Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Salin Artikel

Sering jadi Jamu, Ini Bahaya Fatal Minum Ramuan Darah Ular Kobra

Beberapa daerah itu di antaranya, Ciracas, Jakarta Timur; Palur, Sukoharjo, Jawa Tengah, dan Jember, Jawa Timur.

Melansir dari Kompas.com (09/12/2019), Peneliti Herpetologi Lembaga Pengetahuan Indonesia (LIPI), Dr. Amir Hamidy, menyebut memasuki musim penghujan seperti sekarang adalah waktu yang ideal bagi menetasnya telur-telur kobra.

Ular kobra juga bisa dengan mudah ditemukan di Pulau Jawa karena memang menjadi habitat aslinya.

Oleh sebab itu, beberapa warga di di Pulau Jawa tak merasa asing dengan adanya ular kobra.

Darah dari ular kobra ini biasanya dijadikan sebagai campuran atau ramuan jamu tradisional.

Sebut saja di kawasan Prambahan dan Bantul, Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY).

Tim dari Universitas Gadjah Mada (UGM) Yogyakarta meneliti analisis cemaran Staphylococcus aureus pada gelas, darah segar, dan jamu dengan ramuan darah ular kobra Jawa (Naja sputatrix) di sana.

Staphylococcus aureus merupakan baktaeri yang dapat menyebabkan keracunan pangan dan umumnya terisolasi dari produk makanan.

Berdasarkan penelitian yang dilakukan Roza Azizah Primatika, Widagdo Sri Nugroho dari Departemen Kesehatan Masyarakat Veteriner Fakultas Kedokteran Hewan UGM Yogyakarta dan Rais Dwi Abadi dari Fakultas Kedokteran Hewan UGM, ditemukan bahwa jamu yang mengandung darah ular kobra berpotensi mengandung Staphylococcus aureus yang membahayakan konsumen.

Hasil penelitian mereka telah diterbitkan dalam jurnal Sain Veteriner pada Desember 2015.

Bahaya minum jamu campuran darah ular kobra

Roza Azizah dan kolega menggunakan 10 sampel darah segar ular kobra dan 10 sampel ramuan jamu tradisional dengan darah ular kobra yang didapat dari dua penjual ramuan jamu di Desa Sudimoro Bantul, Yogyakarta dan di Pasar Prambanan, Yogyakarta.

Darah segar ular diambil secara aseptis dari jantung menggunakan spuit. Sedangkan pengambilan sampel ramuan dilakukan setelah darah segar dicampur dengan bahan–bahan ramuan jamu lainnya.

Ramuan jamu di Imogiri Bantul Yogyakarta dilakukan dengan menambahkan bahan tambahan minuman berenergi (ada merek tertentu) ke dalam darah ular segar.

Sementara di Pasar Prambanan Sleman dilakukan dengan menambahkan madu dan minuman berenergi (ada merek tertentu).

Ramuan diseduh dalam gelas yang sebelumnya disterilkan dengan menggunakan swab steril untuk diketahui cemarannya.

Setelah itu, masing–masing sampel ramuan jamu dimasukkan ke dalam tabung steril untuk dilakukan pengujian selanjutnya.

Hasil isolasi dari masing–masing penjual tampak bahwa sampel penjual di Bantul, cemaran Staphylococcus aureus dari darah segar dan ramuan jamu masing–masing 20 persen (1 dari 5 sampel positif tercemar), sedangkan untuk gelas tidak ditemukan cemaran.

Sementara sampel dari penjual di Prambanan tidak ditemukan cemaran Staphylococcus aureus pada darah segar, namun untuk ramuan jamu ditemukan 1 dari 5 sampel (20 persen) dan untuk gelas ditemukan 2 dari 5 sampel positif tercemar Staphylococcus aureus (40 persen).

Kesimpulannya, hasil penelitian menunjukkan bahwa adanya cemaran Staphylococcus aureus pada darah ular kobra sebelum maupun sesudah diramu.

Jumlahnya memang tergolong lebih kecil dari batas maksimal yang dipersyaratkan dalam Standar Nasional Indonesia (SNI) untuk bahan pangan yaitu 10.

Penyebab darah segar terdeteksi Staphylococcus aureus kemungkinan karena ular telah terinfeksi bakteri ini.

Sementara apabila tubuh manusia terinfeksi Staphylococcus aureus baik itu ringan atau tinggi, keselamatan jiwanya dapat terancam.

Menyerang kulit

Bakteri Staphylococcus aureus ini cenderung menginfeksi kulit dan sering menyebabkan abses.

Abses merupakan penumpukan nanah pada satu daerah tubuh, meskipun juga dapat muncul pada daerah yang berbeda.

Selain itu, bakteri ini bisa juga menginfeksi hampir semua bagian di dalam tubuh, terutama katup jantung (endokarditis) dan tulang (osteomielitis).

Staphylococcus aureus diketahui melakukan migrasi melalui aliran darah yang sering disebut fase bakterimia.

Sementara itu, melansir dari Health Line, gejala keracunan makanan mengandung Staphylococcus aureus mirip dengan kasus gastroenteritis yang parah atau radang saluran pencernaan.

Gejala itu dapat muncul dengan cepat, kadang-kadang hanya dalam 30 menit setelah makan makanan yang terkontaminasi bakteri ini.

Beberapa gejala yang mungkin muncul apabila keracunan bakteri ini, yakni:

  • Diare
  • Muntah
  • Mual
  • Kram perut

Perawatan

Apabila terserang bakteri Staphylococcus aureus, seseorang biasanya harus melakukan perawatan dengan istirahat cukup dan meningkatkan asupan cairan.

Tetapi beberapa orang mungkin akan membutuhkan bantuan medis.

Serangaan bakteri ini berbahaya terutama pada anak kecil, bayi, orang tua dan orang yang terinfeksi HIV.

Dalam kasus yang parah, Anda mungkin perlu mengakses layanan kesehatan di rumah sakit untuk observasi dampak serangan Staphylococcus aureus agar tidak sampai terjadi komplikasi.

https://health.kompas.com/read/2019/12/21/140000368/sering-jadi-jamu-ini-bahaya-fatal-minum-ramuan-darah-ular-kobra

Close Ads
Bagikan artikel ini melalui
Oke