Sabtu, 23 Agustus 2014 12:32

BLOG EXPERTS KOMPASIANA / ARTIKEL

Julianto Simanjuntak


Julianto Simanjuntak adalah dosen bidang konseling keluarga@Jaffray. Terapis masalah kesehatan mental di Pelikan. Telah menulis 15 buku konseling Silahkan follow @JuliantoWita. Web: http://www.juliantosimanjuntak.com

Melecehkan Diri Sendiri

Penulis : Julianto Simanjuntak | Kamis, 24 Mei 2012 | 15:58 WIB
Dibaca: -
Komentar: -
|
Share:
shutterstock
Ilustrasi

KOMPAS.com - Kita biasa membaca kasus pelecehan terhadap diri orang lain. Namun kali ini saya menulis tentang banyaknya kasus pelecehan terhadap diri sendiri. Dalam kamus bahasa Indonesia online melecehkan berarti : “memandang rendah (tidak berharga), menghinakan atau mengabaikan”. Biasanya, orang yang cenderung melecehkan diri sendiri adalah mereka yang memiliki harga diri yang rendah alias minder.

Ijinkan saya membagi beberapa kasus dan pengalaman bersama klien. Ada beberapa kasus individu merendahkan dirinya sendiri dengan berkata, “ah, saya jelek…mana ada yang mau jalan dengan saya”. Atau, “Ah, saya ini bodoh dan tidak bergelar mana bisa mendapat pekerjaan yang baik”. Kadang orang yang bisa bicara dan memimpin berkata: “Saya ini mana bisa memimpin saya jadi anak buah sajalah…!”

Biasanya, mereka lebih fokus hanya pada kekurangan diri, dan mengabaikan kelebihan dan kekuatan diri mereka. Ini tentu menghambat kreativitas dan produkvifitas hidup mereka. Berpusat pada kekurangan diri dan mengabaikan kekuatan diri akan menggoda individu merendahkan dirinya sendiri. Ini tidak sama dengan rendah hati.

Kecenderungan ini bisa jadi berasal dari masa kanak-kanak yang sering dikritik dan direndahkan. Jarang mendapat pujian dari orangtua. Akibatnya, individu lebih fokus pada kelemahan. Takut disalahkan, akhirnya takut tampil atau memulai sesuatu ide yang baru. Kasus ini lebih sering kita jumpai pada remaja.

Sesungguhnya mereka yang terlalu sibuk dengan diri hingga mengabaikan kesehatan, merupakan tindakan pelecehan terhadap diri sendiri

Dalam bimbingan dan konseling, baik mengajak klien untuk melihat diri lebih objektif. Mengajak individu melihat kesukaan, hobi, bakat, kemampuan lebih saat di sekolah, minat, relasinya dengan orang tertentu yang ia sukai atau yang menyukai dirinya, dan lain-lain. Minta dia mencatat dan mengucapkan secara verbal. Lalu konselor memberikan apresiasi kepada klien atas kelebihan atau kekuatan yang dia pernah dan atau sedang miliki.

Disamping itu, konselor perlu mendorong keluarga terdekat, terutama orangtua, kakak dan guru memberikan apresiasi yang tulus secara rutin kepada klien. Kita tetap mendengarkan dan menerima kekurangan, kecemasan klien akan dirinya. Namun kita mengajak dia tetap fokus pada kelebihan dan kekuatan. Mengingatkan klien tidak ada manusia yang sempurna.

Jika kecenderungan ini terjadi hingga masa dewasa awal, akan membawa implikasi pada sulitnya membangun relasi hingga menemukan dan mempertahankan teman dekat (pacar). Perasaan cemas akan diri membuat individu takut memulai hubungan, atau mudah dibakar perasaan cemburu (buta) karena takut ditinggalkan. Hal ini membuat pasangannya tidak nyaman dan memutuskan hubungan.

Pelecehan pada diri sendiri bisa juga pada klien yang mengabaikan dirinya sendiri. Sebut saja ada klien yang kurang pandai berias atau dandan. Karena merasa dirinya jelek dan tak pantas berdandan. Enggan merawat tubuh. Akibatnya lawan jenis enggan mendekati.

Ada juga kasus klien yang terlalu sibuk bekerja. Sehingga tidak sempat merawat diri, kurang beristirahat hingga berekreasi. Bahkan, tak jarang tidak menjaga jam makan dan waktu tidur dengan baik. Akibatnya mudah terserang penyakit, hingga meninggal di usia yang muda.

Klien atau individu seperti ini perlu dibantu untuk melihat tubuh sebagai ciptaan Tuhan yang perlu dihargai, dijaga dan dirawat dengan sebaik mungkin. Bagi orang percaya, tubuh adalah BaitNya. Dalam tubuh yang sehat terdapat jiwa yang sehat. Mengajak klien memahami bahasa cinta tubuhnya sendiri , dan menikmati hidup dengan seimbang.

Kita perlu mengingatkan klien bahwa menjaga kesehatan yang baik dan merawat tubuh bukan sekedar untuk diri sendiri, tetapi juga bagi orang di sekitar. Agar anak dan pasangan kelak tidak direpotkan dengan penyakit yang “kita ciptakan” sendiri karena mengabaikan tubuh dan kesehatan. Kesehatan jauh lebih penting dari kekayaan materi.

Khusus pada klien yang workaholic, perlu bantuan agar dapat mengatur jadwal kerja, prioritas hingga visi hidupnya. Agar individu memiliki keseimbangan, baik dalam diri maupun relasinya dengan anggota keluarganya. Sesungguhnya mereka yang terlalu sibuk dengan diri hingga mengabaikan kesehatan, merupakan tindakan pelecehan terhadap diri sendiri, dan akhirnya juga merugikan anggota keluarga sendiri.

Satu bulan terakhir saya banyak seminar dan traveling keluar kota. Di samping mengedit buku (termasuk hasil tulisan saya di Kompasiana.com dan Kompas.com) untuk masuk App Store agar mudah diakses dengan Ipad dan Iphone .

Agar tetap fit dan seimbang saya mengurangi kesibukan saya menulis di blog . Ya, mengurangi aktivitas. Supaya saya memiliki waktu ngobrol, bercanda atau kegiatan bersama keluarga. Termasuk cukup waktu untuk beristirahat dan berdoa.

Ya, itulah cara yang terbaik. Secara sadar merencanakan ulang kegiatan, mendengarkan saran istri dan keluarga tercinta tentang aktivitas dan kesehatan kita. Intinya seimbang.

Terakhir, ada banyak kasus orang yang merusak diri sendiri. Apakah itu dengan rokok dan alkohol berlebihan, dan kebiasaan buruk lainnya seperti pola makan tidak sehat. Ini juga merupakan tindakan pelecehan terhadap diri sendiri. Tidak menghargai tubuh, yang adalah anugerah indah dari Tuhan Allah.

Jika mengingat tujuan dan proses ciptaan, maka patutlah setiap kita bermegah dan bersyukur. Sebab kita dicipta menurut gambar dan rupa Ilahi. Diberi kecakapan Ilahi, seperti merasa, berpikir dan berencana atau berkehendak. Dengan kemampuan dan kecakapan ilahi itu kita dapat melakukan banyak hal, asal kita mau kembali ke dalam tujuan penciptaan itu dan diselamatkan.

Semoga bermanfaat.


Editor :
Asep Candra

IDEALKAH

BODY MASS INDEX ANDA?


Berat Badan Kg
Tinggi Badan Cm
Usia Tahun
Jenis Kelamin Perempuan Laki-laki
Level Aktivitas
 
  *Ukuran ini tidak bisa diterapkan pada ibu hamil dan menyusui