Sabtu, 25 Maret 2017

Health

Perbedaan "Baby Blues" dan Depresi Pasca-kelahiran

Thinkstockphotos Ilustrasi

JAKARTA, KOMPAS.com — Peristiwa seorang ibu di Jakarta Barat yang tega memutilasi anaknya yang berumur satu tahun membuat banyak orang baru menyadari betapa seriusnya dampak dari gangguan emosi dan mental pasca-kelahiran.

Masalah gangguan emosional pada ibu yang baru melahirkan disebut juga dengan sindrom baby blues. Dalam kasus yang lebih berat, ibu bisa mengalami depresi pasca-kelahiran atau postpastum depression. Kebanyakan orang sulit membedakan kedua hal tersebut.

Praktisi psikologi dan juga terapis Nuzulia Rahma Tristinarum menuturkan, baby blues akan membuat ibu sering merasa sedih, menangis, sering cemas, dan lebih sensitif.

Kondisi itu bisa disebabkan oleh pengaruh perubahan hormonal setelah melahirkan, ibu sangat kelelahan mengurus bayi, perubahan bentuk tubuh, dan biasanya karena masalah menyusui, seperti ASI tidak keluar.

Namun, kondisi tersebut biasanya hanya terjadi sesaat atau sekitar 3-6 hari. Paling lama, baby blues bisa berlangsung selama dua minggu. Ini adalah bentuk depresi pasca-kelahiran yang paling ringan.

Jika tanda-tanda baby blues masih terjadi pada ibu selama lebih dari dua minggu atau setidaknya satu bulan, waspadai kemungkinan berlanjut menjadi depresi pasca-kelahiran.

"Kalau sudah lebih dari dua minggu bukan lagi baby blues. Atau paling tidak kalau sudah lewat sebulan bisa disebut postpartum depression. Bisa terjadi bertahun-tahun," kata psikolog yang biasa disapa Lia ini saat dihubungi Kompas.com, Selasa (4/10/2016).

Lia yang juga kontributor di Peduli Kesehatan Jiwa Ibu Perinatal Indonesia ini mengatakan, depresi pada ibu pasca-kelahiran bisa dari yang ringan hingga berat. Adapun penyebab depresi pasca-kelahiran bisa gabungan antara fisik, psikologis, dan psikososial.

Gejala yang muncul melebihi kondisi baby blues, yaitu seorang ibu akan mulai mudah tersinggung, kehilangan nafsu makan, sering menangis, kehilangan minat terhadap diri sendiri dan bayi, bicara sendiri, hingga mulai ada pikiran melukai bayi dan diri sendiri.

"Jadi kalau ibu sampai membunuh bayinya itu bukan lagi disebut baby blues," jelas Lia.

Namun, menurut Lia, ibu yang melukai bayi atau dirinya sendiri juga tak selalu karena depresi pasca-kelahiran. Bisa jadi karena psikosis atau gangguan jiwa. Dalam hal ini, ibu tentu membutuhkan pertolongan psikiater.

Untuk itu, orang-orang di sekitar ibu, mulai dari suami, keluarga, teman, hingga tetangga sebaiknya mengerti kemungkinan ibu mengalami baby blues maupun depresi pasca-kelahiran.

Penulis: Dian Maharani
Editor : Lusia Kus Anna