Kamis, 2 Oktober 2014 07:20
U19 banner dropdown

BLOG EXPERTS KOMPASIANA / ARTIKEL

Dr. Andri, Sp.KJ


Seorang psikiater dengan kekhususan di bidang Psikosomatik dan Psikiatri Liaison. Lulus Dokter dan Psikiater dari FKUI. Mendapatkan pelatihan di bidang Psikosomatik dan Biopsikososial dari American Psychosomatic Society. Anggota dari American Psychosomatic Society dan The Academy of Psychosomatic Medicine. Sehari-hari mengajar di FK UKRIDA dan dokter penanggung jawab Klinik Psikosomatik RS Omni, Alam Sutera, Tangerang

Sulit Tidur Pada Pasien Jantung

Penulis : Dr. Andri, Sp.KJ | Sabtu, 17 Maret 2012 | 10:42 WIB
Dibaca: -
Komentar: -
|
Share:
Shutterstock
Ilustrasi

KOMPAS.com - Penyakit jantung adalah salah satu contoh paling baik dalam menerangkan konsep interaksi pikiran dan tubuh atau mungkin yang lebih dikenal dengan konsep Psikosomatik. Dalam setiap aspek penyakit kardiovaskuler adalah sangat mudah untuk melihat adanya interaksi biopsikososial dalam proses dinamis perjalanan penyakit ini.

Pada praktiknya, psikiater dan dokter jantung harus mewaspadai bahwa terjadinya, manifestasi klinis dan perjalanan penyakit jantung dipengaruhi oleh faktor-faktor psikologis. Lain dari itu juga kondisi mental seseorang akan terpengaruh ketika mengetahui dirinya mengalami gangguan jantung.

Dalam dua bulan ini, saya bertemu dengan beberapa pasien jantung yang telah mengalami kateterisasi (balonisasi) dan pemasangan stent jantung (ring). Pasien yang akan saya ceritakan ini datang ke saya karena kesulitan tidur.

Pasien ini mengalami kesulitan tidur ketika mulai merasakan jantungnya tidak nyaman sebelum dilakukan kateterisasi. Ketika akhirnya memeriksakan diri ke dokter jantung dan akhirnya dilakukan prosedur kateterisasi, pasien menginginkan sebenarnya keluhan sulit tidurnya akan berkurang atau tidak ada sama sekali.

Namun pada kenyataannya pasien tetap mengalami kesulitan tidur. Pasien mengatakan bahwa rasa cemas sudah tidak ada lagi sebenarnya setelah mengetahui bahwa jantungnya memang bermasalah dan sudah diobati. Tetapi kesulitan tidurnya masih ada sampai sebelum kontrol ke saya. Pasien sebelumnya sudah berobat ke psikiater dan diberikan obat tidur golongan benzodiazepin tetapi tidak membantu banyak. Pasien masih kesulitan memulai tidur.

Ketika kontrol ke saya, akhirnya saya melihat bahwa selain sulit tidur, afeksi suasana perasaan pasien juga sudah depresif. Pasien sangat tidak nyaman dengan kondisi sulit tidurnya dan merasa mulai mengalami gejala-gejala depresi. Pengobatan dengan antidepresan diberikan selain juga memberikan obat untuk membantu tidurnya saat ini. Sebulan pengobatan pasien sudah mulai bisa merasakan tidur yang nyenyak dan merasa sudah jauh lebih nyaman dibandingkan sebelumnya. Rencana pengobatan dengan antidepresan dilanjutkan sampai 6 bulan ke depan dan obat tidur akan direncanakan diturunkan sampai tidak sama sekali.

Sulit tidur, cemas dan depresi

Kesulitan tidur bisa disebabkan banyak faktor. Selain faktor kondisi melatonin, suatu zat di dalam otak yang membantu proses tidur juga kesulitan tidur sering disebabkan karena gangguan kejiwaan seperti cemas dan depresi. Biasanya kesulitan tidur yang dialami adalah sulit memulai tidur atau sulit mempertahankan tidur. Pada beberapa orang, ada yang bangun terlalu pagi dan susah kembali tidur.

Pasien jantung memang sering mengalami kecemasan baik yang memang sudah menjalani prosedur kataterisasi ataupun yang hanya dengan pengobatan saja. Hal ini tentunya karena sistem saraf otonom yang terpicu kalau pasien cemas sangat berhubungan dengan kerja jantung dan pembuluh darah. Tidak heran banyak dokter jantung yang memberikan pasien juga obat penenang pada pasien yang mengalami kondisi jantung atau riwayat serangan jantung.

Sebenarnya diharapkan ada pendekatan biopsikososial pada pasien yang mengalami kondisi sakit jantung. Penelitian terakhir mengatakan bahwa gangguan depresi merupakan faktor independen terjadinya infark (sumbatan) pada jantung. Hal ini menjelaskan bahwa kondisi gangguan kejiwaan bisa menyebabkan terjadinya gangguan jantung jika tidak ditangani dengan baik.

Kecemasan atau yang lebih dikenal awam sebagai stres juga sangat mempengaruhi kerja jantung. Kerja sistem saraf otonom yang juga mengatur kerja jantung merupakan sistem yang terpicu ketika seorang cemas. Tidak heran kita sering mengalami berdebar-debar ketika terjadi stres, marah atau gangguan kecemasan lainnya.

Untuk itulah, pendekatan psikosomatik dalam hal ini berkaitan dengan kondisi kejiwaan pasien jantung sangat penting. Obat-obat jantung memang perlu, tetapi menjaga kesehatan jiwa pasien jantung baik dengan pengobatan ataupun psikoterapi juga sangat penting dilakukan. Hal ini agar pasien jantung juga mencapai suatu kualitas hidup yang baik.

Semoga bermanfaat. Salam Sehat Jiwa



Editor :
Asep Candra

IDEALKAH

BODY MASS INDEX ANDA?


Berat Badan Kg
Tinggi Badan Cm
Usia Tahun
Jenis Kelamin Perempuan Laki-laki
Level Aktivitas
 
  *Ukuran ini tidak bisa diterapkan pada ibu hamil dan menyusui