Kompas.com - 18/01/2013, 08:41 WIB
EditorAsep Candra

KOMPAS.com - Apakah anda pernah merasakan marah yang tak terkendali atau mungkin anda pernah melihat pasangan atau orang dekat anda melakukan itu? Saya sering dalam praktik menemui pasien seperti ini. Beberapa kasus menarik akan saya ceritakan dalam artikel ini.

Kasus 1

Wanita muda usia 27 tahun datang ke praktik saya dengan keluhan kesulitan mengendalikan emosi dan rasa marah terutama kepada pasangan hidupnya saat ini. Pasien merasakan kemarahannya itu bisa meletup dipicu oleh sesuatu yang kecil saja misalnya si pacar tidak membalas sms atau pesan BBM segera. Ketika bertemu dengan pasangannya dan kemudian terjadi keributan, pasien biasanya akan bertindak kasar dan memukul pasangannya sampai mengalami luka. Pasien mengatakan jika belum melihat adanya darah yang keluar dari tubuh pasangannya, dia tidak akan merasa puas. Pasien sering kali mencoba untuk menahan diri namun sulit dalam mengatasi keinginannya itu.

Gejala yang dialami pasien sebenarnya mulai terlihat sejak usia remaja awal di sekitar 12 tahunan. Waktu itu ketika mengalami kekecewaan atau mendapatkan penolakan dari orang lain, pasien sering kali melukai diri sendiri sampai menimbulkan luka. Pasien merasakan "kenikmatan" dari rasa sakit yang didapat dari melukai diri karena merasa beban yang dialaminya teralihkan. Saat mulai mengenal lawan jenis pasien baru melakukan tindakan kasar baik secara verbal dan fisik kepada pasangannya. Biasanya pasien baru berhenti memukul pacarnya jika sudah mengalami luka yang menimbulkan perdarahan. Namun setelah demikian pasien bisa kemudian sangat bernafsu sekali dengan pasangannya dan mengajak pasangannya tersebut untuk melakukan hubungan badan berkali-kali.

Kasus 2

Laki-laki usia 29 tahun sudah menikah dengan pasangannya selama 2 tahun. Pasien datang ke saya karena kesulitan mengendalikan marahnya. Marah bisa dipicu oleh berbagai macam hal seperti masalah rumah tangga, macet di jalan raya dan berselisih dengan saudara kandung. Jika sudah marah, pasien seperti lupa diri dan menghancurkan barang-barang yang di dekatnya. Sudah tidak terhitung berapa banyak handphone yang pecah karena dibanting atau dilempar saat pasien marah. Belakangan pasien sering lupa dan melakukan kekerasan kepada istrinya dengan menempeleng jika marahnya datang. Selesai melakukan tindakan tersebut pasien merasakan rasa bersalah yang dalam namun seringkali sulit mengendalikan marahnya dan tindakan fisik yang mengikuti marahnya tersebut.

Pembahasan Kasus

Apa yang diceritakan di atas hanyalah sebagian kecil dari kasus-kasus yang berhubungan dengan kekerasan akibat kemarahan yang tidak terkendali. Kasus ini belakangan semakin banyak didapatkan dalam praktik dan membuat gangguan pengendalian marah ini menjadi salah satu hal yang menarik perhatian dalam praktik saya sehari-hari. Banyak dasar terjadinya kemarahan yang tidak terkendali seperti pada kasus di atas.

Gangguan Kepribadian Ambang biasanya adalah gangguan jiwa yang paling sering terjadi. Selain itu, pasien seperti ini juga banyak terjadi pada Gangguan Pengendalian Impuls walaupun biasanya hal tersebut sering kali berlangsung sejak masih kecil. Keinginan melukai diri jika mendapatkan sesuatu penolakan adalah sesuatu yang berhubungan dengan masalah Kepribadian Ambang.

Secara biologis, hal ini bisa terjadi karena ketidakseimbangan serotonin di otak pasien. Memang mekanismenya mirip dengan depresi maka dari itu banyak ahli berpendapat bahwa depresi yang mengalami kekurangan serotonin tersebut juga bisa melakukan tindakan agresif terhadap dirinya sendiri dengan membunuh diri.

Penatalaksanaan dan terapi pada pasien gangguan kepribadian ambang memang tidak mudah. Seperti kebanyakan gangguan kepribadian jenis lainnya, pasien memang sering kali bermasalah dengan lingkungan dan kesulitan beradaptasi. Namun demikian, pengobatan dengan obat antidepresan SSRI seperti Sertraline sangat membantu. Banyak kondisi pasien yang melibatkan teknik konseling dan atau psikoterapi serta penambahan obat antidepresan dapat membaik. Semoga informasi ini membantu.

Salam Sehat Jiwa

Dapatkan update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari Kompas.com. Mari bergabung di Grup Telegram "Kompas.com News Update", caranya klik link https://t.me/kompascomupdate, kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.


Video Pilihan

26th

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar dan menangkan e-voucher untuk 90 pemenang!

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.

Terkini Lainnya

12 Penyebab Hipertensi yang Perlu Diwaspadai

12 Penyebab Hipertensi yang Perlu Diwaspadai

Health
Peripheral Artery Disease (PAD)

Peripheral Artery Disease (PAD)

Penyakit
Kenali Apa itu Flu Singapura, Ciri-ciri, dan Penyebabnya

Kenali Apa itu Flu Singapura, Ciri-ciri, dan Penyebabnya

Health
Sindrom Antley-Bixler

Sindrom Antley-Bixler

Penyakit
8 Cara Mencegah Penyakit Ginjal

8 Cara Mencegah Penyakit Ginjal

Health
Kenali Apa yang Anda Rasakan, Ini Beda Sedih dan Depresi

Kenali Apa yang Anda Rasakan, Ini Beda Sedih dan Depresi

Health
Ciri-ciri Kanker Mulut Harus Diwaspadai Sejak Dini

Ciri-ciri Kanker Mulut Harus Diwaspadai Sejak Dini

Health
10 Kebiasaan yang Memicu Penyakit Ginjal

10 Kebiasaan yang Memicu Penyakit Ginjal

Health
Apa Saja Penyebab Penyakit Ginjal?

Apa Saja Penyebab Penyakit Ginjal?

Health
Ciri-ciri Kanker Usus Besar Tahap Lanjut

Ciri-ciri Kanker Usus Besar Tahap Lanjut

Health
Bagaimana Pengobatan Rumahan Saraf Kejepit?

Bagaimana Pengobatan Rumahan Saraf Kejepit?

Health
Ciri-ciri Kanker Usus Besar Tahap Awal

Ciri-ciri Kanker Usus Besar Tahap Awal

Health
10 Gejala Kanker Usus Stadium Awal yang Pantang Disepelekan

10 Gejala Kanker Usus Stadium Awal yang Pantang Disepelekan

Health
Seberapa Mengerikan Penyakit Diabetes?

Seberapa Mengerikan Penyakit Diabetes?

Health
Sindrom Steven-Johnson

Sindrom Steven-Johnson

Penyakit
komentar di artikel lainnya
Close Ads X
Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.