Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Salin Artikel

9 Gejala Kekurangan Tembaga yang Perlu Diwaspadai

KOMPAS.com – Tembaga mungkin tak sepopuler jenis mineral lainnya dalam kamus pemenuhan zat gizi sehari-hari, seperti kalsium, zat besi, kalium, maupun magnesium.

Mengasup mineral tembaga bahkan mungkin terdengar asing di telinga sebagian orang.

Tapi tetap saja tembaga termasuk mineral esensial yang memiliki banyak peran dalam tubuh.

Dilansir dari WebMD, tembaga di antaranya berfungsi membantu menjaga metabolisme yang sehat, meningkatkan tulang yang kuat dan sehat, serta memastikan sistem saraf bekerja dengan baik.

Meskipun kekurangan tembaga jarang terjadi, tampaknya saat ini ada lebih sedikit orang yang mendapatkan cukup mineral tersebut.

Tidak mengonsumsi cukup tembaga dari makanan pada akhirnya dapat menyebabkan defisiensi tembaga yang bisa berbahaya.

Penyebab kekurangan tembaga lainnya, termasuk menderita penyakit celiac, operasi yang memengaruhi saluran pencernaan, dan terlalu banyak mengonsumsi seng karena seng bersaing dengan tembaga untuk diserap tubuh.

Gejala kekurangan tembaga

Jumlah kebutuhan tembaga harian pada masing-masing orang memang bisa berbeda-beda tergantung usia, jenis kelamin, dan faktor risiko lainnya.

Tapi secara umum, orang dewasa, baik pria maupun wanita membutuhkan asupan tembaga kurang lebih 900 mcg per hari.

Dilansir dari Health Line, berikut ini adalah beberapa kondisi yang bisa menjadi tanda atau gejala kekurangan tembaga untuk dikenalii:

1. Kelelahan dan rasa lemah

Kekurangan tembaga bisa menjadi salah satu dari banyak penyebab kelelahan dan rasa lemah.

Pasalnya, tembaga sangat penting untuk membantu penyerapan zat besi di usus.

Ketika kadar tembaga rendah, tubuh mungkin akan menyerap lebih sedikit zat besi. Hal ini dapat menyebabkan anemia defisiensi besi, suatu kondisi di mana tubuh tidak dapat membawa cukup oksigen ke jaringannya.

Kekurangan oksigen ini  kemudian bisa membuat kita lebih lemah dan lebih mudah merasa lelah.

Selain itu, sel menggunakan tembaga untuk menghasilkan adenosine triphosphate (ATP), sumber energi utama tubuh. Ini berarti kekurangan tembaga dapat memengaruhi tingkat energi tubuh, yang sekali lagi bisa meningkatkan kelelahan dan rasa lelah.

Untungnya, mengonsumsi makanan kaya tembaga dapat membantu memperbaiki anemia yang disebabkan oleh kekurangan tembaga.

2. Sering sakit

Orang yang sering sakit bisa jadi juga mengalami kekurangan tembaga.

Itu karena tembaga berperan penting dalam menjaga kesehatan sistem kekebalan tubuh.

Ketika kadar tembaga rendah, tubuh kita mungkin akan kesulitan untuk membuat sel-sel kekebalan. Ini secara drastis dapat mengurangi jumlah sel darah putih, kemudian mengganggu kemampuan tubuh untuk memerangi infeksi.

Penelitian telah menunjukkan bahwa kekurangan tembaga dapat secara dramatis mengurangi produksi neutrofil, yakni sel darah putih yang bertindak sebagai garis pertahanan pertama tubuh.

Untungnya, makan lebih banyak makanan yang mengandung tembaga tinggi dapat membantu membalikkan efek ini.

3. Tulang lemah dan lebih rapuh

Osteoporosis adalah suatu kondisi yang ditandai dengan tulang yang lemah dan rapuh.

Kondisi ini menjadi lebih umum seiring bertambahnya usia dan telah dikaitkan dengan defisiensi tembaga.

Misalnya, analisis terhadap delapan penelitian yang melibatkan lebih dari 2.100 orang menemukan bahwa partisipan yang menderita osteoporosis memiliki kadar tembaga yang lebih rendah daripada orang dewasa yang sehat.

Tembaga terlibat dalam proses yang menciptakan hubungan silang di dalam tulang. Hubungan silang ini memastikan tulang sehat dan kuat.

Terlebih lagi, tembaga mendorong tubuh untuk membuat lebih banyak osteoblas, yakni sel yang membantu membentuk kembali dan memperkuat jaringan tulang.

4. Masalah dengan ingata dan pembelajaran

Masalah dengan ingatan dan pemahaman belajar bisa juga menjadi gejala kekurangan tembaga.

Itu karena tembaga berperan penting dalam fungsi dan perkembangan otak.

Tembaga digunakan oleh enzim yang membantu memasok energi ke otak, membantu sistem pertahanan otak dan menyampaikan sinyal ke tubuh.

Sebaliknya, kekurangan tembaga telah dikaitkan dengan penyakit yang menghambat perkembangan otak atau mempengaruhi kemampuan untuk belajar dan mengingat, seperti penyakit Alzheimer.

Menariknya, sebuah penelitian menemukan bahwa orang dengan Alzheimer memiliki kandungan tembaga hingga 70 persen lebih sedikit di otak mereka, dibandingkan dengan orang tanpa penyakit tersebut.

5. Kesulitan berjalan

Orang dengan kekurangan tembaga mungkin merasa lebih sulit untuk berjalan dengan benar.

Enzim menggunakan tembaga untuk menjaga kesehatan sumsum tulang belakang secara optimal. Beberapa enzim membantu melindungi sumsum tulang belakang, sehingga sinyal dapat diteruskan antara otak dan tubuh.

Kekurangan tembaga dapat menyebabkan enzim ini tidak bekerja secara efektif, sehingga isolasi sumsum tulang belakang menjadi lebih sedikit. Hal ini pada gilirannya dapat menyebabkan sinyal tidak tersampaikan secara efisien.

Berjalan diatur oleh sinyal antara otak dan tubuh.

Karena sinyal-sinyal ini terpengaruh, kekurangan tembaga dapat menyebabkan hilangnya koordinasi dan ketidakstabilan.

6. Kepekaan terhadap suhu dingin meningkat

Orang dengan kekurangan tembaga mungkin akan merasa lebih sensitif terhadap suhu dingin.

Untuk diketahui, tembaga bersama dengan mineral lain seperti seng berfungsi juga membantu menjaga fungsi kelenjar tiroid yang optimal.

Penelitian telah menunjukkan bahwa kadar hormon tiroid T3 dan T4 terkait erat dengan kadar tembaga.

Ketika kadar tembaga darah rendah, kadar hormon tiroid ini turun. Akibatnya, kelenjar tiroid mungkin tidak bekerja secara efektif.

Mengingat bahwa kelenjar tiroid membantu mengatur metabolisme dan produksi panas tubuh, kadar hormon tiroid yang rendah dapat membuat kita lebih mudah merasa lebih dingin.

Faktanya, diperkirakan lebih dari 80 persen orang dengan kadar hormon tiroid rendah merasa lebih sensitif terhadap suhu dingin.

7. Kulit pucat

Warna kulit sangat ditentukan oleh pigmen melanin.

Orang dengan kulit lebih terang biasanya memiliki pigmen melanin yang lebih sedikit daripada orang dengan kulit lebih gelap.

Menariknya, tembaga digunakan oleh enzim yang menghasilkan melanin.

Oleh karena itu, kekurangan tembaga dapat memengaruhi produksi pigmen ini dan menyebabkan kulit menjadi pucat.

Namun, masih diperlukan lebih banyak penelitian berbasis manusia untuk menyelidiki hubungan antara kulit pucat dan defisiensi tembaga.

8. Rambut beruban dini

Warna rambut juga dipengaruhi oleh pigmen melanin.

Mengingat bahwa kadar tembaga yang rendah dapat memengaruhi pembentukan melanin, kekurangan tembaga dapat menyebabkan rambut beruban prematur.

Meskipun ada beberapa penelitian tentang defisiensi tembaga dan pembentukan pigmen melanin, hampir tidak ada penelitian yang melihat hubungan antara kekurangan tembaga dan rambut beruban secara khusus.

Lebih banyak penelitian berbasis manusia di bidang ini akan membantu memperjelas hubungan antara keduanya.

9. Kehilangan penglihatan

Kehilangan penglihatan adalah kondisi serius yang dapat terjadi dengan kekurangan tembaga jangka panjang.

Tembaga digunakan oleh banyak enzim yang membantu memastikan sistem saraf bekerja dengan baik. Ini berarti kekurangan tembaga dapat menyebabkan masalah pada sistem saraf, termasuk kehilangan penglihatan.

Tampaknya kehilangan penglihatan karena kekurangan tembaga lebih sering terjadi pada orang yang pernah menjalani operasi pada saluran pencernaannya, seperti operasi bypass lambung. Ini karena operasi ini dapat mengurangi kemampuan tubuh dalam menyerap tembaga.

Meskipun ada beberapa bukti bahwa kehilangan penglihatan yang disebabkan oleh kekurangan tembaga dapat disembuhkan, penelitian lain menunjukkan tidak ada perbaikan penglihatan setelah meningkatkan asupan tembaga.

https://health.kompas.com/read/2021/05/10/160300868/9-gejala-kekurangan-tembaga-yang-perlu-diwaspadai

Close Ads
Bagikan artikel ini melalui
Oke