Kompas.com - 13/08/2013, 15:35 WIB
|
EditorLusia Kus Anna

Kompas.com — Induksi atau tindakan merangsang persalinan dianggap bisa meningkatkan risiko autisme pada bayi, terutama jika bayi berjenis kelamin laki-laki.

Mengingat risiko tersebut para ahli menyarankan agar tenaga medis berusaha menghindari tindakan induksi jika alasan medisnya tak terlalu kuat.

Ada beberapa metode induksi antara lain merangsang kontraksi atau menggunakan obat-obatan mengandung oksitosin untuk mempercepat persalinan.

Kaitan antara autisme dan induksi persalinan ini muncul dalam penelitian yang menganalisis data kelahiran lebih dari 625 ribu bayi di North Carolina antara tahun 1990 dan 1998.

Pada periode penelitian tersebut 1,3 persen anak laki-laki dan 0,4 persen anak wanita didiagnosis autisme. Secara spesifik, anak laki-laki yang saat lahir ibunya mendapat induksi, risikonya menderita autis 35 persen lebih besar. Sementara pada anak wanita, hanya kelahiran dengan augmentasi (pemberian oksitosin) yang meningkatkan risiko autis.

Tetap perlu ditegaskan penelitian ini tidak membuktikan induksi dan penambahan hormon (augmentasi) saat kelahiran menyebabkan autis. Studi hanya membuktikan adanya hubungan antarkeduanya.

Riset yang dimuat dalam JAMA Pediatrics ini termasuk riset yang menggunakan data paling besar terkait risiko autis, faktor yang memengaruhi, dan bagaimana faktor tersebut memengaruhi. Penelitian juga tidak mengetahui seberapa banyak induksi atau oksitosin memengaruhi risiko autis.

"Risikonya memang signifikan tapi tidak terlalu. Wanita harus mengerti alasan dilakukannya induksi dan augmetasi. Bila tidak dilakukan, risiko yang dihadapi lebih besar, dibanding peningkatan risiko autis," kata Gregory.

Pakar lain juga menyebutkan dari hasil riset ini sebenarnya peningkatan risiko autis relatif kecil dibanding keuntungan yang diperoleh bila melakukan induksi dan augmentasi.

Para peneliti rencananya akan melakukan studi lanjutan mengenai hal ini. "Kita tidak tahu obat, kecepatan, atau kondisi kelahiran yang menyebabkan autis. Namun, riset ini menjadi satu keping puzzle autis yang berhasil dibuka," kata Michael Rosanoff dari Autism Speaks.

Dapatkan update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari Kompas.com. Mari bergabung di Grup Telegram "Kompas.com News Update", caranya klik link https://t.me/kompascomupdate, kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.


Video Pilihan

Rekomendasi untuk anda
26th

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar dan menangkan e-voucher untuk 90 pemenang!

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar di artikel lainnya
Close Ads
Verifikasi akun KG Media ID
Verifikasi akun KG Media ID

Periksa kembali dan lengkapi data dirimu.

Data dirimu akan digunakan untuk verifikasi akun ketika kamu membutuhkan bantuan atau ketika ditemukan aktivitas tidak biasa pada akunmu.

Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.