Senin, 27 Maret 2017

Health

Kenali Tanda Seseorang Berniat Bunuh Diri dan Cara Mencegahnya

TOTO SIHONO Ilustrasi

KOMPAS.com - Bunuh diri adalah tindakan mengambil nyawa sendiri. Data dari WHO Preventing Suicide Global Imperative Report (2014), pda 2012 ada 9105 orang bunuh diri terdiri dari 5206 wanita dan 3900 pria.

Menurut situs kesehatan Healthline, tidak ada alasan tunggal mengapa seseorang mencoba untuk menghilangkan nyawanya sendiri. Tetapi, faktor-faktor tertentu dapat meningkatkan risiko.

Seseorang mungkin lebih mungkin berusaha bunuh diri, jika mereka memiliki gangguan kesehatan mental. Sekitar 90 persen orang yang bunuh diri memiliki gangguan mental atau psikologis.

Beberapa literatur ilmiah menyebutkan, faktor genetik juga memiliki peran dalam kecenderungan seseorang menyakiti atau membunuh dirinya sendiri.

Namun, kondisi lingkungan berperan lebih banyak dalam ekspresi gen tersebut. Akhirnya, lagi-lagi kondisi psikososial kita juga lah yang berperan besar dalam memprediksi kemunculan perilaku bunuh diri.

Contoh, Ibu X sudah memiliki riwayat percobaan bunuh diri dan akhirnya meninggal bunuh diri di saat anaknya masih kecil.

“Asumsinya, si anak memiliki gen si ibu. Tapi, jika kondisi psikososial si anak ini sehat dan tidak memberikan tekanan yang hebat, si anak tidak akan memiliki kecenderungan bunuh diri," kata Benny Prawira, psikolog pendiri Into the Light Indonesia, Gerakan remaja peduli kesehatan jiwa dan pencegahan bunuh diri di Indonesia.

Penyebab bunuh diri tidak bisa dilihat hanya satu faktor saja, karena bersifat multikompleks. Ada faktor biologis, psikologis dan sosial yang saling bertumpang tindih.

Faktor risiko secara psikologis yang secara umum dianggap dapat meningkatkan kemungkinan bunuh diri adalah depresi, keputusasaan, kesepian, perasaan menjadi beban, serta gangguan trauma atau penyalahgunaan zat.

Faktor risiko sosial bisa karena individu mengalami diskriminasi, marjinalisasi, dan stigmatisasi atas salah satu identitasnya, kesulitan finansial atas akses kesehatan jiwa, akses pelayanan kesehatan jiwa yang jauh jaraknya, dan lainnya.

Gejala bunuh diri

Masih menurut Benny, orang yang berniat atau memiliki gagasan untuk bunuh diri, biasanya akan menunjukkan perubahan perilaku.

"Tadinya suka bergaul bersama kita tapi sekarang jadi murung dan menarik diri. Secara virtual, misalnya dia tiba-tiba keluar dari grup WA, foto profilnya berubah jadi hitam atau gelap, terbalik atau diganti dengan meme bernuansa depresif atau kematian," jelas Benny.

Cara kita membantu mereka

Menghadapi seseorang yang punya kecenderungan bunuh diri, atau punya niat bunuh diri, pastinya tidak mudah. Tapi, jika kita melihat ada teman atau keluarga yang punya gejala mencurigakan, jangan berdiam diri.

Untuk menghadapi situasi itu, Benny menyarankan"Yang pertama, sebelum dapat berempati kepada seseorang, kita harus tahan asumsi kita terlebih dahulu. Asumsi atau penghakiman seperti "Kurang iman, begitu saja lemah, bodoh, putus asa", harus ditahan.”

“Cobalah menjadi pendengar bagi dia. Entah dia menangis atau marah-marah, kita tidak perlu bereaksi berlebihan atau memberi banyak nasihat. Yang dia butuhkan adalah sosok pendengar," lanjut Benny.

Selain itu, kita juga perlu melihat sejauh yang bersangkutan memikirkan kematian. Apakah implisit seperti "Saya berharap tidak dilahirkan" atau "Saya mau tidur dan tidak bangun-bangun lagi"? Atau, malah sudah eksplisit dan detail "Saya mau mati gantung diri. Berani tidak, ya?", atau "Dalam sebulan lagi, saya akan minum racun".

Semakin eksplisit atau jelas dan detail, artinya semakin bahaya.

Bagi yang bukan psikolog atau psikiater, batasannya adalah bersedia menjadi pendengar atau "tempat sampah" bagi keluh-kesah orang tersebut.

Proses pemulihan adalah tanggungjawab dari psikolog dan psikiater. Karena itu, sedapat mungkin, cobalah bujuk atau rujuk orang yang kita curigai punya maksud bunuh diri, ke tenaga profesional.

Jika Anda merasa tak ada yang memahami

Pada satu titik kehidupan, kadang kita merasa, teman dan kerabat tak ada yang bisa mengerti pikiran dan beban hidup kita. Sedih? Pastinya! Tapi, jangan berpikir untuk bunuh diri. Silakan kontak Into the Light untuk mendapat pendampingan sebaya:

Facebook: IntoTheLightID
Twitter: @IntoTheLightID
Email: intothelight.email@gmail.com
Web: intothelightid.wordpress.com

Penulis: Lily Turangan
Editor : Bestari Kumala Dewi
TAG: