Kamis, 27 November 2014 16:22

NEWS & FEATURES / HOT TOPICS - ARTIKEL

Sering "Meeting" Bikin Otak Lemot?

Penulis : Bramirus Mikail | Kamis, 29 Maret 2012 | 10:11 WIB
Dibaca: -
Komentar: -
|
Share:
Kompas/Totok Wijayanto
Anggota dewan duduk di antara deretan kursi kosong saat rapat paripurna DPR dalam rangka ulang tahun ke-64 MPR/DPR di Gedung DPR, Jakarta, Jumat (28/8).

KOMPAS.com - Bila Anda termasuk orang yang sibuk dengan aktivitas rapat atau meeting ada baiknya menyimak hasil temuan para ahli yang satu ini.  Riset terbaru ilmuwan di Amerika Serikat menunjukkan bahwa meeting atau rapat ternyata dapat memengaruhi tingkat kecerdasan karena aktivitas tersebut secara tidak langsung mengganggu kemampuan Anda untuk berpikir sendiri.

Ini adalah hasil kajian yang dilakukan oleh para ilmuwan dari Virginia Tech Crilion Research institute, AS.  Untuk sampai pada kesimpulannya, para peneliti melakukan tes IQ pada sekelompok orang yang baru selesai melakukan pertemuan (meeting). Hasil tes IQ secara signifikan menunjukkan, orang yang mengkuti rapat memiliki nilai lebih rendah ketimbang mereka yang bekerja sendiri. Penurunan IQ terlihat jelas terutama pada perempuan ketimbang kaum pria.

Peneliti menyatakan, kinerja berpikir seseorang cenderung akan berkurang bila mereka mendapat kritik dari rekan-rekan mereka.

"Anda mungkin melihat temuan ini sebagai guyonan. Tapi temuan kami menunjukkan bahwa rapat komite dapat membuat fungsi otak Anda mati," kata, Read Montague, pemimpin riset.

Dalam kajiannya, peneliti melibatkan dua mahasiswa dari dua universitas dengan IQ rata-rata 126. Kemudian, kedua mahasiswa dari universitas yang berbeda itu diadu satu sama lain (untuk berdebat) dengan diberikan sejumlah pertanyaan.

Peneliti menemukan bahwa seseorang yang melakukan perdebatan dengan orang lain cenderung mengalami kesulitan ketika harus menjalani tes IQ.

Masing-masing peserta juga menjalani scan MRI pada otak untuk melihat perbedaan di setiap wilayah otak yang berhubungan dengan pemecahan masalah, emosi, dan penghargaan ketika menjalankan sebuah tugas.

Kenneth Kishida, seorang ilmuwan dari Virginia Tech Carilion Research Institute mengatakan, setiap orang perlu memahami bagaimana kerja otak khususnya dalam merespon interaksi sosial.

"Melalui neuroimaging, kami mampu untuk mendokumentasikan bagaimana respon saraf terhadap isyarat-isyarat sosial yang ditimbulkan," katanya.

Kishida mengatakan, perlu ada penelitian lebih lanjut untuk melihat, seberapa besar pengaruh persaingan dalam sebuah kelompok belajar dan lingkungan tempat kerja terhadap fungsi otak.

"Dengan melakukan pencitraan otak kita dapat memberikan solusi dalam mengembangkan strategi untuk orang-orang yang rentan terhadap jenis-jenis tekanan sosial," jelasnya.


Sumber :
Editor :
Asep Candra

IDEALKAH

BODY MASS INDEX ANDA?


Berat Badan Kg
Tinggi Badan Cm
Usia Tahun
Jenis Kelamin Perempuan Laki-laki
Level Aktivitas
 
  *Ukuran ini tidak bisa diterapkan pada ibu hamil dan menyusui