Kompas.com - 06/11/2020, 21:45 WIB

SOLO, KOMPAS.com - Penyebaran virus corona di Indonesia memukul banyak pihak, termasuk para pelaku usaha mikro kecil menengah (UMKM).

Tapi, berkat modal semangat pantang menyerah dan bersedia patuh terhadap anjuran pemerintah, sebagian pengusaha kecil ini sanggup secara perlahan-lahan bangkit dari keterpurukan.

Hidayat, 35, baru saja menyajikan mi ayam kepada salah seorang pembeli di warung makannya di Jl. Jend. Gatot Subroto, Desa Ngijo, Tasikmadu, Karanganyar, Jawa Tengah (Jateng), Jumat (6/11/2020) pukul 13.20 WIB. Itu adalah pelanggan ke-16 yang dia layani.

Laki-laki berbadan tinggi kurus ini bersyukur semakin banyak pelanggan yang mulai berdatangan kembali ke tempat usahanya.

Pada awal masa pandemi Covid-19, untuk bisa mendapatkan 10 pembeli dalam sehari saja, dia kewalahan.

Hidayat bahkan sempat beberapa kali harus menutup lapak di luar jadwal karena sepinya pengunjung pada periode Maret-Juli 2020.

Baru pada Agustus, laki-laki asal Jumapolo, Karanganyar ini mulai berjualan kembali secara konsisten sebanyak enam hari dalam seminggu.

Setiap harinya, dia berjualan dari pukul 09.00 sampai 20.00 WIB.

Saat berjualan tersebut, Hidayat mengaku tentu khawatir dengan penularan Covid-19. Tapi apa daya, di sisi lain dapurnya harus terus ngebul.

Lagi pula, dia merasa, pemerintah sudah memberikan kisi-kisi keselamatan dalam menghadapi pandemi.

“Yang terpenting sekarang saya harus disiplin menerapkan protokol kesehatan,” tutur dia saat berbincang dengan Kompas.com, Jumat siang.

Oleh karena itu, selama berjualan di tengah pandemi, Hidayat dan istri selalu mengenakan masker.

Baginya, penggunaan masker bukan hanya penting untuk melindungi diri sendiri, tapi juga orang lain agar tidak mudah tertular virus corona.

Baca juga: 8 Kesalahan Sepele Pakai Masker yang Bikin Tak Efektif Cegah Covid-19

Untuk diri sendiri, dia bahkan merasa pemakaian masker punya manfaat dobel, yakni tidak saja menguntungkan secara kesehatan, tapi juga menjalar ke peningkatan omzet.

Alasannya, penggunaan masker ini dipercaya bisa membawa daya tarik tersendiri bagi sebagian masyarakat.

Hidayat yakin orang-orang yang peduli akan kesehatan, besar kemungkinan akan lebih memilih membeli makanan maupun barang keperluan di pedagang yang mau menerapkan protokol kesehatan daripada yang tidak melakukannya.

Dengan begitu, dia menganggap penggunaan masker turut berkontribusi pada kenaikan jumlah pelanggannya selama pandemi.

Hidayat pun mengaku beberapa kali sempat menerima apresiasi dari pembeli atas sikapnya yang konsisten mengenakan masker.

"Terus-terusan pakai masker memang tidak nyaman, tapi saya rasa kerugian itu tak sebanding dengan manfaat yang bisa didapatkan," ucap dia.

Selain mengenakan masker, Hidayat telah menyediakan tempat cuci tangan dengan sabun yang bisa diakses pembeli sebagai bagian dari upaya pencegahan Covid-19.

Dia juga sudah mencoba mengatur sedemikian rupa posisi tempat duduk di warung makannya agar lebih berjarak.

Tapi, tak bisa dipungkiri memang, masih ada pembeli yang tidak patuh terhadap protokol kesehatan dengan datang tidak mengenakan masker, tidak cuci tangan sebelum dan sesudah masuk, termasuk menggeser tempat duduk menjadi lebih dekat.

Mengenai hal ini, Hidayat mengaku hanya bisa pasrah.

Dia sebenarnya ingin mengingatkan pembeli untuk bisa menjaga keselamatan bersama.

Namun, dia khawatir hal itu malah bisa membuat pelanggan merasa tidak nyaman dan enggan datang kembali.

Terkait dilema ini, Hidayat setidaknya kini berprinsip, yang terpenting sekarang adalah dirinya harus bisa semaksimal mungkin menjaga agar jangan sampai tertular Covid-19 atau pun menularkannya ke orang lain.

"Harapan saya tentu orang lain, para pembeli juga punya semangat yang sama untuk bisa saling menjaga," ungkap dia.

Cerita hampir mirip ditunjukkan Inung, 44. Selama pandemi, penjual makanan di tepi Jl. Raya Karanganyar-Mojogedang, tepatnya di Dukuh Munggur Kidul, Desa Bejen, Karanganyar itu juga rutin mengenakan masker setiap kali berjualan.

Baca juga: Dokter: Masker Kain Masih Bisa Menahan Droplet

Tujuan utama Inung memakai masker adalah karena takut terkena Covid-19.

Ibu dua anak itu menyadari bahwa dirinya sekarang dalam posisi yang rentan tertular penyakit tersebut karena harus bertemu dengan banyak orang lain sebagai pembelinya.

"Sebenarnya takut juga untuk berjualan lagi. Tapi saya ingin tetap bisa bantu bapaknya anak-anak (dalam mencari penghasilan keluarga)," ujar dia.

Inung sangat bersyukur sejak kembali berjualan aneka sayur matang, lauk pauk, dan jajanan pasar pada April lalu, dirinya merasa tetap sehat atau tidak terindikasi tertular virus corona sampai sekarang.

Dia juga bersyukur selama dua bulan terakhir, makanan yang dia jual bisa kembali laris seperti kondisi sebelum terjadi wabah.

Inung berkeyakinan, capaian itu tidak terlepas dari dampak penggunaan masker olehnya.

“Minimal sekali saya harus pakai masker saat berjualan. Ini baik untuk kesehatan dan saya yakin bisa juga membuat para pembeli lebih nyaman," kata dia.

Benar saja, warga Ngijo, Tasikmadu, Dede Hermawan, 34, mengaku selama pandemi Covid-19, tak mau sembarangan ketika ingin membeli makanan maupun keperluan lain di luar.

Bersama istri, dia telah bersepakat akan memprioritaskan untuk membeli apa pun di tempat penjual yang menerapkan protokol kesehatan.

“Misalnya saja tadi (Kamis, 5/11/2020) malam, kami beli nasi goreng ya di tempat biasa yang memang dari awal selalu pakai masker. Saat beli sembako ke pasar atau keperluan lain, kami juga seperti itu, pasti cari dulu pedagang yang pakai masker,” ujar dia.

Pandemi dijadikan momentum perbaikan pelayanan dan produk

Saat dimintai tanggapan, Kepala Dinas Perdagangan Tenaga Kerja, Koperasi dan Usaha Kecil Menengah (Disdagnakerkop UKM) Karanganyar, Martadi, memastikan bahwa pihaknya telah mengimbau kepada para pelaku usaha di Bumi Intanpari untuk senantiasa menerapkan protokol kesehatan.

Bahkan, sejak 18 Maret lalu, Dinsdagnakerkop UKM telah mengeluarkan surat edaran (SE) yang ditujukan kepada para pelaku usaha mengenai antisipasi penanganan penyebabran virus corona.

Dalam SE ini, Pemkab meminta lima hal kepada para pemilik atau pengelola pusat perbelanjaan, toko modern, rumah makan, cafe, kedai, dan pengelola tempat-tempat berdagang atau jual beli.

Baca juga: Cuci Tangan Pakai Air Dingin atau Air Hangat, Mana yang Lebih Baik?

Pertama, semua diminta memperhatikan kebersihan dan kesehatan seluruh karyawan, produk dagangan, peralatan, serta lingkungan sekitar toko atau psuat perbelanjaan.

Kedua, memasang keran air atau wastafel disertai sabun untuk cuci tangan serta mengarahkan kepada seluruh konsumen melaksanakan cuci tangan pakai sabun sebelum menerima pelayanan.

Ketiga, mengatur formasi pelayanan, misalnya tempat duduk, tempat antrian, atau kasir berjarak aman antara pengunjung satu sama lain atau antara pengunjung dengan pelayan.

Keempat, memerintahkan kepada karyawan dan semua pihak yang berkaitan dengan pelayanan tempat usaha untuk menggunakan pelindungi diri dan pengamanan secukupnya. Misalnya, menggunaan masker, sarung tangan, dan sebaginya dalam melaksanakan layanan kepada konsumen.

Terakhir, segera menindaklajuti dan membua tidakan yang diperlukan terhadap munculnya gejala menyerupai gejala Covid-19 bagi para karyawan serta berkoordinasi dengan pusat layanan kesehatan untuk penanganan lebih lanjut.

“Kami berharap SE ini bisa dilaksanakan dengan sungguh-sungguh dan penuh tanggung jawab,” jelas dia.

Martadi memahami betul ada banyak pelaku usaha kecil maupun besar di Karanganyar yang merugi di tengah pandemi Covid-19.

Terkait perosalan ini, dia telah mempersilakan para pelaku UMKM khususnya, bisa mengakses bantuan dari pemerintah melalui Kementerian Koperasi dan UKM RI.

“Terakhir kami sudah membuka pendaftaran untuk program bantuan bagi pelaku usaha mikro (BPUM) tahap 9,” jelas dia.

Bagi para pelaku usaha yang menerima bantuan modal ini, Martadi mengingatkan, agar dapat menggunakannya dengan optimal.

"Jika ada sisa, sebaiknya jangan dibelikan ke hal-hal yang konsumtif,” tutur dia.

Martadi juga mengimbau kepada para pengusaha untuk selalu berinovasi agar bisa terus bertahan di tengah wabah. Misalnya saja, yang mulanya hanya menjual produk secara langsung atau manual, kini sebaiknya bisa dikembangkan juga secara daring.

Dia berharap para pelaku usaha dapat menyikapi wabah dengan kepala dingin.

“Saya mengajak teman-teman pelaku usaha, ayo optimis. Pandemi ini bisa dijadikan sebagai momentum untuk memperbaiki kualitas pelayanan dan produk dengan harapan ke depan bisa semakin menarik minat konsumen,” kata dia.

Baca juga: 5 Bahaya Nikotin dalam Rokok Elektrik

Dapatkan update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari Kompas.com. Mari bergabung di Grup Telegram "Kompas.com News Update", caranya klik link https://t.me/kompascomupdate, kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.


Video Pilihan

Rekomendasi untuk anda
26th

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar dan menangkan e-voucher untuk 90 pemenang!

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar di artikel lainnya
Close Ads
Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.