Kompas.com - 17/06/2022, 08:00 WIB

KOMPAS.com - Pernahkah Anda tiba-tiba merasa nge-blank saat melakukan aktivitas? Atau mungkin tiba-tiba sulit mengingat suatu kata atau detail yang baru saja terjadi saat Anda terlibat dalam percakapan?

Peristiwa ini biasa terjadi seiring bertambahnya usia. Tetapi jika kondisi tersebut membuat Anda sulit memusatkan perhatian atau menuangkan pikiran Anda ke dalam kata-kata, Anda mungkin mengalami apa yang orang sebut kabut otak atau brain fog.

Menurut nerupsikolog Kamini Krishnan mengatakan bahwa kabut otak adalah serangkaian gejala kognitif seperti:

  • sulit fokus
  • sulit memusatkan perhatian
  • sulit mengingat detail yang sudah dikenal
  • waktu reaksi dan pemrosesan informasi yang lambat
  • sering nge-blank.

"Kondisi ini bukanlah masalah dalam memori tetapi masalah dalam memperoleh dan memelihara informasi yang benar," kata Krishnan.

Baca juga: Antidepresan Tidak Pengaruhi Kualitas Hidup Penyintas

Penyebab brain fog

Brain fog bisa terjadi ketika respon sistem kekebalan tubuh memicu peradangan di otak. Ketika peradangan ini terjadi, hal ini bisa menyebabkan penyumbatan sementara dalam memproses informasi.

Kabut otak juga bisa disebabkan oleh stres kronis, perubahan hormonal atau ketidakseimbangan gula darah.

“Kabut otak adalah semacam manifestasi dari beberapa jenis peradangan atau respons stres kronis,” ucap Krishnan.

“Stres kronis dapat memiliki efek sekunder. Hal ini memengaruhi tidur, nutrisi, dan kemampuan fisik Anda. Masalah sekunder tersebut dapat menyebabkan atau dikaitkan dengan gangguan kejiwaan,” tambahnya.

Ada beberapa penyakit atau kondisi medis tertentu yang bisa menyebabkan kabut otak. Berikut kondisi medis yang bisa menyebabkan kabut otak:

1. Depresi dan Anxiety

Depresi dan kecemasan bisa menyebabkan peradangan saraf yang disebabkan oleh aktivasi konstan jalur adrenal hipotalamus hipofisis Anda.

Saat kita depresi dan cemas, tubuh akan mengeluarkan respon "fight atau flight". Jika respon tersebut terjadi secara konstan, hal tersebut bisa meningkatkan peradangan.

Kabut otak yang terkait dengan depresi atau kecemasan sering terasa seperti kelelahan terus-menerus atau rasa tidak enak badan secara umum.

Baca juga: 5 Pantangan Hipertiroid yang Penting Diperhatikan Penderita

2. Kadar gula darah

Jika Anda memiliki gula darah rendah (hipoglikemia), Anda bisa merasa pusing, pusing, berkabut atau gugup dan tidak dapat berkonsentrasi.

Hal ini terutama berlaku pada penderita diabetes jika tubuh mereka menghasilkan terlalu banyak insulin.

Terkadang, Anda bahkan bisa mengalami kadar gula darah rendah setelah makan.

3. Kondisi autoimun

Beberapa kondisi autoimun juga terkait dengan kabut otak, termasuk:

  • Lupus.
  • Sindrom kelelahan kronis.
  • Sklerosis ganda.
  • Fibromyalgia.

“Serangan yang berkepanjangan pada sistem kekebalan cenderung berdampak pada fungsi otak seseorang,” ucap Krishnan.

4. Sensitivitas makanan

Beberapa kepekaan terhadap makanan juga dapat menyebabkan kabut otak atau respons peradangan terkait.

 

Dapatkan update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari Kompas.com. Mari bergabung di Grup Telegram "Kompas.com News Update", caranya klik link https://t.me/kompascomupdate, kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.


Video Pilihan

Rekomendasi untuk anda
26th

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar dan menangkan e-voucher untuk 90 pemenang!

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar di artikel lainnya
Close Ads
Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.