Kompas.com - 28/06/2022, 12:00 WIB

KOMPAS.com - Kita sering menjumpai anak dengan gangguan pertumbuhan, seperti tinggi badan lebih rendah atau kerdil dari standar usianya. Kondisi ini disebut stunting yang disebabkan karena masalah gizi kronis.

Kondisi tubuh anak yang pendek seringkali dikatakan sebagai faktor keturunan (genetik) dari kedua orang tuanya, sehingga masyarakat banyak yang hanya menerima tanpa berbuat apa-apa untuk mencegahnya.

Padahal seperti kita ketahui, genetika merupakan faktor determinan kesehatan yang paling kecil pengaruhnya bila dibandingkan dengan faktor perilaku, lingkungan, pangan, dan pelayanan kesehatan.

Dengan kata lain, stunting merupakan masalah pada anak-anak yang sebenarnya bisa dicegah dengan mencukupi kebutuhan gizi pada 1000 hari pertamanya.

Baca juga: Untuk Cegah Stunting, BKKBN Wajibkan Prakonsepsi untuk Calon Pengantin

Di Indonesia ada gerakan pencegahan stunting berjuluk Satu Ibu Satu Pohon yang berdiri sejak Agustus 2019.

Gerakan ini berperan dalam membagikan edukasi mengenai stunting kepada masyarakat atau ibu-ibu prasejahtera serta memberikan pohon kelor.

Manfaat kelor

Perlu Anda ketahui, pohon kelor memiliki nutrisi mikronutrien alternatif yang dapat membantu pencegahan stunting pada 1000 hari pertama kehidupan atau hingga anak berumur 2 tahun.

Tak heran, pohon kelor memiliki beragam manfaat antara lain:

  1. Cegah anemia pada ibu hamil
  2. Meningkatkan produksi ASI pada ibu menyusui
  3. Mengembangkan struktur sel yang dibutuhkan untuk pertumbuhan balita
  4. Mengandung vitamin A yang dapat menyehatkan penglihatan anak
  5. Meningkatkan metabolisme tubuh
  6. Melancarkan pencernaan
  7. Mengoptimalkan pertumbuhan tulang

Stunting tidak bisa disembuhkan atau tidak bisa diperbaiki. Itu kenapa satu-satunya cara untuk mencegah stunting adalah dengan nutrisi yang tepat pada 1000 hari pertama dimulai dari masa kehamilan, menyusui, hingga balita berusia dua tahun," ujar Abigail Marcia, pencetus gerakan Satu Ibu Satu Pohon.

"Indonesia masih menjadi salah satu negara dengan prevalensi stunting tertinggi, dan salah satu penyebabnya adalah kekurangan mikronutrien," imbuhnya.

Baca juga: BKKBN Siapkan Tim Pendamping Warga untuk Kejar Target Stunting Nasional

Halaman Selanjutnya
Halaman:

Video Pilihan

Rekomendasi untuk anda
26th

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar dan menangkan e-voucher untuk 90 pemenang!

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar di artikel lainnya
Close Ads
Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.