiko seseorang terkena stroke.

Seseorang yang sering mengonsumi makanan tinggi lemak dan kurang melakukan aktivitas fisik rentan mengalami obesitas, diabetes mellitus, aterosklerosis, penyakit jantung dan stroke.

Baca juga: 5 Bahaya Nikotin dalam Rokok Elektrik

Seseorang yang sering mengalami stres juga dapat memengaruhi kondisi fisiknya.

Stres dapat merangsang tubuh mengeluarkan hormon-hormon yang memengaruhi jantung dan pembuluh darah, sehingga berpotensi meningkatkan risiko serangan stroke.

7 hal di atas merupakan faktor risiko stroke yang dapat dikontrol atau dimodifikasi, sehingga jika ingin mecegah stroke, seseorang dapat menghindari berbagai faktor risiko tersebut.

Sementara, jika faktor risiko stroke itu sudah ada, maka seseorang dapat segera melakukan upaya terapi atau pengobatan agar semakin terhindar dari penyakit mematikan ini.

8. Usia

Usia adalah faktor risiko stroke yang tidak dapat dikontrol atau dimodifikasi.

Padahal, risiko seseorang mengalami stroke dapat meningkat seiring bertambahnya usia.

Risiko semakin meningkat ketika setelah seseorang menginjak usia 55 tahun.

Usia terbanyak orang terkena serangan stroke adalah 65 tahun ke atas.

Pernah ada laporan, dari 2.065 pasien stroke akut yang dirawat di 28 rumah sakit (RS) di Indonesia, 35,8 persen berusia di atas 65 tahun dan 12,9 persen kurang dari 45 tahun.

Baca juga: Bagaimana Kolesterol Tinggi Bisa Sebabkan Kematian Mendadak?

9. Jenis kelamin

Stroke dilaporkan menyerang laki-laki 19 persen lebih banyak dibandingkan wanita.

Meski demikian, baik pria maupun wanita tetap harus mewaspadai penyakit mematikan ini.

10. Keturunan

Risiko stroke akan meningkat jika ada orangtua atau saudara kandung yang lebih mengalami stroke maupun TIA.

Dapatkan update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari Kompas.com. Mari bergabung di Grup Telegram "Kompas.com News Update", caranya klik link https://t.me/kompascomupdate, kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.


Rekomendasi untuk anda
27th

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar dan menangkan e-voucher untuk 90 pemenang!

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar di artikel lainnya
Close Ads
Verifikasi akun KG Media ID
Verifikasi akun KG Media ID

Periksa kembali dan lengkapi data dirimu.

Data dirimu akan digunakan untuk verifikasi akun ketika kamu membutuhkan bantuan atau ketika ditemukan aktivitas tidak biasa pada akunmu.

Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.