Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Kompas.com - 26/05/2022, 16:00 WIB
Resa Eka Ayu Sartika

Penulis

KOMPAS.com - Masih belum usai pandemi Covid-19, dunia kembali dirundung kabar tidak enak mengenai merebaknya virus cacar monyet atau monkeypox beberapa minggu terakhir.

Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) telah menaruh perhatian besar pada berbagai kasus cacar monyet yang tersebar di berbagai belahan dunia ini.

WHO memperingatkan bahwa kemungkinan virus ini akan makin menyebar di berbagai negara.

Baca juga: Cacar Monyet

Berbagai kasus muncul sejak awal Mei 2022. Melansir dari Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit Eropa (ECDC), hingga Rabu (25/05/2022), setidaknya sudah 219 kasus terkonformasi yang dilaporkan dari seluruh dunia.

Kebanyakan kasus dideteksi pada anak muda.

Di Indonesia sendiri, menurut laporan Kementerian Kesehatan (Kemenkes RI) belum ada laporan mengenai kasus cacar monyet.

"Hingga saat ini belum ada kasus (cacar monyet) yang dilaporkan dari Indonesia," kata Juru BIcara Kemenkes RI dr Mohammad Syahril, Sp.P, MPH pada konferensi pers secara virtual di Jakarta, Selasa (24/05/2022).

Meski begitu, pihak Kemenkes menyebut kita perlu tetap waspada.

Untuk itu, kita perlu mengetahui langkah-langkah pencegahannya.

Dalam upaya mencegah, Kompas.com meminta keterangan dari Dr. dr. Prasetyadi Mawardi, SpKK(K), FINSDV, FAADV di Poliklinik Infeksi Tropik KSM Ilmu Dermatologi dan Venereologi RSUD dr. Moewardi Surakarta.

"Monkeypox sebenarnya merupakan infeksi zoonosis yang disebabkan oleh Pox Virus. Menurut klasifikasi virus ini termasuk dalam famili kelompok virus Poxviridae, menyebab cacar Smallpox," kata Prasetyadi pada Jumat (20/05/2022).

"Smallpox atau Variola sudah dinyatakan tidak ada sejak puluhan tahun lalu, terkait keberhasilkan vaksinasi," sambungnya.

Baca juga: Kenali Apa itu Cacar Monyet, Asal-usul, dan Gejalanya

Penularan cacar monyet

Ditemui dalam kesempatan yang sama, Kompas.com juga mendapat keterangan dari dr. Pratiwi Prasetya Primisawitri, mahasiswa PPDS-DV yang bertugas di Poli Dermatologi Tropik RSUD dr. Moewardi.

Pratiwi menjelaskan bahwa penularan dari hewan ke manusia (zoonotik) dapat terjadi dari kontak langsung dengan darah, cairan tubuh, atau lesi kulit atau mukosa dari hewan yang terinfeksi.

"Penularan dari manusia ke manusia dapat terjadi akibat kontak dekat dengan sekret pernapasan, lesi kulit orang yang terinfeksi, atau benda yang baru saja terkontaminasi," kata Pratiwi.

"Penularan melalui saluran pernapasan biasanya memerlukan kontak yang berkepanjangan sehingga menempatkan tenaga kesehatan dan kontak dekat lainnya dari kasus aktif pada risiko yang lebih besar," sambungnya.

Selain dari kontak dekat, Prasetyadi juga menyebut bahwa ada risiko penularan dari ibu hamil ke janin.

Pencegahan cacar monyet

Lalu bagaimana cara mencegah penularan tersebut?

Beberapa langkah pencegahan yang bisa kita ambil dijelaskan oleh dr Annisa Marsha Evanti, mahasiswa PPDS-DV yang bertugas di poli Dermatologi Tropik RSUD Moewardi.

Marsha menyebut bahwa cacar monyet atau monkeypox dapat dicegah melalui perilaku hidup bersih dan sehat.

Baca juga: Fakta tentang Cacar Monyet: Cara Penularan, Masa Inkubasi, dan Gejala

Beberapa yang bisa kita lakukan, di antaranya:

  • Cuci tangan dengan sabun dan air mengalir atau menggunakan pembersih tangan berbahan dasar alkohol
  • Menghindari kontak langsung dengan tikus atau primata
  • Membatasi paparan langsung dengan darah atau daging hewan yang tidak dimasak dengan baik
  • Menghindari kontak fisik dengan orang yang terinfeksi
  • Menghindari kontak dengan material yang terkontaminasi termasuk tempat tidur atau pakaian yang digunakan penderita cacar monyet
  • Menghindari kontak dengan hewan liar atau mengonsumsi daging hewan liar.

Selain itu, Marsha juga mengingatkan pelaku perjalanan yang baru kembali dari wilayah yang terjangkit monkeypox atau cacar monyet untuk segera memeriksakan diri jika mengalami beberapa gejala.

Gejala yang dimaksud Marsha adalah:

  • Demam tinggi mendadak setelah kepulangan dari wilayah terjangkit
  • Pembesaran kelenjar getah bening
  • Ruam kulit dalam kurun waktu kurang dari 3 minggu setelah kepulangan.
Dapatkan update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari Kompas.com. Mari bergabung di Grup Telegram "Kompas.com News Update", caranya klik link https://t.me/kompascomupdate, kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.

Baca tentang
Video rekomendasi
Video lainnya

Rekomendasi untuk anda
28th

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar dan menangkan e-voucher untuk 90 pemenang!

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
komentar di artikel lainnya
Close Ads
Verifikasi akun KG Media ID
Verifikasi akun KG Media ID

Periksa kembali dan lengkapi data dirimu.

Data dirimu akan digunakan untuk verifikasi akun ketika kamu membutuhkan bantuan atau ketika ditemukan aktivitas tidak biasa pada akunmu.

Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.

Bagikan artikel ini melalui
Oke
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com