Strategi Hadapi Anak 'Picky Eater'

Kompas.com - 08/08/2011, 08:01 WIB
EditorAsep Candra

KOMPAS.com – Sebagian besar orang tua khususnya para ibu mungkin pernah mengalami saat-saat sulit dimana anak mereka tak mau makan atau hanya mau mengonsumsi jenis makanan tertentu. Kesulitan makan pada balita atau biasa disebut picky eater merupakan hal yang lazim terjadi ketika anak mulai beralih mengonsumsi makan makanan cair ke padat.

Menurut dr. Vimaladewi Lukito Sp.A, spesialis anak dari Tirtayu Healing Center, picky eater adalah kelainan murni yang umumnya terjadi pada anak. Kondisi seperti ini biasanya terjadi pada anak berusia 6 bulan sampai di bawah 6 tahun.

Untuk menghadapi anak yang picky eater, hal terpenting yang harus dilakukan khususnya para orang tua adalah pendekatan dalam cara memberikan makanan kepada anak.

"Itu yang harus disadari oleh orang tua. Orang tua harus tahu kenapa anaknya picky eater dan tidak mau makan makanan padat," katanya, Sabtu, (6/8/2011), di Jakarta.

Seorang ibu, kata Vimaladewi, harus mengerti bahwa setelah anak berumur di atas 1 tahun, susu bukan lagi menjadi sumber kalori utama. Sehingga anak harus beralih ke makan makanan yang padat.

Menurutnya, ketika anak mulai belajar makan makanan padat, anak akan sering meludahkan atau melepehkan makanan. Pada saat seperti inilah para orang tua biasanya akan berpikir bahwa anak tidak suka. "Padahal reaksi seperti itu bukan berarti anak tidak suka. Anak sedang mulai belajar persepsi, merasakan jenis konsistensi makan yang baru," ujarnya.

Dalam menghadapi anak  picky eater yang diperlukan adalah kesabaran dari orang tua dalam memberikan anak makan. Jangan menargetkan atau memaksa anak Anda untuk menghabiskan makanan jika memang anak sudah tidak lagi mau makan. Orang tua sebaiknya melakukan secara bertahap, dan lakukan pengenalan satu rasa makanan yang sama pada anak.

Jangan pernah membuat anak bingung dalam mengenali apa yang dia makan. Misalnya, ketika sarapan pagi diberi rasa buah-buahan,  siang rasa daging, setelah itu sayur-sayuran. “Kenali satu rasa dulu. Lakukan selama seminggu berturut-turut seperti itu. Setelah anak sudah bisa menerima rasa itu, baru cobalah kenalkan dengan  rasa yang lain,” jelasnya.

Vimaladewi mengatakan, kalau picky eater tidak segera ditangani sejak awal, maka anak akan menjadi sulit makan ke depannya. Sehingga bukan tidak mungkin anak akan mengalami kekurangan gizi. Banyak faktor yang menyebabkan anak mengalami picky eater, misalnya saja: bentuk makanan tidak menarik, monoton (tidak ada variasi), suasana di rumah tidak kondusif dan kurang perhatian orang tua (sibuk).

Faktor psikologis memiliki peran penting pada anak picky eater. Oleh karena itu, butuh team work dalam seluruh keluarga mulai dari kakek-nenek, orangtua dan pengasuh, dengan satu tujuan supaya anak tidak picky eater.

"Ketika kita mengajarkannya sambil main dan dalam keadaan yang senang, dia menganggap itu sebagai pola yang menyenangkan. Atau anak melihat orang tuanya sendiri ikut makan, itu akan membuat anak lebih gampang untuk makan-makanan padat," tandasnya.

Vimaladewi mengingatkan, apa yang dimakan anak harus sama dengan apa yang di makan oleh keluarga. Misalnya, kalau anak disuruh makan sayur-sayuran, tapi orang tuanya tidak pernah mencontohkan makan sayuran, makan anak tidak akan pernah mau makan sayuran, begitu pula sebaliknya.

Dapatkan update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari Kompas.com. Mari bergabung di Grup Telegram "Kompas.com News Update", caranya klik link https://t.me/kompascomupdate, kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.

Baca tentang

    Video Pilihan

    26th

    Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar dan menangkan e-voucher untuk 90 pemenang!

    Syarat & Ketentuan
    Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
    Laporkan Komentar
    Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
    komentar di artikel lainnya
    Close Ads
    Lengkapi Profil
    Lengkapi Profil

    Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.