Kompas.com - 07/11/2012, 10:15 WIB
|
EditorGlori K. Wadrianto

SOLO, KOMPAS.com — Sudah menjadi pemahaman umum bahwa pekerja seks komersial (PSK) rentan terhadap berbagai ancaman penyakit menular. Para PSK pun menyadari risiko itu dan lalu memilih praktik seks sehat dengan menggunakan kondom. Namun, masalah tak selesai sampai di situ. Ternyata, tak mudah pula bagi PSK untuk membujuk pelanggannya memakai kondom.

Kesaksian ini diungkapkan seorang PSK berusia 41 tahun yang sedang memeriksakan organ kewanitaannya di sebuah klinik di Jalan Jalak, Gilingan, Banjarsari, Selasa (6/11/2012). Wanita yang mengaku terjun ke dunia prostitusi sejak ditinggal oleh suaminya ini mengaku sering menemukan pelanggan yang menolak memakai pelindung.

Banyak alasan yang diungkapkan pelanggan untuk menolak memakai kondom. Namun, wanita ini pun tidak mau kalah."Kalau kepepet, saya jelaskan kepada tamu kalau saya baru saja dipake orang lain. Kalo dia bawa penyakit terus menular, biayanya tambah banyak, lho," katanya sambil tertawa kecil.

Meski begitu, pernyataan wanita itu pun tak selalu berhasil. Bahkan, tak sedikit pelanggan yang sudah telanjur nafsu dan tak mendengarkan lagi apa yang diucapkannya. Kondisi seperti itulah yang makin mempertebal risiko penularan penyakit seksual dalam dunia pelacuran.

Berangkat dari pemahaman itu, kini di Jalan Jalak, Banjarsari, digelar klinik untuk pemeriksaan PSK. Dengan mengutip biaya Rp 17.500, para PSK bisa memeriksakan organ kewanitaannya. "Kita lakukan pemeriksaan rutin sebulan sekali ke warga daerah ini dan kita memberikan konseling tentang pentingnya memakai kondom," kata dokter Arditya Damar Kusuma yang tengah bertugas.

Wakil kelompok kerja Jalan Jalak Gilingan, Ngatino, menambahkan, pokja ini mengupayakan berbagai cara agar PSK di Solo selalu menggunakan kondom. Bahkan, di klinik ini disediakan kondom gratis bagi para PSK.

Nah, uniknya, Ngatino mengaku mempunyai cara untuk mengetahui apakah kondom-kondom itu digunakan atau tidak. Salah satunya dengan mengecek selokan yang ada di sepanjang Jalan Jalak. Di Jalan Jalak, kurang lebih terdapat 60 pekerja seks dan hanya ada 10 kamar yang disediakan untuk melayani tamu.

Apabila banyak ditemukan kondom, ia sedikit bisa merasa lega bahwa kondomnya dipakai. Namun, tentu metode ini sama sekali tidak akurat.  "Kita bagikan, Mas, dan kita beri kepada tamu. Kita ingatkan juga, tetapi saat masuk ke kamar, kita sudah tidak bisa mengeceknya, salah satu caranya, ya, paginya kita cek di selokan. Apabila banyak kondom, artinya dipakai," kata dia.

***

Baca Juga:

Simak pula topik sebelumnya:
Prostitusi "Ayam Kampus"

 

 

Dapatkan update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari Kompas.com. Mari bergabung di Grup Telegram "Kompas.com News Update", caranya klik link https://t.me/kompascomupdate, kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.


Video Pilihan

26th

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar dan menangkan e-voucher untuk 90 pemenang!

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar di artikel lainnya
Close Ads
Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.