Selasa, 23 Desember 2014 05:45

Ribuan Ikan Mati di Marunda

Sabtu, 4 Juni 2011 | 04:46 WIB
Dibaca: -
Komentar: -
|
Share:
KOMPAS/MADINA NUSRAT
Nani (40), nelayan di Kampung Marunda Kepuh, menunjukkan beberapa ekor bangkai ikan di muara Kanal Timur, Marunda, Cilincing, Jakarta Utara, Jumat (3/6). Bangkai ikan itu adalah sisa dari ribuan ikan yang mati mengambang di muara Kanal Timur pada Kamis (2/6). Kematian ikan-ikan tersebut diduga akibat terpapar limbah berbahaya.

Jakarta, Kompas - Ribuan ekor ikan dan udang peci hasil tangkapan nelayan yang disimpan di jaring apung mati mengambang di muara Kanal Timur, Marunda, Cilincing, Jakarta Utara. Kejadian pada Jumat (3/6) itu merupakan kasus kedua setelah setahun yang lalu.

Menurut sejumlah nelayan di Kampung Marunda Kepuh, kejadian ikan mati secara massal di muara Kanal Timur (KT) kali ini diketahui pada Kamis (2/6) sekitar pukul 03.00.    Ikan-ikan itu ditemukan mengambang tak jauh dari industri pengolahan minyak goreng dan margarin yang berdiri di sisi timur muara KT. Pabrik itu masuk dalam wilayah Kabupaten Bekasi.

Setelah hari cukup terang, baru tampak bahwa ikan-ikan itu mengambang di tengah muara kali yang telah berubah warna. Biasanya warna air di muara kali kecoklatan, tetapi Kamis kemarin berubah menjadi hitam kemerahan. Di antara ikan yang mengambang juga ditemukan buih-buih berwarna cokelat yang tak biasanya dijumpai di muara itu. Saat dijaring, ikan-ikan itu berbau tak sedap.

Kendati sudah menduga bahwa ikan-ikan itu mati akibat terpapar limbah, tetapi karena melihat begitu banyak ikan yang mengambang, nelayan langsung menyerbunya.

”Melihat airnya berubah warna seperti itu, sepertinya memang ikan-ikan itu mati akibat terkena limbah,” kata Veronica (33), seorang nelayan.

Saat dikonfirmasi, Kepala Kantor Pengelolaan Lingkungan Hidup Jakarta Utara Hotman Silaen mengaku belum tahu tentang kejadian tersebut. Mereka tidak masuk karena cuti bersama sehingga belum menerima laporan. Kejadian ini juga yang pertama kali diketahuinya.

”Tahun lalu memang ada ikan mati massal, tetapi itu di kawasan Pantai Ancol,” katanya.

Meski demikian, Hotman mengakui, perairan di muara KT itu rawan dialiri limbah industri yang tak hanya datang dari industri di kawasan Jakarta Utara, tetapi juga dari kawasan hulu kali KT. Terutama pada musim hujan, air limbah yang ada di kawasan hulu akan terbawa ke muara KT.

Oleh karena itu, meski saat ini cuti bersama, pihaknya berjanji segera mengirim petugas untuk memeriksa kondisi alam di muara KT. Selanjutnya, mereka akan memeriksa sistem pembuangan limbah di sejumlah industri di Kawasan Berikat Nusantara di Marunda.

”Memang tidak menutup kemungkinan sistem pembuangan limbah di industri ada yang berjalan. Kami akan segera memeriksanya” tuturnya.

Tidak dilaporkan

Beberapa nelayan mengakui, mereka tak melaporkan kejadian itu kepada kelurahan ataupun kepolisian setempat. Menurut seorang nelayan, Darso (55), hal itu dikarenakan sulit bagi mereka untuk menentukan dari mana asal limbah itu.

”Nanti, kalau kami lapor, malah salah karena tidak bisa menunjukkan buktinya,” katanya.

Itu pula sebabnya mengapa sebagian besar nelayan lebih memilih pasrah menyaksikan ribuan ikan mati di muara KT meski mereka menyayangkan kejadian itu. Mereka juga tidak mempersoalkan hasil tangkapan udang peci yang masih disimpan di dalam jala apung ikut mati seluruhnya, dengan rata-rata setiap nelayan memiliki lebih dari lima kilogram udang peci. Padahal, udang itu merupakan penghasilan utama nelayan di muara KT karena per kilogramnya biasa dihargai Rp 50.000.

Minimnya pengetahuan nelayan juga menyebabkan mereka tak peduli bahaya dari bangkai ikan yang mereka jaring. Apalagi, kata Darso, diperkirakan ikan tidak akan muncul lagi di sekitar muara KT selama lebih dari dua pekan pasca-kejadian matinya ribuan ikan itu. Hal itu dipelajarinya dari kejadian serupa setahun lalu, yang menyebabkan nelayan tak dapat menjaring ikan lebih dari dua pekan.

”Kami ambil ikan-ikan ini juga sebagai simpanan agar tetap bisa punya uang sampai dua pekan mendatang,” katanya.

Diolah jadi ikan asin

Supaya ikan dan udang tetap laku dijual, sebagian besar dari nelayan mengolah ikan-ikan itu menjadi ikan asin. Selain dapat disimpan dalam waktu lama, bau tak sedap dari ikan itu juga bisa hilang dengan diasinkan.

Menurut Nani (40), proses pengasinan pada mulanya memang dilakukan untuk menyiasati bau tak sedap yang muncul dari bangkai ikan tersebut. ”Kalau dijual langsung ke pasar, tidak laku. Baunya tidak enak,” katanya.

Nelayan asal Cirebon yang sudah menetap di Kampung Marunda Kepuh lebih dari 10 tahun ini mengaku, untuk mengurangi bau tak sedap, ikan dicuci berkali-kali hingga bersih, setelah itu baru digarami. Udang peci hasil tangkapannya yang mati juga ikut diasinkan.

Namun, diakuinya, tak seperti ikan segar, bangkai ikan tersebut lebih sulit dikeringkan meski sudah dijemur lebih dari satu hari. Sebaliknya, jika menggunakan ikan segar, penjemuran selama satu hari sudah bisa membuat ikan menjadi kering.

Perbedaan lainnya, tekstur daging bangkai ikan lebih kenyal dibandingkan dengan ikan segar. Lapisan perut bagian dalam pada ikan-ikan itu juga berwarna hitam kebiruan, tak seperti ikan segar yang berwarna hitam.

Bahkan, lalat dan kucing yang mudah terpancing dengan makanan yang berbau amis tak mau menghampiri ikan-ikan tersebut. ”Kucing dikasih ikan ini juga tidak dimakan, mungkin tahu kalau ikan ini beracun,” tutur Nani.

Hingga Jumat siang, tinggal sebagian kecil bangkai ikan terserak di sepanjang talut KT dan bibir pantai. Hal itu karena nelayan tak bisa lagi mengangkutnya bangkai ikan yang demikian banyak. (MDN)







IDEALKAH

BODY MASS INDEX ANDA?


Berat Badan Kg
Tinggi Badan Cm
Usia Tahun
Jenis Kelamin Perempuan Laki-laki
Level Aktivitas
 
  *Ukuran ini tidak bisa diterapkan pada ibu hamil dan menyusui